
Setelah pertemuan waktu itu, Ali tidak berani untuk datang lagi. Ia takut Dilah akan marah padanya. Ali juga tidak ingin merepotkan Ibu Susi. Lagi pula Vino sudah membaik.
Kini usia Vino sudah memasuki 3 tahun. Vino sudah lancar berbicara.
"Papa, mama Vino seperti apa?"
Pertanyaan Vino ini hampir membuat Ali menangis. Setelah sekian lama tidak bertemu dengan Dilah. Ia diingatkan kembali oleh putranya.
Aku harus menyembunyikan identitas Nona Dilah dari Vino, aku takut ketika dia tiba-tiba bertemu dengan Nona Dilah dan mengucapkan kata "Mama" layaknya anak bertemu mamanya. Lalu Nona Dilah tidak mengakuinya sebagai anak. Itu akan membuat hati kecil Vino sakit, Ali membatin.
"Mama Vino cantik, sangat cantik dan mamanya Vino baik. Emm.. Wajahnya... Wajahnya seperti princes yang membuat orang-orang terpanah melihatnya."
"Lalu mama Vino berada di mana?"
Pertanyaan selanjutnya dari Vino membuat Ali mengeluarkan air mata. Tapi dengan cepat ia menyeka air matanya dan tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
"Mama Vino berada di rumah besar. Besar sekali, hanya orang-orang tertentu yang bisa ke sana," ucap Ali seperti berdogeng. Vino bertepuk tangan riang, ia membayangkan bahwa ibunya adalah seorang putri raja. Vino masih kecil, ia dapat berimajinasi mengenai ibunya.
"Kenapa kita tidak tinggal disana?"
Lagi-lagi Vino membuat ayahnya sedih.Tapi Vino tidak salah, ia masih kecil. Keingintahuannya sangat besar mengenai asal usul keluarganya.
"Karena... Karena.. Vino mau main bola tidak? Kita main bola yuk di taman," ujar Ali untuk mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Mau Pa," Vino menarik-narik tangan Ali agar ayahnya segera bangkit dan bermain bola bersamanya.
Mengapa sudah 3 tahun tidak bertemu, Nona Dilah belum menggugat cerai aku. Kenapa? Apakah dia mencintaiku?
Hahaha, Ali tidak mungkin Nona Dilah mencintaimu. pikiran Ali membantah harapannya.
"Ayo Vino, tendang bolanya." Vino menendang bola sekuat tenaga tapi hasilnya bola tersebut bergulir sedikit. Kekuatan anak kecil memang tidak bisa diseimbangkan dengan orang dewasa.
"Vino, ambil bolanya dari Papa," Ali memainkan bola di kakinya. Vino berlari-lari kecil untuk mengambil bola dari kaki ayahnya.
"Papa curang, Vino enggak bisa ambil bolanya," Vino kesal dan duduk di bangku taman. Ia melipat tangannya dan memalingkan wajahnya.
"Vino, marah sama Papa?" tanya Ali sambil duduk disebelah Vino.
"Vino mau Papa belikan eskrim?" Ali mencoba membujuk putranya.
"Mau Pa, rasa coklat ya, Pa," ucap Vino girang,
"Tunggu sebentar ya."
Ali pergi sebentar untuk membeli dua eskrim. Satu untuknya dan satunya lagi untuk Vino putranya.
"Ini dia eskrim kesukaan Vino," Ali memberikan Vino eskrim tersebut. Vino tersenyum melihat ayahnya, Ali membalas Vino dengan senyumannya.
__ADS_1
"Terima kasih, Papa," ucap Vino tersenyum sambil memakan eskrim.
"Sama-sama, Vino." Ali mengelus kepala putranya.
Dilah mengendarai mobil, ia tak sengaja melihat Ali duduk bersama seorang anak kecil.
"Itu Ali," sekian lama Dilah tidak bertemu dengan Ali. Hatinya bergemuruh, ia ingin turun dan mengatakan sejujurnya tentang perasaannya. Tapi ia tidak berani, harga diri tinggi mengurungkan niatnya.
"Papa, makan eskrimnya berantakan," tawa Vino melihat ayahnya makan eskrim. Ali sengaja makan eskrimnya berantakan. Itu dilakukan Ali agar Vino bisa tertawa dan tidak marah lagi padanya.
"Bersihin dong, Vino!"
Ali menunduk agar tangan munggil Vino dapat menjangkau wajahnya. Vino membersihkan bekas eskrim di wajah ayahnya sambil tertawa geli.
Setelah memakan eskrim, Ali mengangkat Vino dan menaikkan Vino di bahunya. Vino duduk di bahu ayahnya.
"Vino jadi superman," ucap Vino sambil mengulurkan satu tangannya seperti mengikuti gaya superman.
"Kita akan mengalahkan kejahatan," ucap Ali menimpali.
Dilah yang berada di mobil tertawa melihat kejenakaan Ali dan Vino. Ia ingin sekali memeluk mereka berdua.
"Dilah, tetap pada pendirianmu, kau membenci laki-laki. Sampai kapanpun kau tidak boleh jatuh cinta pada laki-laki."
__ADS_1