
Ali melihat Vino yang duduk sambil melihat Lucky anak tetangga bermain mobil-mobilan berwarna merah. Ali mendapatkan ide untuk memberikan hadiah ulang tahun Vino mobil-mobilan seperti itu.
"Pasti Vino senang kalau aku belikan mobil-mobilan seperti itu untuk jadi kado di hari ulang tahunnya," gumam-gumam Ali.
Besoknya, Ali membeli mobil-mobilan seperti itu untuk Vino. Berharap Vino semakin ceria dan girang seperti dulu lagi. Ia membungkusnya agar lebih menarik. Tak lupa ia membeli kue ulang tahun untuk Vino.
"Nek, Papa lama sekali pulangnya? Apa Papa lupa hari ulang tahun Vino?" tanya Vino dengan nada sedih. Biasanya Ali pulang jam 6 sore tapi ini sudah jam 7 malam.
"Tunggu sebentar ya, Vino!" ucap Hannum sambil mengusap punggung Vino.
"Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun Vino. Selamat ulang tahun," ucap Ali sambil membawa kue ulang tahun serta di atasnya ada lilin yang berbentuk angka 5 menunjukkan usia Vino yang sekarang.
"Vino, tiup lilinnya," ucap Hannum sambil menunjuk lilin yang masih menyala. Vino ancang-ancang untuk meniup lilin tapi Ali mencegahnya.
"Tunggu! Tunggu!"
__ADS_1
"Vino harus mengucapkan harapan atau doa sebelum meniup lilin," ujar Ali tersenyum sambil mengusap kepala anaknya dengan lembut.
"Ya Tuhan, aku ingin ketemu Mama. Sekali saja juga enggak apa-apa. Aku mohon, aku sangat merindukannya." ucap Vino sambil memejamkan mata.
Ali dan Hannum meneteskan air mata mendengar doa dari Vino. Doa yang tulus dari anak yang sangat merindukan sosok ibu.
Vino meniup lilin tersebut dan di sambut tepuk tangan dari ayah dan neneknya.
"Selamat ulang tahun, Vino." Ali menghujani Vino dengan ciuman.
Tidak mungkin Papa lupa sama hari kelahiranmu, Nak. Hari dimana Papa sangat bahagia kau dilahirkan ke dunia.
"Iya Vino, ini hadiah untuk Vino," ucap ayahnya sambil memberikan bingkisan. Vino terbelalak melihat hadiahnya. Mobil-mobilan yang sangat ia inginkan tapi ia tidak berani untuk memintanya.
"Papa, terima kasih. Papa kok bisa tahu mobil-mobilan ini kesukaan Vino?" Vino memeluk ayahnya kembali.
__ADS_1
"Papa tahu semua kesukaan Vino," Ali membalas pelukan Vino.
Hari minggu, Ali mengajak Vino ke sebuah taman untuk bermain bola dan bermain mobil-mobilan. Hannum tidak bisa ikut karena sudah tua dan mudah lelah jadi ia memilih untuk tetap di rumah.
Ali dan Vino bermain lempar tangkap. Ali yang melempar Vino yang menangkap dan begitu juga sebaliknya. Ponsel Ali berdering, ia meminta izin sebentar pada Vino untuk mengangkat teleponnya. Vino mengangguk, Vino memilih bermain bola. Vino menendang bola tersebut. Bola tersebut bergulir ke jalan raya. Vino ingin mengambil bolanya tapi naas Vino tertabrak mobil.
"Vino!" teriak Ali menjatuhkan ponselnya.
Dilah begitu terkejut, ia tidak sengaja telah menabrak seorang anak kecil. Dengan pucat ia keluar dari mobil.
"Astaga! Aku menabrak anak kecil," Dilah melihat kondisi anak tersebut yang bersimpah darah.
Ali berlari untuk melihat kondisi Vino. "Vino! Vino! Bangun, Vino!" Ali memeluk Vino dan melihat siapa pelaku yang menabrak anaknya.
"Kau!" Ali menahan marah melihat siapa pelakunya. Ibu dari Vino sendiri.
__ADS_1
Vino langsung dilarikan ke rumah sakit. Dilah juga ikut melihat kondisi Vino. Ia benar-benar merasa bersalah. Walaupun ia tidak sengaja menabrak anaknya.