
"Ibu," Dilah memanggil Hannum yang sedang sibuk menyiram bunga di taman.
"Eh, Nona." Hannum mematikan selang yang ia gunakan untuk menyiram bunga.
"Ibu, jangan panggil Nona." Dilah tersenyum lembut.
"Maaf, ibu bingung manggil kamu apa? Ibu masih canggung," Hannum tersenyum malu.
"Tidak usah canggung, Bu. Panggil nama aja."
"Em iya.." Hannum mengangguk.
Dilah mengajak Hannum duduk di teras rumah. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan.
"Ibu tidak usah menyiram bunga. Nanti ibu kelelahan, disini ada yang mengurus kebun, Bu." Dilah melarang karena takut Hannum kelelahan.
"Ibu tidak lelah, malah ibu senang menyiram bunga. Ibu suka dengan bunga, lagi pula ibu bingung mau melakukan apa, jadi ya menyiram bunga agar ada kesibukan." Hannum tersenyum malu. Entah mengapa dia masih canggung pada menantunya.
"Ya sudah kalau begitu, Bu. Tapi ibu jangan sampai kelelahan ya," ujar Dilah penuh perhatian.
__ADS_1
"Iya," Hannum mengangguk.
"Ibu, ada yang ingin Dilah tanyakan pada ibu," Dilah menggabungkan kedua ujung jari telunjukknya.
"Iya, apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Begini Bu, selama aku menikah sama anak ibu. Aku belum tau masa lalunya, aku belum tahu tentang Ali," ujar Dilah menahan malu.
"Kamu mau tahu Ali di bagian mana?"
"Hem... Mengapa Ali begitu mencintai aku, Bu. Padahal aku sudah menyakitinya, aku sudah keterlaluan padanya." Dilah berkaca-kaca. Perbuatan dirinya sendiri membuatnya sesak.
"Itu karena dia sama seperti ayahnya. Ayahnya begitu mencintai ibu. Padahal ibu jauh lebih fatal melakukan kesalahan dari pada kamu." Hannum ikut berkaca-kaca.
"Kesalahan fatal? Kalau boleh tahu kenapa, Bu?" Dilah mengerutkan dahinya.
"Ibu pernah selingkuhin ayahnya Ali. Ibu benar-benar tergoda dengan laki-laki yang jauh lebih muda dari ayahnya." Hannum meneteskan air matanya.
"Padahal ayahnya Ali kaya, baik, dan sangat mencintai Ibu." Hannum terisak tangis. Dilah langsung mendekati ibu mertuanya dan mencoba menguatkan Hannum.
__ADS_1
"Lalu laki-laki yang begitu ibu cintai meninggalkan ibu. Dengan tidak tahu malu ibu balik ke ayahnya Ali." Hannum mengatur nafasnya.
"Tapi ibu begitu heran, setelah semua kesalahan yang ibu lakukan. Ayahnya Ali langsung memaafkan ibu. Katanya dia begitu mencintai ibu. Tidak ada wanita lain yang ia lihat selain ibu."
"Ibu, jangan teruskan jika itu membuat ibu sesak."
"Tidak, kamu harus tahu, Nak." Hannum menghela nafasnya.
"Sampai pada akhirnya rumah mewah kami kebakaran. Ayahnya Ali masih menjadi pahlawan untukku dan Ali. Ia menyelamatkan kami dan mengorbankan nyawanya demi ibu dan Ali." Hannum menghela nafas yang tercekat, ia begitu menyesali kesalahannya dulu.
"Kami benar-benar miskin dengan sekejab. Dari harta yang bisa dikatakan tidak akan habis 7 turunan tiba-tiba habis. Keluarga ayahnya Ali merebut semua harta tersebut karena mereka menganggap ibu dan Ali bukan bagian dari keluarga mereka setelah ayahnya Ali pergi." Hannum menangis lagi kali ini tangisannya makin deras dari sebelumnya.
"Ibu benar-benar tidak punya kesempatan untuk menembus keselahan ibu pada ayahnya Ali. Tapi ibu berpikir akan membesarkan Ali sendiri. Mencurahkan kasih sayang pada Ali dan berjanji untuk setia pasa ayahnya Ali. Sampai sekarang setelah kepergiannya. Ibu tidak pernah menikah lagi."
"Kamu beruntung, Nak. Ketika kamu berbuat kesalahan suamimu masih ada dan mau memaafkanmu sedangkan ibu. Ibu tidak punya kesempatan itu. Ketika baru saja ayahnya Ali memaafkan ibu dan besoknya pula ia meninggalkan ibu dan Ali untuk selama-lamanya."
"Satu pesan suami ibu pada Ali dan sampai sekarang selalu Ali terapkan di hidupnya. Ketika itu usia Ali 5 tahun. Ayahnya Ali berpesan pada Ali untuk berkata lembut pada semua wanita dan menghormatinya."
"Jadi kamu jangan pernah meragukan cinta anak ibu karena dia sama seperti ayahnya. Jika sudah jatuh cinta ia tidak akan melihat wanita lain selain orang yang ia cintai."
__ADS_1