
"Vino, lombanya sudah mau dimulai." ucap Ibu Novita sambil memegang bahu Vino.
Vino menoleh kearah Ibu Novita,
"Sudah mau dimulai ya, Bu?"
"Iya, Vino." Ibu Novita mengangguk.
Vino menuju kursi dan meja tempat yang telah ditentukan untuk Vino.
"Eh, ini bukannya Nona Dilah Wiranata? Iya.. Iya.. Iya, tidak salah lagi." Ibu Novita berbinar dan hampir salah tingkah.
"Iya, saya Dilah Wiranata, kenapa, Bu?" tanya Dilah memaksakan senyumnya.
"Nona, kami merasa terhomat atas kedatangan Anda," ucap Ibu Novita mengulurkan tangan.
"Hehehe. Bu, perlakukan saya sama seperti orang tua murid lainnya," Dilah berjabat tangan dengan Ibu Novita.
"Jadi Nona Dilah sudah punya anak. Anak Nona yang mana?" tanya Ibu Novita antusias.
"Vino anak saya, Bu." Dilah memelankan suaranya.
Ibu Novita terkejut sekali, ia tidak menyangka Vino yang pendiam dan suka menyendiri memiliki ibu yang cukup terpandang di mata masyarakat.
"Tapi, Ibu jangan bilang dulu pada Vino. Ibu Janji kan, tidak akan mengatakan hal ini pada Vino. Biar saya saja yang menjelaskan pada Vino."
"Baik Nona," Ibu Novita tersenyum sekilas.
Pembukaan perlombaan diisi dengan tari-tarian tradisional yang dibawakan anak-anak TK. Kemudian, kata sambutan dari Ibu Mawar selaku panitia. Setelah itu, acara yang tunggu-tunggu lomba menggambar dan mewarnai.
Dilah begitu berdebar, ia seperti peserta yang ikut lomba. Tangannya seketika dingin dan tubuhnya mengeluarkan keringat.
__ADS_1
Kalau Vino kalah, aku harus mengatakan apa?
Dilah membatin, ia takut Vino kalah dan sedih. Ia menyiapkan kata-kata indah dan motivasi jika nantinya Vino kalah dalam lomba setidaknya Vino tidak berkecil hati.
Dua jam sudah berlalu. Para peserta diminta untuk mengumpulkan gambar mereka.
"Pengumuman pemenang lomba setelah jam istirahat," ucap guru yang merangkap menjadi pembawa acara.
Jam istirahat, Vino mengajak Dilah duduk di dekat taman bermain sekolah. Di sana terdapat perosotan, jungkat-jungkit, ayunan, dan lain sebagainya. Dilah dan Vino duduk di bangku yang terbuat dari bambu, bangku tersebut berwarna-warni dan sangat mencolok.
"Vino makan dulu ya, Tante," Vino membuka tasnya dan mengambil bekal makanan serta air minum.
Dilah memperhatikan Vino yang sedang makan. Tidak tahu mengapa bibirnya tersenyum melihat Vino.
"Tante mau?" Vino mengambil satu suapan.
"Tidak, Vino makan saja," Dilah menggelengkan kepalanya.
Krucuk! Krucuk!
"Tante lapar kan? Tante, harus makan. Sini biar Vino suapin," Vino mengambil satu suapan.
"Eh.. Nanti Vino merasa kurang," rasanya Dilah malu sekali harus makan bekal anak sendiri.
"Enggak kok Tante, Nenek Vino kebanyakan bawain makanannya. Karena itu, Vino berbagi sama Tante." Vino nyengir membuat Dilah menahan tawa.
"Suapain Tante, Vino." ucap Dilah tidak tahu malu. Kesempatan tidak datang dua kali, pikirnya.
Jam istirahat berlalu, sekarang waktunya pengumuman pemenang. Vino duduk dipangkuan Dilah. Vino mengenggam tangan Dilah sambil berdoa. Vino berharap besar akan kemenangan ini.
"Juara tiga diraih oleh, Sarah Maharani dengan gambar pemandangan pantai," suara tepuk tangan menyambut Sarah.
__ADS_1
"Selamat ya, Sarah." ucap Ibu Mawar.
Vino menghela nafas, Vino berpikir bahwa ia yang akan menjadi juara ketiga.
Vino menoleh kebelakang melihat Dilah dengan wajah sedihnya, "Tante, Vino enggak ada harapan," ucapnya pilu.
"Sabar Vino, mana tahu Vino juara dua." Dilah menyemangati agar putranya tidak patah semangat.
"Juara dua diraih oleh, Mutia Cahyani dengan gambar senja." sorak dan tepuk tangan menyambut bocah munggil bernama Mutia Cahyani.
"Tante, sudah enggak ada harapan buat Vino," Vino ingin lari keluar untuk meninggalkan acara tersebut. Vino merasa ia tidak mungkin memenangkan lomba. Dilah menarik Vino agar tetap duduk dipangkuannya.
"Tante, lepasin Vino!" Vino meronta-ronta di pangkuan Dilah.
"Juara pertama diraih oleh... Alvino Wiranata Abriadi dengan gambar keluarga harmonis,"
Pembawa acara menunjukkan gambar Vino yang membuat para penonton takjub. Pada Gambar tersebut terdapat anak kecil yang bermain dengan mobil-mobilan, serta terdapat gambar seorang laki-laki dewasa yang mengusap kepala anak kecil tersebut dan sosok wanita dewasa yang duduk mengamati mereka.
"Vino menang Tante, Vino menang?" Vino turun dari pangkuan Dilah dan meloncat girang. Tepuk tangan menyambut Vino yang maju ke depan.
Nama itu...? Alvino Wiranata Abriadi. Mengapa Ali memberi nama belakangku pada Vino? Batin Dilah.
Setelah pembagian hadiah, acara pun usai dilaksanakan.
"Vino akan kasih tahu Papa. Papa pasti senang lihat Vino menang," Vino menoleh ke arah Dilah yang sedang menyetir. Dilah tersenyum menanggapi ucapan putranya.
"Tante antar Vino sampai sini saja ya,"
"Kenapa sampai sini? Tante enggak mau ke rumah Vino? Tante enggak mau Vino kenalin sama nenek Vino?" Vino menunduk sedih.
"Bukan begitu, Tante ada urusan penting," Dilah mengusap kepala putranya dengan lembut.
__ADS_1
"Hem.." Vino turun dari mobil dengan menunduk sedih.
Vino, maaffin Mama ya, Sayang. Mama takut bertemu nenek kamu. Mama takut nenek kamu marah sama Mama. Untuk kesekian kalinya Dilah hanya bisa membatin.