Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Menjenguk Kakek


__ADS_3

Untuk pertama kalinya aku merasa bahagia bisa berkumpul dengan mereka. Dilah membantin.


"Ma, masakan Mama enak." Vino mengacungkan tangannya. Lamunan Dilah tiba-tiba buyar.


"Enak? Benarkah?" Dilah tersenyum lebar.


"Iya enak Ma. Vino enggak bohong." Vino menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah habiskan ya, Sayang."


Setelah Vino selesai sarapan, Dilah memberikan Vino bekal makanan spasial untuk Vino.


"Ma, Mama ya yang antar Vino ke sekolah," Vino menahan senyumnya.


"Iya Vino, ayo berangkat."


Dilah menghantar Vino ke sekolah. Saat tiba di sekolah, semua mata terteju pada Vino dan Dilah. Terutama teman-teman yang pernah mengejek Vino.


"Vino, kalau di sekolah jangan nakal. Dengarkan nasihat dari Bapak dan Ibu guru. Terus bekal makanannya dihabisin."


"Siap, Ma!" Vino memberi hormat kemudian Vino mencium tangan Dilah_ibunya. Dilah membalasnya dengan ciumam di pipi Vino.


Jadi seperti ini rasanya jadi seorang ibu? Rasanya sangat menyenangkan, Vino benar-benar membuatku bahagia.


Potongan-potongan kesalahan berputar di kepala Dilah. Rasanya sangat sesak mengingat masala lalu, tingkah laku sendiri yang telah menyakiti Ali dan Vino.

__ADS_1


Aku akan menebus semua kesalahanku, memjadi ibu yang baik untuk Vino dan menjadi istri yang berbakti untuk Ali.


***


Akhir pekan, Dilah mendapat informasi mengenai Menir ayahnya. Menir dikabarkan jatuh sakit. Dilah mengajak keluarga untuk menjenguk Menir sekaligus untuk minta maaf atas kesalahannya dulu.


Dilah membuka pintu kamar Menir. Menir menoleh kearah satu titik dimana ada putrinya berada.


"Ayah," ucap Dilah tercekat karena iba melihat kondisi ayahnya.


"Putriku," ujar Menir dengan suara pelan namun dapat didengar oleh istri.


"Putrimu?" istri Menir heran mendengar ucapan suaminya. Istri Menir menolah kearah dimana Menir menoleh.


"Siapa kau?" tanya istri Menir.


Seketika istri Menir begitu syok mendengar keterangan Dilah barusan.


"Mengapa kau bisa punya anak dari orang lain? Kau pernah bilang waktu itu kau masih lajang sebelum menikah denganku. Terus mengapa dia bisa menjadi putrimu?" istri Menir berteriak dan menangis sejadi-jadi.


"Tolong maafkan aku.. Dia memang putriku. Ini semua salahku," Menir mencoba memegang tangan istrinya tapi dengan cepat istrinya menepis tangan Menir dan keluar.


"Ini semua salahku," Menir memukul tempat tidur dengan tangan kirinya.


"Ayah," Dilah berlari dan memeluk Menir yang sedang berbaring.

__ADS_1


"Aku minta maaf atas semua kesalahanku," ucap Dilah terisak tangis.


"Kau tak bersalah, Nak. Ayah lah yang salah. Semua ini terjadi gara-gara ayah. Kau membenci laki-laki itu karena tindakan ayah dulu. Seharusnya ayah yang meminta maaf bukan kamu, Nak." Menir meneteskan air matanya. Baru kali ini ini dia merasa sangat rapuh. Tangis mereka pecah dan saling maaf memaafkan dan sampai akhirnya Vino berlari mendekati Dilah.


"Ma, ini siapa?" tanya Vino penasaran.


Dilah menyeka air matanya dan memaksakan senyumnya. "Ini kakeknya Vino," Dilah tersenyum lebar


"Ini kakeknya Vino? Beneran ini kakeknya Vino, Ma?" Vino berbinar, ia tak menyangka selain memiliki ibu ternyata Vino juga memiliki kakek.


"Iya Sayang," Dilah mengangguk.


"Kakek," ucap Vino sambil memegang tangan Menir.


"Kakek cepat sembuh ya biar main bareng Vino," Vino berbicara dengan polosnya.


"Ini putramu, Nak? Dia sudah sebesar ini?" Menir masih tidak percaya dulu ia bertemu Vino pada saat Vino masih kecil sekali. Sekarang Vino sudah berusia 5 tahun lebih.


"Iya," Dilah menjawab singkat dan anggukan kepala.


"Dia sangat mirip denganmu, benar-benar mirip," Menir tersenyum dan ia berusaha menggerakkan tangan untuk mengelus kepala Vino.


"Doa kan ya Vino. Semoga kakek cepat sembuh," ujar Menir dengan tersenyum bahagia. Rasa sakit yang ia derita tiba-tiba hilang ketika melihat anak dan cucunya.


"Vino jangan ganggu kakek, kakek mau istirahat," ucap Ali sambil memegang tangan Vino untuk membawanya keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Ali, aku ingin melihat dengan puas cucu sebelum aku-"


"Huss! Ayah jangan bicara seperti itu," Dilah memotong ucapan Menir.


__ADS_2