Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Sakit


__ADS_3

"Ali!" teriak Dilah membuat Ali sedikit tertolong.


"Nona Fina, maaf Bos memanggil saya," ucap Ali menunduk dan lanjut jalan keruangan Dilah.


Aku lah yang paling berdosa atas tersiksanya Ali, Tuhan maafkan aku. Fina


"Ya ampun, mengapa lama sekali!" Dilah menjadi geram melihat Ali yang baru sampai.


"Maaf.. Nona, tadi.. Tadi Nona Fina memanggilku, aku.."


"Aku tidak peduli atas alasanmu itu! Cepat bawa kemari tas dan berkas-berkasku itu. Aku sebentar lagi mau rapat," ucap Dilah marah-marah.


Ali meletakkan tas dan berkas Dilah di atas meja dengan takut-takut. Kemudian ia keluar dengan lesu.


"Ya Tuhan, mengapa dia selalu menyakitiku tapi anehnya mengapa aku masih saja mencintainya?" gumam-gumam Ali sambil mengerjakan tugasnya.


"Tidak bisakah dia memperlakukanku seperti suaminya bukan seperti barang sewaan?" hati Ali benar-benar tersayat. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari istrinya. Kapan Dilah bisa jatuh cinta dan merasakan apa yang Ali rasakan?


"Hem... Ali, aku tahu kau sedang bersedih," ucap Fina lembut ketika melihat Ali yang tampak bersedih.


Ali mengubah raut wajahnya menjadi ceria, "Nona Fina, Nona jangan bersamaku disini. Nanti Bos salah paham sama kita," ucap Ali untuk mengalihkan Fina dari rasa penasarannya.

__ADS_1


"Jangan mencoba menutupi segalanya, Ali." ucap Fina agak kesal.


"Nona, aku tidak apa-apa, jangan menghawatirkanku!" Ali tersenyum ceria untuk menutupi rasa sakitnya.


Fina melihat Dilah keluar dari ruangannya membuat Fina langsung pergi menjauhi Ali. Jika Dilah melihat Fina bersama Ali mungkin Dilah akan semakin membenci Ali.


Setelah selesai rapat, jam istirahat kantor tiba. Dilah dan Fina membahas bisnis sebentar untuk menimbang-nimbang keputusan selanjutnya, apakah setuju untuk kerja sama dengan perusahaan GMS atau mungkin tidak. Fina merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menasihati Dilah.


"Hem... Dilah, bolehkah aku memberimu sedikit masukan," ucap Fina terbata-bata.


"Apa?"


"Ini di luar dari bisnis," Fina mencoba menguatkan batinnya untuk menasihati sahabatnya yang keras kepala.


"Kau sudah paham dan tahu aku, kan? Aku benci dengan semua pria. Tidak peduli Ali itu baik atau tidak padaku. Aku membencinya, aku membenci semua pria di muka bumi ini," ucap Dilah menjelaskan fakta tentang dirinya.


Fina menjadi ngilu mendengar perkataan sahabatnya. Ia berpikir betapa tersiksanya Ali, betapa tersakitinya Ali memiliki istri sekejam Dilah.


"Tapi Dilah, Ali benar-benar mencintaimu," ujar Fina untuk menyadarkan sahabatnya.


"Aku sudah tahu itu," ucap Dilah ketus.

__ADS_1


"Sudahlah, aku lelah memberi nasihat padamu. Suatu saat kau akan menyesali perbuatanmu itu dan kau akan kehilangan orang yang paling mencintaimu," Fina menjadi geram.


***


Satu bulan berikutnya, Ali tiba-tiba sakit. Tubuhnya panas dingin. Ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang tebal. Ia mengigil kedinginan. Namun, ia enggan memberitahu keadaannya pada Dilah.


"Kau, mengapa terlihat pucat?" tanya Dilah ketika ia melihat Ali menggigil kedinginan.


"Aku baik-baik saja Nona, apakah Nona ingin makan sesuatu?" tanya Ali sambil menyingkirkan selimut dari tubuhnya. Ia ingin membuat makanan untuk Dilah. Tapi tubuhnya tidak berbohong, Ali merapatkan kedua tangannya di dada, bibirnya bergetar dan ia sedikit bersin.


"Kau terlihat tidak sehat, Ali," Dilah memperhatikan Ali.


"Aku sehat-sehat saja Nona, aku akan membuatkan makan malam untuk kita," Ali melangkah untuk keluar tapi Dilah mencegah Ali keluar dengan tangannya.


Dilah membalikkan posisi tubuh Ali untuk menghadap kearahnya dan ia menempelkan tangannya di dahi Ali.


"Panas," pekiknya.


"Aku tidak apa-apa Nona," Ali tidak ingin Dilah khawatir kepadanya.


"Kau berbaringlah, aku akan membuatkan bubur dan makan malam untuk kita."

__ADS_1


"Nona, tapi.. Tapi aku kan..."


"Aku bilang apa tadi, jangan coba-coba protes," ucap Dilah dengan galak.


__ADS_2