
Bagaimana cara aku menjelaskannya? Batin Dilah bingung.
"Saya dan suami saya saling mencintai, jadi saya menerima semua kekurangannya. Lagi pula jika mementingkan harta. Harta saya juga sudah cukup untuk kami berdua." Dilah berkilah.
Seandainya apa yang Nona katakan itu adalah kebenaran. Pasti aku akan merasa sangat bahagia. Ali
"Oh begitu," Ibu Mega sudah malas mengobrol dengan Dilah. Gagal sudah rencana Ibu Mega untuk bertambah kaya.
Ibu Mega membawa Eldo anaknya untuk pulang ke rumahnya.
"Dengar ya, Ali, kau jangan besar kepala atas ucapanku tadi! Kau adalah suami sewaan, tidak mungkin aku jatuh cinta sama sesuatu yang kusewa," ujar Dilah menghardik.
"Aku mengerti Nona, aku sangat mengerti posisiku." Ali keluar ruangan.
Ya Tuhan, rasanya sangat sakit sekali, batin Ali.
Ali kembali meneruskan pekerjaannya. Ia masih merasakan sedih. Hatinya tersayat mendengar ucapan Dilah tadi. Tapi, rasa cinta pada Dilah membuatnya kuat. Entah mengapa Ali begitu mencintai Dilah. Sudah banyak sekali Dilah menyakitinya tapi rasa cinta Ali tidak pernah hilang.
Eldo menarik tangan Ali yang sedang membersihkan jendela depan kantor.
__ADS_1
"Eldo, lepaskan aku!" ucap Ali kesal. Cengkraman tangan Eldo sangat kuat ketika menarik tangan Ali.
"Kau! Beraninya kau menikahi orang yang ingin aku nikahi," ujar Eldo melotot.
"Kau sedang cari mati ingin menikahi Nona Dilah," Ali tertawa lepas.
"Cari mati? Maksudmu?" tanya Eldo bingung. Ia mencengram kerah baju Ali.
"Nona Dilah benci pada semua laki-laki termasuk diriku," Ali mengatakan kebenaran tentang istrinya pada Eldo. Ia tidak ingin Eldo terjebak dan tersiksa seperti dirinya. Atau mungkin, Ali juga tidak rela istrinya direbut Eldo. Kedua pernyataan itu benar adanya di pikiran Ali.
"Aku tidak percaya, kau jangan berbohong! Dia memperlakukanmu dengan lembut tadi." Eldo semakin erat mencengram kerah baju Ali.
"Aku tahu, kau takut kehilangan istrimu yang cantik dan kaya itu. Eldo melepaskan cengkramannya dan tersenyum menyeringai.
"Ingat ini Ali, aku selalu menang darimu. Dulu aku sama miskinnya denganmu tapi ibuku berhasil sukses dan membawaku pada kesuksesan. Tapi kali ini, sia-sia sudah aku sukses. Kau kaya tanpa berjuang sepertiku. Bahkan kekayaanmu ditaksir lebih dari yang aku punya."
"Aku tidak sekaya yang kau pikirkan," Ali membantah.
"Jangan merendah untuk meroket, Ali. Aku tahu kau sudah sangat bahagia."
__ADS_1
Ali meninggalkan Eldo yang sedang berbicara. Ali malas mendengarkan ucapan Eldo yang tidak berguna menurutnya.
"Oh ya, sekarang aku kalah darimu. Tapi Ali, kau tau aku kan. Aku tidak bisa menerima kekalahan." Eldo memicingkan matanya.
"Hei, kemana dia?" Eldo mengepal tangannya. Eldo sangat kesal, pasalnya Eldo ingin menantang Ali.
"Aku akan mendapatkan yang seharusnya jadi milikku," tekad Eldo.
***
Malam hari, Dilah duduk di sofa dan memainkan ponselnya sambil makan camilan. Sedangkan Ali sibuk dengan membaca koran dan mengerjakan teka teki silang di koran tersebut. Aparteman tersebut terasa sunyi. Ali dan Dilah jarang sekali berbicara satu sama lain. Mereka akan bicara ketika seperlunya saja.
"Jangan curi-curi pandang kearahku," Dilah memergoki Ali yang sedang curi-curi pandang kearahnya.
"Maaf Nona," Ali lanjut mengerjakan teka-teki silang di koran.
Dilah melangkah untuk mendekati Ali. Ia penasaran apa yang sedang Ali lakukan. Dilah melipat tangannya dan melihat apa yang Ali kerjakan.
"Bodoh! Bukan itu jawabannya."
__ADS_1