
Vino menaiki sepeda sedangkan Ali mendorong sepeda tersebut.
"Papa lepas ya Vino?" Ali ancang-ancang melepas dorongannya.
"Iya Pa, lepas!" Vino menggayuh sepedanya.
"Yee.. Berhasil," Vino menggayuh sepedanya sambil tertawa senang. Ali duduk di bangku mengamati Vino yang sedang bermain sepeda.
Dilah ternyata memata-matai mereka. Dilah tersenyum melihat putranya yang terlihat ceria.
"Hei," Fina menepuk bahu Dilah lembut.
"Fina," pekik Dilah kemudian ia menutup mulutnya agar Ali tidak mendengar.
Dilah melihat Fina dengan heran. Fina menggendong anak bayi yang begitu menggemaskan.
"Aku kasihan melihat kau yang masih egois," Fina memutar bola matanya.
"Apa maksudmu?"
"Kau sudah jatuh cinta kan dengan Papanya Vino?"
Dilah menggigit bibirnya untuk menyembunyikan perasaannya.
__ADS_1
"Nona Dilah Wiranata, wanita muda paling kaya dan sukses. Kau tahu suami yang kau bilang berwajah pas-pasan, pria bodo, dan lainnya ternyata dia menolak aku,"
"Menolakmu?" Dilah menyipitkan matanya.
"Iya, aku yang cantik ini di tolak olehnya." jawab Fina ringan.
"Aku merasa bersalah atas tersiksanya Ali. Aku menawarkan diri untuk menjadi istri kedua untuknya. Aku ingin Vino mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Aku ingin menjadi ibu pengganti untuknya. Tapi kau tahu apa tanggapan Ali?"
Dilah diam menunggu jawaban dari apa yang Fina tanyakan.
"Dia menolakku, dia tidak mau menikah lagi karena dia tidak ingin seperti ayahmu. Dia menjaga perasaanmu selama ini. Dia ingin kau mengakui Vino putramu. Tapi sampai sekarang kau masih tidak mengakui Vino. Kau seperti orang lain untuk Vino padahal kau adalah ibunya," Fina mengeluarkan nasihatnya. Sudah lama Fina tidak mengeluarkan semuanya.
"Sudahlah! Aku lelah menjelaskan pada dirimu yang hatinya sudah seperti batu. Oh ya ini putraku, dia sangat tampan seperti Papanya. Aku sudah menikah dan punya anak laki-laki. Aku kasihan melihatmu Dilah, kau kehilangan masa-masa kecil Vino saat bersamamu. Aku tidak akan sepertimu," jelas Fina.
"Aku pamit ya Dilah mantan sahabatku. Kau pikirkan kata-kataku itu," Fina pergi meninggalkan Dilah yang hanya hening.
Dilah mencerna kata-kata Fina. Kata-kata Fina ada benarnya juga. Dilah sudah mencintai Ali. Tapi, gengsi dan harga dirinya membuat ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya.
Dilah kembali mengamati Vino dan Ali yang sedang bermain.
"Tante," Vino memergoki Dilah yang sedang mengamati.
Dilah mendadak gugup. Ia berkeringat dingin. Dilah agak canggung, ia melambaikan tangan untuk menutupi rasa canggungnya.
__ADS_1
Ali menoleh kearah Dilah yang sedang melambaikan tangan. Ali terkejut, mengapa seorang Dilah Wiranata ada di sini?
Vino mendatangi Dilah. Vino menarik tangan Dilah perlahan.
"Vino udah pandai naik sepeda Tante," ucap Vino dengan polosnya. Vino pamer kemampuannya.
"Hem.. Vino hebat," Dilah mengusap kepala putranya.
"Tante duduk di sini," Vino menarik tangan Dilah untuk duduk di sebelah ayahnya.
Vino bermain mobil-mobilan meninggalkan ruang untuk Dilah dan Ali. Ali dan Dilah tidak saling pandang. Mereka hanya duduk berdampingan tapi tidak ada suara diantara mereka. Hening sesaat sampai Vino mengatakan.
"Papa, temenan dong sama Tante. Tantenya jangan di cuekin, Pa." ucap Vino dengan polosnya.
"Hai," Ali melambaikan tangannya dengan canggung.
"Iya," Dilah menunduk malu.
Ali, kau harus kuat dan tegas sekarang. Kau bukan Ali yang dulu. Suami penurut yang rela melakukan apa saja agar dia bahagia. Sekarang kau harus pura-pura tidak mencintainya. Agar dia tidak menginjak-injakmu seperti dulu. Batin Ali.
"Aku berbicara padamu karena putraku. Aku duduk di sebelahmu karena putraku. Jika tidak ada Vino di sini aku sudah ingin pergi sekarang."
"Dia juga putra--" Dilah tidak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1