
"Huam," Ali menguap dan memperhatikan Dilah yang sedang tidur.
Ya Tuhan, aku pikir ketika ia tidak memakai make up ia terlihat jelek, tapi yang kulihat ini dia cantik sekali. Ali
Ali melihat kearah seprai, "Astaga!" ucapnya terkejut. Ia gemetaran melihat ada bercak darah. Apakah Dilah kesakitan? Apakah Ali akan dikuliti seperti ancaman Dilah semalam?
"Huam," Dilah menguap, ia menutup mulutnya lembut.
"Kau sudah bangun?" tanya Dilah sambil menutupi dirinya dengan selimut.
Ali masih membeku, ia benar-benar takut terjadi sesuatu padanya.
"Kau tuli ya? Kau kenapa menatapku seperti itu?" Dilah bertanya dengan judesnya.
"Nona, tidak merasa sakit kan? Nona, baik-baik saja kan? Hidup saya masih panjang kan?" deretan pertanyaan Ali yang membuat Dilah bertambah bingung.
"Iya aku baik-baik saja," ucap Dilah ketus.
"Huh! Selamat!" Ali memegang dadanya sambil menghela nafas.
"Memangnya ada apa?" Dilah masih bingung dengan sikap Ali yang tidak bisa ia tebak.
"Ada.. Ada... Ada darah," ucapnya takut.
"Mana?" Dilah juga terkejut.
__ADS_1
"Ini," Ali menunjukkan dengan takut-takut.
"Sudahlah, aku akan membuang seprai ini. Aku akan beli yang baru," ucap Dilah yang enteng karena ia punya banyak uang.
"Jangan Nona, kan sayang kalau dibuang dicuci juga akan bersih."
"Terserah kau saja, jika ingin membersihkan seprai ini. Sudah cepat mandi dan antar aku ke perusahaan," Dilah menggeram kesal.
"Ba... Baik Nona," Ali dengan cepat masuk ke kamar mandi.
Dia menyeramkan ketika sudah bangun, Ali membatin.
"Cepat mandinya! Aku juga ingin mandi," kata Dilah sambil mengetuk pintu.
"Nona, aku lupa membawa handuk," Ali berteriak dari dalam kamar mandi.
"Dimana kau letakkan handukmu?" tanya Dilah dengan kesal sambil mencari-cari handuk.
"Ah.. Dapat! Sudah tidak usah beri tahu," ucap Dilah berteriak agar Ali mendengarnya dari kamar mandi.
"Nona tutup matamu, aku akan membuka pintu," ucap Ali dari dalam kamar mandi.
"Iya, iya, cepat ambil ini!" ucap Dilah sambil menutup mata.
Ali membuka pintu, "Terima kasih, Nona," ucapnya sambil mengambil handuk dan menutup pintu.
__ADS_1
Setelah memakai handuk, Ali keluar dari kamar mandi. Ia menunduk takut melihat Dilah yang mengepal tinju.
"Cepat minggir!" kata Dilah sambil mendorong Ali.
"Oh ya buatkan aku sarapan!" teriak Dilah dari dalam kamar mandi.
"Baik Nona," ucap Ali sambil memakai baju kemudian, ia menuju dapur.
Ali memasak nasi goreng untuk Dilah. Ia masih bingung dengan sikap Dilah yang suka marah-marah dan membentaknya. Setelah nasi goreng masak. Ia menyajikannya di meja makan.
Dilah keluar dari kamar, wajahnya terlihat manis dengan polesan make up yang tidak terlalu tebal. Ia menarik kursi untuk duduk.
"Nasi goreng ini tidak buruk, masih bisa diterima oleh tenggorokanku," ucap Dilah sambil makan.
"Nona, ada yang ingin aku tanyakan," ucap Ali melembut sambil menunduk.
"Apa! Tanyakan saja!" ujar Dilah dengan ketus.
"Maaf lancang Nona, mengapa karyawan diperusahan Nona tidak ada karyawan laki-laki selain aku?"
Dilah memukul meja dan melotot tajam pada Ali. "Itu karena aku benci dengan laki-laki."
"Berarti Nona membenciku?" Ali gemetaran setelah mengucapkan hal itu.
"Iya aku juga membencimu, aku membenci semua laki-laki di dunia ini," ucap Dilah terdengar menakutkan. Dari matanya terlihat jelas pancaran kebencian.
__ADS_1
"Oh ya, berdoa lah agar anak kita perempuan."