Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Rumah Sakit


__ADS_3

Wajah Ali begitu pucat dan matanya memerah. Ia takut terjadi sesuatu pada Vino.


"Ini semua salahmu," ucap Ali ketika melihat Dilah yang ikut menunggu perkembangan kondisi Vino.


"Jika terjadi sesuatu pada putraku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Aku tidak akan pernah mencintaimu lagi!" mata Ali memerah, kesedihan tidak dapat ia bendung lagi. Bulir-bulir bening jatuh di pipinya. Rasa sedih dan marah berkecambuk di hatinya. Ketakutan kehilangan Vino terbayang dipikirannya.


"Maafkan aku. Aku.. Aku tidak sengaja, aku tidak sengaja menabraknya," ucap Dilah gugup, ia mengeluarkan air mata penyesalan.


"Kau harus tahu. Cuma Vino alasan aku bertahan. Cuma Vino alasan aku ikhlas menerima semuanya. Cuma Vino yang bisa membuatku tersenyum. Vino yang membuat aku melupakan rasa sakit yang telah kau berikan." Ali mengeluarkan semua isi hatinya. Semua yang ia pendam selama ini. Semua yang ia tutup-tutupi dari Dilah.


"Permisi Pak! Siapa keluarga dari Vino?" tanya dokter tersebut keluar dari ruangan.


"Saya Pak! Saya ayahnya Vino," Ali menghapus air matanya.


"Begini Pak, Vino kehilangan banyak darah. Ia membutuhkan transfusi darah,"


"Apa golongan darah putra saya, Dok?" tanya Ali, ia siap mendonorkan darah untuk putranya.


"B Pak, tapi maaf sebelumnya, Pak. Stok golongan darah B tidak ada. Baru saja digunakan untuk pasien lain," jelas dokter.

__ADS_1


Duar!


Ali terduduk lemas, golongan darah yang ia miliki adalah golongan darah O sedangkan Vino membutuhkan donor darah dari orang yang bergolongan darah B. Dilah terkejut mendengar penjelasan dokter, golongan darah miliknya sama dengan Vino.


"Secepatnya Vino harus mendapatkan donor darah," ucap dokter tersebut.


Ali menatap Dilah dengan intens. Cuma Dilah satu-satunya orang yang dapat menolong Vino.


"Aku tidak akan mendonorkan darah untuk laki-laki," ucap Dilah sebelum Ali meminta tolong padanya.


Ali menjadi murka, kepalanya memanas atas ucapan istrinya.


"Vino putramu, Nona! Vino putramu!" ucap Ali sambil menyeka air matanya. Ali ingin Dilah sadar bahwa Vino adalah anaknya.


"Vino selalu mempertanyakan tentang dirimu. Vino selalu merindukanmu, tapi apa? Kau menabraknya dan kau tidak mau menolongnya. Kau ibu yang kejam Nona. Kau ibu yang kejam untuk Vino." Ali menangis haru. Ali tidak habis pikir istrinya masih tidak punya perasaan.


Dilah menangis mendengar penjelasan Ali. Baru kali ini hatinya tersentuh.


"Jika kau tidak mau menolong Vino tidak apa-apa. Aku akan mencari orang yang akan mendonorkan darah untuknya. Jangan pikir kau bisa selamat dariku Nona, aku akan memperkarakanmu ke jalur hukum."

__ADS_1


"Aku mau menolong Vino. Aku bersedia untuk mendonorkan darah untuknya,"


Mendengar ucapan Dilah, Ali menghela nafas lega. Ia menghapus air matanya dengan cepat.


***


"Semuanya berjalan dengan lancar, Vino akan segera siuman. Kalian boleh menjenguknya," ujar dokter tersebut dan berlalu pergi.


Ali langsung masuk ke kamar Vino. Ia memegang tangan Vino dan menciumi tangan munggil tersebut. Tangan Vino mengalami pergerakan. Ali menghapus air matanya dan tersenyum kearah Vino.


"Papa," ucap Vino dengan suara pelan.


"Iya, Papa disini," Ali menempelkan tangan anaknya di pipinya kemudian ia mengusap rambut putranya dengan lembut.


Vino memicingkan matanya. Ia menangkap sosok wanita cantik berada di kamarnya.


"Papa, itu Mama ya, Pa?" wajah Vino ceria melihat Dilah yang berdiri. Dilah hanya diam ia masih malu dan gengsi untuk mengatakan kebenarannya.


"Vino, jangan pikirkan itu. Yang penting Vino sehat," ucap Ali mengalihkan pembicaraannya. Ali takut hati Vino tersakiti kalau Dilah tidak mengakuinya.

__ADS_1


"Jawab dulu pertanyaan Vino, itu Mama Vino kan, Pa?"


__ADS_2