
"Mama suka kan hadiah Vino?" tanya Vino pada ibunya. Dilah mengangguk sambil menyeka air mata yang ada di sudut matanya.
"Suka Sayang, mama suka hadiah dari Vino," Dilah memeluk tubuh Vino dengan penuh kasih sayang.
Dilah semakin sadar bahwa anak laki-laki dan perempuan sama saja. Anak merupakan anugrah terindah dari Tuhan..
"Mama pakai ya mahkotanya?" Vino mengangguk, kemudian Dilah memakainya.
"Mama Vino kaya princes." ucap Vino gembira. Wajah Dilah bersemu merah. Ia jadi malu-malu kucing.
"Vino beli mahkotanya pakai uang jajan Vino sendiri buat Mama. Vino ingat kata Papa dulu bahwa Mama Vino cantik seperti Princess. Jadi Vino beliin Mama mahkota biar jadi princess sungguhan." Vino tersenyum lembut.
Aaa.. Mau nangis jadinya. Dilah membatin.
"Sini Sayang, mama mau cium Vino," Dilah menghujani Vino dengan ciuman kasih sanyang.
"Apakah aku kehilangan momentum?" tanya Ali sambil menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya. Vino dan Dilah melihat kearah sumber suara.
"Memangnya Vino aja yang bisa buat kejutan?" Ali menaikkan alisnya. Vino memeluk ibunya. Ia tak ingin kalah dari ayahnya.
"Vino minggir, sekarang giliran Papa."
__ADS_1
Dengan kesal Vino mengalah dan menyingkir kemudian ia mendekati Bibi Susi yang masih terkagum-kagum.
Ali berjongkok memberi sebuah kotak kecil berisi cincin.
"Sayang, selama ini aku belum pernah memberimu apapun padamu. Sekarang aku ingin memberimu cincin ini untuk mengikatmu selama-lamanya dan menjadi istriku satu-satunya. Aku sangat mencintaimu." Ali membuka kotak kecil tersebut dan terlihat dengan jelas cincin yang semakin bersinar terkena sinar matahari.
Dilah begitu takjub, ia tak menyadari akan mendapatkan kejutan seperti ini dari Vino dan suaminya. Dilah mengangguk yakin. Bahkan mengucapkan sepatah kata pun ia tak sanggup. Dilah hanya meneteskan air mata bahagia. Ali berdiri, memakaikan cincin tersebut di jari manis istrinya.
Dilah memeluk Ali cukup erat dan ia membisikkan sesuatu di telinga Ali, "Aku juga sangat mencintaimu."
Ya Tuhan, terima kasih, terima kasih, terima kasih. Aku pikir akan mendapatkan cintanya hanya sebuah mimpi. Tapi, ternyata kuasamu sangat besar, ini benar-benar nyata.
"Bos galak, I Love you," ucap Ali sambil meledek usil.
"Suamiku, I Love you to," Dilah mengulum senyumnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
***
Beberapa bulan kemudian, Dilah muntah-muntah dan sedikit pusing. Berulang kali ia ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya.
"Mama kenapa?" Vino khawatir sambil melihat ibunya yang masih muntah.
__ADS_1
"Pa, Mama muntah," Vino berteriak sangkin paniknya. Vino begitu khawatir pada ibunya.
Ali langsung datang, Ia memijat tengkuk istrinya dengan lembut. Ketika Dilah mulai berhenti muntah. Dilah menahan senyumnya. Wajah Vino dan Ali masih terlihat panik dan khawatir.
"Ma, mama kenapa?" tanya Vino khawatir.
"Iya, kamu kenapa Sayang?" tanya Ali yang ikut khawatir.
Dilah menahan senyumnya, ia meringis seolah-olah sedang tersakiti.
"Mama, kenapa?" Vino memeluk separuh tubuh ibunya sambil mendongak.
"Iya, kamu kenapa kami sangat khawatir," Ali mendesak agar Dilah mau berbicara.
"Semalam aku sudah cek ke dokter dan hasilnya positif." Dilah tersenyum sumringah. Ali benar-benar terkejut, ia langsung memeluk Dilah dengan erat.
"Pa, maksudnya apa?" Vino menarik-narik tangan ayahnya. Ali melepaskan pelukannya dan berjongkok mendekati Vino.
"Sebentar lagi Vino akan punya adik," ucap Ali sambil tersenyum, Vino meloncat senang.
"Benaran Ma, Vino akan punya adik?"
__ADS_1
"Iya Sayang," Dilah mengusap rambut Vino dan mencium puncak kepala putranya itu.