Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Lomba 1


__ADS_3

Untuk kedua kalinya Ali melihat Vino ceria pergi ke sekolah. Yang pertama, pada saat Vino masuk untuk pertama kali ke sekolah. Dan yang kedua, hari ini karena lomba. Selebihnya, Vino terlihat tidak senang ke sekolah. Alasannya, teman-teman Vino mengejek Vino tidak punya ibu. Sehingga Vino tidak suka pergi ke sekolah.


"Ini bekal makanan untuk Vino, nanti dihabisin ya," Hannum memasukkan bekal makanan dan minuman ke dalam tas Vino.


"Terima kasih Nek," Vino mencium punggung tangan neneknya.


"Ayo Vino, kita berangkat!" Ali menstarter motornya.


"Ibu, Ali dan Vino jalan ya," Ali pamit pada ibunya.


"Hati-hati di jalan," Hannum melambaikan tangan.


Ali menghantar Vino seperti biasanya. Vino mengoceh selama di atas motor. Ali menjawab setiap apa yang Vino tanyakan. Tak terasa, Ali dan Vino sampai di sekolah TK.


"Wah.. Vino sudah sampai," Dilah mengintip dari dalam mobil.


Ponsel Dilah berbunyi, Dilah mengangkatnya.


"Halo Nona, Nona tidak masuk kantor hari ini?" tanya Luci yang sekarang menjadi tangan kanan Dilah.


"Tidak Luci, mohon handle perusahaan ya!"


"Berarti Nona tidak meeting hari ini. Nona akan bertemu pengusaha hebat hari ini. Kalau Nona membatalkan meeting ini, Nona akan kehilangan ratusan juta rupiah."

__ADS_1


Aku rela kehilangan ratusan juta rupiah dari pada kehilangan Vino.


"Tidak apa-apa, Luci." Dilah menutup telepon.


"Vino, yang semangat lombanya," ucap Ali mengepal tangan untuk memberikan semangat.


"Iya Pa, Papa doain Vino ya!" Vino tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang masih kecil.


"Iya Vino," Ali mencium kening Vino. Kemudian ia melihat situasi. Ali masih penasaran siapa orang yang akan menemani Vino.


"Papa, Vino masuk ya," Vino mengambil tangan ayahnya kemudian ia mencium tangan tersebut.


Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Vino mencari sosok wanita yang akan menemaninya. Tapi, wanita itu belum muncul juga.


"Apa Tante itu bohongin Vino?" Vino menunduk dan berjalan lunglai.


"Tante," Vino berbalik arah dan menghamburkan pelukannya pada Dilah. Dilah berjongkok untuk menyeimbangkan tinggi badan.


"Aku pikir Tante enggak datang," Vino hampir saja mengeluarkan air mata.


"Tante sudah janji, jadi Tante akan menepati janji,"


"Hem.." Vino menarik tangan Dilah untuk masuk ke kelasnya.

__ADS_1


"Eh.. Vino, pelan-pelan,"


"Tante duduk di sini, di dekat mamanya teman-teman Vino," Vino menunjuk kursi yang telah disediakan untuk orang tua murid.


Dilah duduk agak canggung. Kanan dan kirinya terdapat orang tua murid yang akan menyaksikan anak mereka berlomba.


"Vino! Vino!" panggil anak kecil sebaya Vino.


"Apa Daffa?" tanya Vino dengan senyumnya.


"Itu Mamanya Vino ya?" tanya Daffa, anak yang sedikit nakal. Inilah orang yang bilang Vino tidak punya ibu.


"Bukan," Vino menggelengkan kepalanya. Dilah menjadi sedih mendengar jawaban Vino, seandainya ia punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Tapi Tante itu mirip Vino," ucap Daffa sambil menunjuk Dilah dengan tangannya yang munggil. Kemudian Daffa pergi ke tempat ibunya.


"Tante, itu teman Vino yang bilang Vino enggak punya Mama," Vino menitikan air matanya.


"Vino jangan menanggis," Dilah menjadi iba melihat Vino. Ia peluk Vino agar Vino berhenti menanggis. Dilah menjadi tersentuh, gara-gara dia putranya merasa sedih.


"Vino.. Vino.. Vino selalu diejek sama teman-teman Vino. Apa benar Tante, Mama Vino sudah meninggal? Karena teman Vino ada yang enggak punya Mama karena Mamanya sudah meninggal." jelas Vino dengan polosnya.


"Stt! Jangan katakan seperti itu lagi." Dilah menahan air matanya.

__ADS_1


Mama masih hidup Sayang, Mama masih hidup. Mama Vino tepat berada dipelukan Vino. Lagi-lagi Dilah hanya bisa membatin, ia tidak cukup berani untuk mengatakannya.


"Bagaimana kalau Tante menikah sama Papanya Vino, biar Vino punya Mama." Vino tersenyum lebar.


__ADS_2