
Jisya berjalan tergopoh-gopoh untuk menemui Menir.
"Tuan, Anda boleh masuk, dan berhentilah membuat kekacauan!" ujar Jisya menyindir.
"Baik, mana ada CEO yang menolak bertemu denganku," ujar Menir sombong. Kesembongan Menir tidak ditanggapi oleh pegawai Dilah, mereka malah jijik melihat Menir.
Setelah masuk ke perusahaan, Menir menjadi terkejut. Pasalnya, ia melihat semua karyawan perusahaan One Stars mayoritasnya adalah perempuan dan ia belum bertemu karyawan laki-laki untuk pertama kali masuk.
"Perusahaan macam apa ini? Semua pegawainya perempuan? Apa hebatnya perusahaan ini?" tanya Menir sambil berjalan untuk menuju ruangan CEO One Star.
Menir menghentikan langkahnya ketika melihat Ali. Walaupun ia tidak kenal dengan Ali tapi ia begitu penasaran, mengapa hanya Ali karyawan laki-laki di perusahaan tersebut?
"Hei, petugas cleaning service!" ucap Menir memanggil Ali.
"Saya Tuan?" tanya Ali sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kau," Menir menunjuk Ali.
Ali datang dengan membawa sapu yang ia pegang.
"Mengapa hanya kau karyawan laki-laki di perusahaan ini?" tanya Menir heran.
Ali menggaruk kepalanya, ia bingung ingin menjawab apa pada Menir.
"Itu karena dia adalah suami bos kami Tuan," ucap Luci menjawab pertanyaan Menir walaupun ia tidak ditanya.
__ADS_1
"Cih! Apa dia tidak bisa mencari suami yang lebih kaya dan berkelas," ucap Menir menghina.
"Jangan mengurusi kehidupan pribadi Nona kami Tuan, cepatlah temui Nona, sebelum ia berubah pikiran untuk tidak bertemu dengan Anda." Luci sangat geram melihat Menir yang memandang melalui status sosial saja. Padahal semua orang sama derajatnya.
Menir menjadi kesal, ia masuk lift. Ketika sudah dilantai tiga, ia langsung menuju keruangan Dilah.
"Permisi!" ucap Menir berpura-pura sopan.
Dilah tidak mengucapkan sesuatu, ia lebih memilih untuk diam saja. Dilah duduk membelakangi Menir.
Tidak mendapat respons jawaban, Menir memberanikan diri untuk masuk. Ketika masuk, ia terbelalak melihat foto Yulia dan putrinya terpajang di ruangan tersebut.
"Siapa kau? Mengapa kau curang sekali dalam memenangkan tander?" tanya Menir kesal.
"Curang itu biasa dalam dunia bisnis," tawa Dilah memenuhi ruangan.
Wajah Dilah yang begitu cantik, membuat Menir tergoda olehnya. Menir tersenyum menggoda pada putrinya sendiri.
"Nona, Anda tidak perlu securang itu, jika kau ingin perusahaanmu bertambah maju, perusahaan MWM siap akan investasi ke perusahaan Anda, Nona," ucap Menir menggoda sambil mengedipkan matanya berulang kali. Ia genit terhadap putrinya sendiri.
Sudah gila ya dia? Sifat genitnya itu membuatku jijik.
"Aku tidak butuh investasi dari perusahaanmu, Menir." ujar Dilah dengan galak.
Mengapa setiap wanita cantik sulit sekali di taklukkan? Batin Menir.
__ADS_1
"Nona... Nona! Aku punya penawaran bagus untukmu," Menir duduk di hadapan Dilah tanpa dipersilahkan duduk.
"Penawaran apa?" tanya Dilah dengan judesnya.
"Jika Nona menjadi kekasihku, aku akan memberikan banyak uang untukmu, kau tidak perlu curang lagi dalam berbisnis," ujar Menir tanpa rasa malu dengan usianya.
Cih, bahkan dia tidak mengenali wajahku.
Dilah mengebrak meja, "Aku sudah punya suami!" ujar Dilah geram.
"Tidak apa Nona, kita cuma berpacaran, bukan menikah," Menir tanpa putus asa terus berusaha untuk mendapatkan wanita yang ada dihadapannya. Tanpa mencari tahu dulu siapa wanita yang ada dihadapannya tersebut.
"Aku jijik melihat pria seperti dirimu, Menir. Kau ingin menjalin hubungan spasial denganku tanpa mengetahui siapa aku. Kau bahkan tidak tahu siapa namaku," Dilah menggeram kesal.
"Baiklah, baiklah. Wanita secantik dirimu memang sulit sekali untuk dimiliki."
Bagaimana cleaning service itu mendapatkan hatinya ya? Menir melamun sejenak kemudian ia tersadar.
"Oh ya, siapa Namamu, Nona?" tanya Menir dengan kedipan mata genitnya membuat Dilah semakin jijik.
"Aku... Aku adalah..." Dilah berdiri dari kursi kepemimpinannya.
"Aku adalah Dilah Wiranata anak dari Menir Wiranata. Aku adalah anak yang kau terlantarkan," sambung Dilah dengan geram.
"Dilah? Kau Dilah? putriku. Apakah benar itu kau, Nak?" tanya Menir heran.
__ADS_1