Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Noda Lipstik


__ADS_3

Cepat-cepat Dilah mendorong Ali. Fina yang membelakangi Dilah dan Ali berbalik arah kemudian ia tersenyum usil pada Dilah.


"Apa maksud senyumanmu itu, Fina?" tanya Dilah kesal.


"Apakah wanita pembenci semua pria ini sudah mulai jatuh cinta?" Fina berjalan mendekati Dilah dengan memegang berkas yang ada di tangannya.


"Aku masih benci dengan semua pria, yang kau lihat tadi itu adalah bayaran untuknya,"


"Bayaran? Maksudnya?" Fina mengerutkan dahinya.


"Semalam aku memeluknya, dia tidak mau di bayar dengan uang." Dilah menunjuk Ali yang sedang menunduk.


"Oh begitu..." Fina tersenyum usil.


Dilah malas melihat Fina, ia mengalihkan pandangan kearah Ali.


"Ini tisu, bersihkan wajahmu dari noda lipstik itu!" Dilah memberikan tisu pada Ali tapi Fina usil. Ia mengambil tisu dari tangan Dilah.


"Ali, jangan dihapus. Itu adalah bukti cinta bosmu pada dirimu," ujar Fina tertawa usil.


"Fina!" Dilah menggeram kesal.


"Cepat bersihkan!" Dilah kembali memberikan tisu pada Ali. Fina usil ingin mengambil.


"Jangan membuatku kesal, Fina. Aku tidak mau orang tahu aku telah menciumnya," ujar Dilah dengan galak.

__ADS_1


Fina menahan tawa, ia meletakkan berkas yang ia pegang di meja Dilah.


"Jangan lupa tanda tangan!" Fina berbalik arah dan keluar dari ruangan sahabatnya.


"Nona, apakah aku boleh keluar?" tanya Ali tanpa melihat kearah Dilah.


"Noda lipstik itu belum hilang dengan sempurna," ujar Dilah dengan galak.


Ali menggosok wajahnya dengan tisu agar noda tersebut hilang.


"Apakah sudah bersih?" Ali mendongak memperlihatkan pipinya pada Dilah.


"Sudah, ingat ya jangan memberitahu siapapun aku telah menciummu, jika kau memberitahu aku akan membuatmu tidak tenang," ancaman Dilah.


Di perusahaan MWM, Menir duduk dengan memegang dahinya. Ia benar-benar pusing mengenai pemasukan perusahaan yang menipis.


"Dilah, kau memang benar-benar keterlaluan." gumam Menir sambil mengetik pada komputernya.


"Kau belum tahu siapa ayahmu ini, aku akan membalas atas ulahmu itu yang telah mempermalukanku di depan karyawanmu," ujar Menir kesal, ia memundurkan kursinya. Ia bersadar pada sandaran kursi dan menaikkan kakinya di meja.


"Permisi, Tuan!" ucap sekretaris Menir.


"Iya masuk!" Menir masih pada posisinya.


"Apakah Tuan mantap ingin menyerang perusahaan One Stars?" tanya sekretaris Menir.

__ADS_1


"Iya, tapi tidak sekarang," Menir tersenyum licik.


"Tapi Tuan, itu adalah perusahaan putri Anda,"


"Aku tidak peduli, jika kekayaan putriku tidak memberikan manfaat padaku malah justru menjadi pesaing perusahaanku, maka aku akan memusnahkannya," Menir tertawa jahat membuat sekrestaris Menir menciut.


Sekretaris Menir keluar dari ruangan, dengan cepat ia menelepon Fina. Fina telah membayar sekretaris Menir untuk tujuan penyelidikan.


"Halo Nona Fina," suara Rangga diujung telepon.


"Iya, ada laporan apa?" tanya Fina antusias.


"Benar apa yang Nona Dilah katakan, ayahnya benar-benar ingin memusnahkan perusahaan One Stars," ucap Rangga memberi laporan.


"Apa strategi Menir?" tanya Fina penasaran.


"Belum tahu pasti Nona, tapi Anda dan Nona Dilah harus berjaga-jaga. Mungkin saja fitnah atau sabotase, intinya kalian berhati-hati. Aku juga akan mencegah semua ulah Menir disini


" Rangga menjelaskan.


"Baik, tetap infornasikan perkembangannya pada kami," Fina menutup teleponnya.


"Benar, apa yang dikatakan Dilah, Menir memang jahat, demi uang dia mau menghancurkan perusahaan anak sendiri," gumam Fina.


Fina kembali keruangan Dilah untuk membahas masalah ini pada Dilah. Setelah mendengar penjelasan Fina, rasa benci Dilah pada Menir semakin bertambah.

__ADS_1


__ADS_2