
"Iya itu aku, kenapa kau tidak mengenali aku?" tanya Dilah dengan judes.
"Kau cantik sekali, Nak. Bahkan ayah sampai tidak mengenalimu," Menir mengusap wajahnya. Ia benar-benar malu telah menggoda putri sendiri.
"Iya, itu karena kau tidak pernah melihatku selama ini." Dilah menggeram kesal.
"Maafkan ayah, Nak. Ayah janji akan peduli padamu," Menir berpura-pura sedih dihadapan putrinya. Ia sebenarnya punya maksud tersembunyi. Ada hal yang ingin ia manfaatkan dari kekayaan putrinya.
"Memaafkanmu? Cih, aku tidak sudi." Dilah menunjukkan pancaran sinar kebencian dari matanya.
"Pasti Yulia telah membuatmu benci padaku. Pasti dia telah menghasut dan mencuci otakmu agar benci padaku," ujar Menir memfitnah istrinya.
Dilah bertambah geram, ia mengebrak meja membuat pria yang sudah berumur setengah abad lewat 10 tahun tersebut terkejut.
"Tindakanmu lah yang telah membuatku benci padamu." Dilah melotot tajam pada ayahnya.
"Tenang lah, Nak! Tenang! Tenang! Ayah kesini sebenarnya ingin bertemu ibumu, ayah rindu sekali dengan dia. Sudah lama sekali ayah mencari kalian ternyata kalian berdua telah sesukses ini."
Mungkin dengan cara ini agar Dilah bisa memaafkanku dan aku akan memanfaatkannya. Aku berpura-pura mencari mereka agar Dilah luluh dan iba padaku, batin Menir licik.
"Ayah rindu ibu ya?" tanya Dilah dengan nada lembut.
Akhirnya luluh juga putriku, ternyata mudah sekali membuatnya luluh, Menir membatin.
__ADS_1
"Iya, iya, iya. Ayah juga merindukanmu," Menir tersenyum tipis.
"Bohong! Ayah berbohong! Ayah kemana saat ibuku meninggal? Ayah kemana saat ibuku sakit parah? Ayah kemana...?" Dilah berteriak kemudian ia menangis.
"Ibumu meninggal? Ibumu sudah meninggal, Nak?" bibir Menir bergetar mengucapkan pertanyaannya.
"Iya, ibuku sudah menginggal, ibuku sudah meninggal 7 tahun yang lalu! 7 tahun Ayah! 7 tahun yang lalu...!" Dilah menangis haru di depan ayahnya sambil menunjukkan angka 7 di jarinya.
Menir meneteskan air matanya. Ia tidak tahu sama sekali bahwa istrinya telah lama meninggal.
"Aku bersumpah, Ayah! Aku bersumpah akan membuatmu bangkrut dan menderita sama seperti aku dan ibuku rasakan," Dilah mengacungkan jari telunjuknya seraya bersumpah.
Menir terkejut dengan sumpah anaknya. Ia seperti tidak mengenali putrinya yang ia kenal bersifat lembut, penurut, dan polos. Kini telah berubah sifat menjadi kejam dan membenci.
"Tindakanmu, Ayah! Tindakanmu yang telah membuatku seperti ini! Bahkan hari ini, di depan Ayah, aku tidak akan sudi menyebutmu sebagai Ayah lagi. Kau telah kehilangan hak untuk kupanggil Ayah." Dilah masih geram. Ia duduk di kursi kepemimpinannya untuk meredam amarahnya.
"Dengarkan ayah dulu, Nak. Dengarkan, ayah! Ayah punya alasan sendiri, yang belum kau pahami."
"Sudah cukup! Aku tidak mau mendengar penjelasan atau alasanmu itu, cepat pergi sebelum aku menyeretmu keluar dari kantorku!" Dilah menggepal tinju. Ia benar-benar naik pitam. Rayuan yang dilakukan Menir tidak bergeming untuk Dilah.
Menir masih enggan untuk pergi. Ia ingin meminta maaf. Entah karena menyesal atau dia ingin mengambil manfaat dari putrinya. Entahlah hanya Menir dan Tuhan yang tahu.
"Kalau kubilang pergi, ya pergi!" Dilah berdiri, ia melotot tajam kearah Menir.
__ADS_1
"Ayah tidak bisa pergi jika belum dapat maaf darimu," ucap Menir lirih.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkanmu. Itu tidak akan pernah terjadi!" teriak Dilah membuat Menir merinding.
Dilah mengambil telepon selulernya.
"Halo Jisya,"
"Iya Nona," sahut Jisya.
"Tolong usir si Tua Bangka ini!" ujar Dilah geram namun Menir tidak bergeming. Ia masih betah berada di kantor putrinya.
"Baik, saya dan petugas keamanan lainnya akan mengusirnya."Jisya dan rekannya gerak cepat untuk keruangan Dilah.
Menir yang mendengar ucapan Dilah di telepon langsung berkata,
"Kau tega mengusir ayahmu sendiri?" tanya Menir lirih.
Petugas keamanan kantor telah datang. Tangan Menir langsung dipegang petugas keamaan tersebut.
Dilah memalingkan wajahnya, ia tidak mau melihat menir sedikit pun.
"Tanpa ayah kau tidak ada di dunia ini," ucap Menir selanjutnya.
__ADS_1
"Hei, kalian semua! Usir dia! Kalian mau kupecat?"