Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Target


__ADS_3

Ali mendongak, ia begitu terkejut atas ucapan Dilah barusan. Apakah aku benar-benar mengingau tadi?


Ali menggaruk kepalanya, ia tidak berani mengucapkan kata-kata apapun pada Dilah.


"Ingat ya! Jangan mimpi untuk mendapatkan cintaku."


Dilah beranjak untuk masuk ke kamar, ia tidak menghabiskan makanan yang berada di piringnya. Ali menatap sedih pada makanan tersebut.


Ini salahku, seharusnya aku tidak tersenyum melihatnya. Kesal Ali dalam hati.


Ali mengambil piring Dilah yang masih banyak tersisa makanan.


"Sayang jika tidak dimakan, hitung-hitung ini adalah ciuman tidak langsung," gumam Ali.


Setelah usai makan, Ali masuk ke kamar. Ketika ia ingin naik ke tempat tidur. Dilah membuka matanya dan menatap Ali dengan sorot mata tajam.


"Kau tidur di sofa!" Dilah menunjuk sofa dengan galak.


Ali membatalkan niatnya untuk naik ke tempat tidur. Ia berjalan kearah sofa yang berada di kamar.


"Nona, aku dengar jika ingin cepat punya anak. Sepasang suami istri harus sering berdekatan," ucap Ali sambil merebahkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


"Kau kemari! Tidurlah di sini bersamaku!" perintah Dilah dengan suara meninggi.


Ali bangkit dari sofa, "Tapi... Tapi... Nona, kau menyuruhku untuk tidur di sini," Ali menunjuk sofa di dekatnya.


"Kau ingin mati? Cepat kesini!" seru Dilah dengan bentakan.


Ali menahan senyumnya, sebenarnya ia bahagia sekali. Walaupun itu suara ancaman, yang pasti ia bisa terus dekat dengan Dilah.


"Aku... Aku bisa tidur di sofa, Nona," ucap Ali menunjuk sofa dengan ekor matanya.


Dilah menatap Ali dengan tatapan kemarahan. Berulang kali ia mendengus kesal.


***


Dilah duduk di kursi kepemimpinannya dengan Fina yang duduk di hadapannya.


"Dilah, ada satu pertanyaan yang sampai sekarang belum aku tanyakan padamu," ujar Fina menatap Dilah serius.


"Apa Fina?" suara Dilah sudah lembut tidak seperti semalam.


"Mengapa kau ambisius sekali ingin cepat punya anak?" tanya Fina sambil menopang dagu.

__ADS_1


"Usiaku sekarang 24 tahun dan sebentar lagi usiaku akan menginjak 25 tahun. Ibuku melahirkanku di usianya yang ke 25 tahun. Jadi aku ingin seperti ibuku yang melahirkan anak perempuan di usia 25 tahun. Lagi pula aku tidak punya siapa-siapa lagi selain ayah. Ayahku meninggalkanku. Jika aku punya anak perempuan, jadi aku tidak hidup sendiri di dunia ini. Aku punya penerus. Jika aku punya anak, aku tidak kesepian lagi seperti ini." Dilah menjelaskan.


"Oh... Jadi begitu?" ucap Fina tersenyum bersahabat.


"Iya," jawab Dilah singkat.


"Jadi targetmu, kau harus segera hamil secepatnya, bukan begitu kah?"


"Iya benar begitu, aku akan sangat berterima kasih kepada laki-laki payah itu jika dia berhasil mencapai targetku," ujar Dilah tersenyum.


"Kau masih saja menyebutnya dengan panggilan-panggilan seperti itu, dia itu suamimu Dilah, dia jauh lebih kau hormati sekarang."


"Fina... Fina... Kau sudah lupa? Dia itu hanya suami sewaan. Dia itu alat yang membantuku untuk memiliki anak," ujar Dilah menjelaskan.


"Jangan menyesal jika suatu saat dia meninggalkanmu," ujar Fina memperingatkan.


"Aku tidak akan menyesal, setelah aku punya anak dia akan kubuang," ujar Dilah dengan angkuhnya.


Fina memutar bola matanya, ia berdiri dan beranjak keluar dari ruangan Dilah atasannya sekaligus sahabatnya. Kemudian, ia masuk ke ruangannya sendiri.


Ya Tuhan, maafkan kesalahanku. Tidak seharusnya aku memberi solusi agar Ali menikahi sahabatku. Pasti Ali tertekan batinnya. Seharusnya aku tidak memberikan solusi itu. Jika waktu bisa diputar kembali, maka aku yang akan meminjamkan Ali uang waktu itu untuk pengobatan ibunya. Batin Fina menyesali kesalahannya. Fina menangkupkan kepalanya diatas meja.

__ADS_1


__ADS_2