Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Rumah Sakit


__ADS_3

"Benar, apa yang kalian duga, Nona Dilah benar-benar hamil. Usia kandungannya sudah memasuki 4 minggu," jelas dokter tersebut.


Dilah dan Fina saling berpelukan sangkin senangnya. Mereka tersenyum cerah.


"Wah... Selamat ya sahabatku, akhirnya kau hamil," Fina melepas pelukannya dan tersenyum lembut.


Semoga anak Dilah perempuan, aamiin. Aku merasa berdosa jika Ali diceraikan hanya karena anaknya laki-laki, batin Fina.


"Kau harus memberi kabar ini pada Ali," ucap Fina selanjutnya.


"Dia di rumah, dia sedang sakit demam, nanti selepas pulang ke kantor aku memberi tahunya."


"Kau meninggalkannya sendiri di rumah?" tanya Fina kesal, baru saja Fina bahagia kini ia sudah kesal lagi akibat tindakan sahabatnya.


"Dia kan laki-laki, dia bisa mengurus dirinya sendiri," jawab Dilah ketus.


Fina memutar bola matanya, "Kau harus segera memberitahunya!" ujar Fina sedikit kesal.


"Iya, iya..." Dilah menurut ucapan Fina.


Sepulang dari rumah sakit, Dilah tidak masuk kantor lagi. Ia meminta Fina untuk mengerjakan pekerjaannya dan menghandle semuanya. Setelah sampai apartemen, Dilah mengetuk pintu. Ali dengan cepat membuka pintu.


"Nona, cepat sekali pulang?" Ali sangat senang, ia pikir kepulangan Dilah karena menghawatirkan keadaannya.

__ADS_1


"Aku ingin memberitahu sesuatu," Dilah memberikan sebuah surat. Wajahnya terlihat datar. Ali berpikir buruk ketika Dilah memberinya surat.


Apakah dia mau menceraikanku? Ali membatin sedih.


Ali membuka surat tersebut dengan bimbang, ia berpikir akan diceraikan karena Dilah belum hamil juga. Tapi ternyata surat tersebut berasal dari rumah sakit. Surat tersebut menyatakan bahwa Dilah positif hamil.


Ali berkaca-kaca, ia tak menyangka sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.


"Nona, apakah aku akan segera menjadi seorang ayah?" tanya Ali berbinar. Dilah mengangguk. Ali menggendong Dilah sangkin senangnya.


"Ali, lepaskan aku!" Dilah memukul pundak Ali.


"Aw.. Aw.." Ali melepaskan Dilah dan menggaruk kepalanya pelan.


"Maaf Nona, sangkin senangnya aku jadi seperti ini," Ali malu sekali atas tindakannya barusan.


Apakah dia sudah mulai perhatian padaku?


"Sudah Nona, suhu tubuhku sudah turun," ujar Ali girang.


"Oh ya Ali, kau jangan bahagia dulu, jika anak ini adalah perempuan aku akan mempertahankan pernikahan kita, tapi jika anak ini laki-laki, aku akan menceraikanmu." Dilah berlalu pergi ke kamarnya.


Ali meneteskan air matanya, di satu sisi ia senang sebentar lagi ia akan punya anak dan menjadi seorang ayah. Tapi di sisi lain, rumah tangganya belum aman. Jika Dilah mengandung anak laki-laki. Ia bisa diceraikan kapanpun istrinya mau. Belum lagi, utang yang belum ia lunasi.

__ADS_1


"Ya Tuhan, semoga anakku cantik seperti ibunya,"


***


Keesokan harinya, Eldo mendatangi Dilah di kantor. Ia memiliki tekad untuk mendapatkan Dilah yang kaya raya. Eldo juga mendapat dukungan dari ibunya.


"Selamat pagi, Nona." ucap Eldo mengetuk pintu.


Dilah geram, mengapa Eldo bisa masuk keruangannya. Tapi, karena ia sedang bahagia hari ini jadi Dilah dapat menahan amarahnya.


"Pagi, silahkan masuk!" ucap Dilah datar.


Eldo tersenyum mengoda kearah Dilah. Ia duduk tanpa dipersilahkan, tapi untung saja Dilah sedang merasa senang hari ini. Kalau tidak, mungkin Eldo bisa ditendang keluar.


"Nona, aku sangat mencintaimu sejak pertemuan pertama kita," ujar Eldo menggoda.


"Lalu?" Dilah menopang dagu melihat Eldo.


"Nona, ceraikan saja Ali. Dia tidak bisa membantumu untuk mengurusi perusahaan. Aku bisa membantumu, aku yakin Ali menikahimu karena harta," jelas Eldo.


Dilah berdiri di depan Eldo, ia melihat Eldo dengan senyuman lembut. Eldo mulai berdebar.


"Eldo, mungkin kau belum tahu tentang diriku dan ibu Mega juga tidak tahu tentang diriku tapi semua karyawanku bahkan suamiku tahu tentang diriku."

__ADS_1


"Apa yang tidak aku dan ibuku ketahui tentang dirimu, Nona?" tanya Eldo penasaran.


"Aku membenci semua laki-laki," Dilah menatap tajam pada Eldo.


__ADS_2