Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Poto Pengobat Rindu


__ADS_3

Pertemuan dengan Ali membuat Fina sadar bahwa cinta Ali tidak ada untuknya tapi hanya untuk Dilah sahabatnya. Tapi setidaknya batin Fina lega, Ali memaafkannya. Jadi Fina bisa tidur tenang sekarang dan tak perlu membayangkan segala kesalahannya. Sebab, kesalahannya telah dimaafkan.


Jam pulang kerja, Ali sudah sangat senang. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan buah hatinya. Pria jagoan yang menjadi kekuatan untuknya. Siapa lagi kalau bukan Vino putranya, bayi munggil yang lucu dan menggemaskan. Ali mengucapkan salam, ia langsung melihat Vino yang masih digendongan ibunya.


"Ali, mandi dulu ya, Bu. Setelah ini ibu bisa istirahat." ucap Ali sambil melepaskan tasnya.


"Tidak apa-apa, Ali. Ibu senang sekali merawat Vino. Kamu baru pulang kerja, apa tidak capek harus mengganti ibu mengurusnya?" sebenarnya Hannum lelah mengurus Vino. Karena sudah tua, ia mudah kelelahan. Namun, ia membuang rasa lelah itu demi kebaikan Vino cucunya.


"Tidak apa-apa, Bu. Ali kan ayahnya. Seharusnya Ali yang merawatnya." Ali tersenyum sekilas sambil mengambil handuk kemudian ia masuk ke kamar mandi.


Setelah usai mandi, Ali menggendong Vino. Ia berbicara banyak pada Vino. Ia bermain dengan Vino. Sesekali ia mencium Vino. Ali mencurahkan kasih sayang pada Vino. Sebisa mungkin Ali memberikan kasih sayang lebih agar Vino tidak kekurangan kasih sayang.


Malam hari, tepatnya tengah malam. Vino menangis cukup keras membuat sang ayah terbangun dari tidurnya.


"Vino, jangan menangis!" Ali menimang Vino sambil berusaha meredakan tangisan Vino.


Hannum masuk ke kamar anaknya. Ia ikut bangun karena cucunya menangis.

__ADS_1


"Vino menangis? Kenapa?"


"Tidak tahu, Bu," Ali menimang Vino, ia sebisa mungkin untuk meredakan tangisan Vino.


"Mungkin dia haus Ali, buatkan susu untuknya!" pinta Hannum.


Ali memberikan Vino pada Hannum. Ia membuatkan susu untuk Vino. Bergegas Ali membawa susu tersebut lalu memberikannya pada Vino.


"Vino, mengapa menolak susu ini?" Ali melihat sedih pada susu tersebut.


"Mungkin dia tidak mau susu, Ali. Tapi dia rindu dengan ibunya. Sehingga dia menangis seperti itu." Hannum menebak sesuai perasaannya sebagai seorang ibu.


"Bu, bagaimana caranya aku mendatangkan Nona Dilah malam-malam begini?" tanya Ali resah.


Hannum angkat bahu, "Ali, ibu ngantuk. Kau pikirkan bagaimana cara agar anakmu itu tidak menangis," Hannum berjalan menuju kamarnya.


"Kamu rindu Mama ya, Nak? Sama, papa juga. Tapi papa bisa apa? Tidak mungkin kan papa menghadirkan mama malam-malam begini?"

__ADS_1


Ali berusaha menenangkan putranya yang masih saja menangis. Ali mencari cara agar Vino tidak menangis.


"Lihat ini, Vino! Ini Mamanya Vino."


Ali menunjukkan poto-poto Dilah. Waktu itu Ali mencetak poto istrinya diam-diam. Ia tahu cepat atau lambat ia akan diusir oleh istrinya. Jadi untuk mengobati rasa rindu pada Dilah, ia mencetak poto-poto tersebut. Ternyata poto-poto tersebut ada gunanya juga untuk Vino.




Seketika Vino tersenyum. Tangisannya mulai hilang.


"Cantik bukan? Ini Mamanya Vino," ucap Ali terharu sambil menunjukkan poto-poto selanjutnya.


Vino tersenyum, ia seakan-akan bertemu dengan ibunya. Rasa rindu Vino mulai terobati begitu juga dengan Ali.


"Sudah, kan? Vino tidur ya?" Ali meletakkan Vino di tempat tidur kemudian ia menunggu Vino sampai benar-benar tertidur.

__ADS_1


__ADS_2