Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Bertemu Mama


__ADS_3

"Ali, miliki aku seutuhnya,"


Ali mengernyitkan dahinya. Ia benar-benar bingung.


"Lakukan karena kau mencintaiku bukan seperti dulu, kau melakukannya karena terpaksa."


Tidak tahu siapa yang memulai duluan. Tiba-tiba saja mereka berbaur menjadi satu.


Dilah meletakkan kepalanya diatas dada Ali. Ia mengukir dada Ali dengan jari telunjuknya. Sedangkan Ali membelai rambut Dilah dan sesekali ia mengecupnya.


"Sayang, jangan pernah berniat untuk meninggalkanku," ucap Dilah lirih.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Ali sambil mencium rambut Dilah.


"Aku semakin cinta padamu,"


Tiba-tiba ponsel Ali berdering. Ali bangkit dan mengambil ponselnya.


"Ali, kau dimana? Putramu tidak bisa tidur karena kau belum pulang juga," Hannum mengomel.


"Ibu, tolong bujuk Vino agar tidur mungkin aku tidak bisa pulang,"


"Kenapa?" tanya Hannum.


"Aku bersama istriku di kamar,"


"Ya ampun, ya sudah selesaikan semuanya!" Hannum menutup telepon.

__ADS_1


"Kenapa?" Dilah mengerutkan dahinya.


"Vino tidak bisa tidur karena aku belum pulang."


"Ya ampun Vino. Maaffin Mama ya Sayang." Dilah berkata seolah-olah Vino ada di dekatnya.


***


Keesokan harinya, setelah usai mandi bersama dan sarapan. Ali mengajak Dilah untuk ke rumahnya. Tujuannya untuk mempertemukan Vino dengan ibunya. Sekaligus menjawab pertanyaan Vino selama ini mengenai ibunya.


Tok! Tok! Tok!


Ali mengetuk pintu, seperti biasa Vino langsung lari untuk membuka pintu.


"Papa," ucapnya berbinar kemudian wajah berbinarnya tiba-tiba berubah menjadi wajah yang penuh kemarahaan.


Ali menggaruk kepalanya. Ia merasa sangat lucu melihat wajah Vino yang awalnya berbinar tiba-tiba berubah menjadi marah.


"Vino, Papa bawa Mamanya Vino." Ali memberikan kejutan.


"Papa serius? Papa enggak bohong," ucap Vino yang belum yakin.


"Enggak, Papa enggak berbohong,"


"Mana Pa?" Vino memicingkan matanya.


Dilah keluar dari mobil. Vino langsung girang.

__ADS_1


Tapi kata Papa, Papa bawa Mama. Tapi kok tante itu yang datang? Batin Vino.


"Tante," panggil Vino berbinar. Ia sangat merindukan Dilah sampai-sampai Vino sakit demam sangkin rindunya.


"Bukan Tante tapi Mamanya Vino," Ali menunjuk Dilah yang datang mendekati mereka.


"Mama? Mamanya Vino? Beneran Pa Tante itu Mamanya Vino?" Vino menitikan air matanya. Sudah sejak lama Vino mengingkan seorang ibu yang hadir di hidupnya. Ali mengangguk membuat Vino berbinar senang.


"Vino," Dilah berjongkok menghentangkan kedua tangannya. Vino langsung berlari untuk memeluk Dilah ibunya.


"Jadi beneran Tante ini Mamanya Vino?"


"Iya Sayang, jangan panggil Tante lagi tapi panggil Mama," Dilah mempererat pelukannya.


"Jadi Papa enggak bohong. Vino pikir Papa berbohong biar Vino senang. Tapi, ternyata Papa enggak bohong, Vino masih punya Mama." air mata Vino jatuh dengan deras membasahi pipinya. Seketika tangis bahagia pecah.


"Vino, maaffin Mama ya. Selama ini Mama ninggalin Vino. Mama jahat sama Vino," Dilah menangis haru. Ia begitu menyesali perbuatannya.


"Mama Vino enggak jahat. Siapa yang bilang Mama Vino jahat? Papa bilang Mama Vino baik. Mama Vino baik enggak jahat. Mama, jangan bilang lagi kalau Mama jahat. Mama enggak jahat. Mama Vino enggak ja...hat." Vino menggelengkan kepalanya. Ia tak setuju bila Dilah mengatakan bahwa Dilah mama yang jahat untuk Vino.


Ali, terima kasih telah mendidik anak kita. Sekalipun Vino tidak pernah melihat kesalahan pada diriku. Vino tak pernah membenciku padahal aku telah membuangnya. Batin Dilah.


Vino mengusap air mata Dilah yang menetes.


"Mama jangan menangis. Vino udah maaffin Mama. Vino sayang sama Mama." Vino mencium pipi Dilah.


"Mama banyak salah sama Vino. Mama menangis karena bahagia. Vino maaffin Mama."

__ADS_1


__ADS_2