
Ali yang sedang bersih-bersih menjadi heran melihat pria paruh baya yang sombong tidak berkutik diusir oleh petugas keamanan kantor. Ali tidak menghiraukan atau mencaritahu siapa sebenarnya pria paruh baya itu. Ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Ketika ia sedang memgepel lantai ia mendengar para karyawan bergosip.
"Aku tidak menyangka bahwa Nona Dilah sekejam itu," ucap Dini pada rekan-rekannya.
"Iya, itu tadi ayahnya. Mengapa dia tidak menghormatinya?" tanya Sella.
"Kau tidak tahu tentang masa lalu Bos kita?" tanya Gina heran. Pasalnya Sella cukup lama bekerja di perusahaan ini.
"Aku tidak tahu, ya mungkin... Mungkin karena aku malas mencari tahu," ucap Sella ringan.
"Apapun kesalahan ayahnya dia tetap ayah yang harus dihormati," ucap Dini yang direspon anggukan para pendengar.
"Kau dengar itu?" Fina menepuk bahu Ali, Ali terkejut karena ketahuan mendengar gosip para karyawan kantor.
"Iy.. Iya Nona Fina," Ali menunduk hormat.
"Kau adalah suaminya, kau berhak untuk mendidik istrimu. Tidak peduli walaupun statusmu di mata Dilah adalah suami sewaan. Tetap saja kau adalah suaminya." ucap Fina menjelaskan.
"Iya Nona," Ali menangguk.
"Pergi masuk keruangannya dan katakan bahwa tindakannya itu tidak benar!" perintah Fina dengan serius.
Ali meremas tangannya, ia juga takut sekali pada istrinya. Dilah bukan hanya benci dengan ayahnya tapi semua laki-laki yang ada di dunia ini termasuk dirinya.
"Ayo, tunggu apa lagi?" Fina menatap tajam pada Ali.
Ali agak ragu menuju ruangan Dilah. Ia memegang dadanya dan menghembuskan nafas perlahan.
Tok! Tok! Tok!
Ali mengetuk pintu, Dilah yang masih menangis langsung menghapus air matanya.
"Permisi Nona," ucap Ali dengan lembut.
"Apakah aku menyuruhmu untuk datang ke sini?" tanya Dilah terisak.
__ADS_1
Ali menggelengkan kepalanya, ia masuk keruangan dengan perlahan.
"Mau apa kau kesini?"
"Aku.. Aku.." Ali masih gugup.
Ali, kau harus bisa mengatakannya. Entah apa jadinya dirimu ini dibuatnya terserah dia, tapi setidaknya kau sudah memberinya nasihat. Kau suaminya, kau harus mendidiknya! Ali
"Apa, cepat katakan!" Dilah mendesak Ali untuk berbicara.
"Aku ingin meluruskan sedikit, Nona. Tindakanmu tadi tidak benar." Ali menunduk menghadap lantai. Ia takut melihat amarah Dilah.
"Kau! Kau! Kau berani menasihatiku?" Dilah membentak.
"Bukan begitu Nona, aku hanya melaksanakan kewajibanku sebagai suami Anda."
"Kau hanya suami sewaan, kau tidak berhak ikut campur dengan urusanku!" Dilah memalingkan wajahnya dari Ali dan mengerjakan sesuatu di komputernya.
"Aku, aku hanya ingin meluruskanya Nona. Tindakanmu tadi tidak benar. Tidak sepantasnya anak memperlakukan ayahnya seperti itu."
"Baiklah, jika keberadaanku di sini menganggumu. Aku.. Aku.. Aku akan lanjut kerja."
Ali keluar ruangan Dilah, "Dia hanya marah sedikit padaku, tidak banyak." ucap Ali menghela nafas.
"Hei! Hei! Hei!" Gina menepuk bahu Ali kemudian Gina menaikkan alisnya.
"Ada apa, Gina?" Ali menjadi kikuk, ia pikir Dilah yang melakukannya.
"Untuk apa kau berada di ruangan Nona Dilah?" tanya Gina penasaran.
"Itu bukan urusanmu!"
Ali pergi menjauh dari Gina, ia lanjut menyelesaikan pekerjaannya.
"Huh! Dia kalau di depan istrinya menciut tapi kalau di depanku sok jual mahal," gerutu Gina
__ADS_1
***
Malam hari, Dilah berbaring di tempat tidur. Ia masih merasakan rasa sakit atas tindakannya tadi. Bagaimana pun Menir adalah ayahnya. Tidak semua yang dilakukan Menir jahat padanya. Ada beberapa kejadian menyenangkan yang dilakukan Menir padanya.
"Em.. Nona sudah tidur?" Ali basa-basi, tujuannya ia ingin berbicara banyak pada Dilah.
"Kau lihat mataku masih terbuka lebar, itu pertanda apa?" tanya Dilah membentak.
"Pertanda Nona belum tidur," Ali menjawab polos dan menggaruk kepalanya.
Ali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Selamat malam, Nona?" Ali tersenyum pada Dilah dan membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Dilah.
Dilah masih sangat sedih, entah mengapa ia ingin memeluk Ali. Dilah ingat waktu kecil, ketika Dilah sedang sedih, ia selalu memeluk ibunya. Tanpa pikir panjang dan menghilangkan gengsinya ia langsung memeluk Ali dari belakang.
"Aku akan membayar atas tindakanku ini," ucap Dilah berbisik akan tetapi masih terkesan galak.
Ya Tuhan, dia memelukku? Dia memelukku? Apakah aku sedang bermimpi? Iya, iya aku sedang bermimpi. Kata orang kalau ingin membuktikan itu mimpi atau tidak cubit saja tangan sendiri, Ali membatin.
Ali mencubit tangannya, "Waduh... Sakit!" pekik Ali kesakitan akibat cubitan sendiri.
"Kau kenapa? Kau tidak suka aku peluk?" Dilah kesal, ia cemberut masam.
Ali membalikkan tubuhnya, "Bukan begitu Nona, aku.. Aku.. aku berpikir bahwa aku sedang bermimpi, ternyata aku tidak sedang bermimpi," Ali tertawa pelan.
"Aku hanya ingin memelukmu, ketika aku sedang rapuh aku selalu memeluk ibu, tapi ibu tidak ada disini jadi aku berpikir untuk memelukmu," ucap Dilah datar.
"Maafkan aku Nona, aku tidak tahu kalau itu tadi nyata," Ali menahan malu.
"Bolehkah aku memelukmu? Aku akan membayarmu besok atas tindakanku ini," ujar Dilah, ia masih meneteskan air mata.
"Dengan senang hati Nona, dengan senang hati." Ali tersenyum tipis.
Tidak usah dibayar juga aku bersedia 24 jam untuk dipeluk olehmu, Nona. Batin Ali.
__ADS_1