Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Permintaan Vino


__ADS_3

"Vino mau Papa menikah lagi dengan siapa?"


Bertanya dulu lebih baik sebelum salah pilih. Ini menyangkut kebahagian Vino, putraku. Ali membatin.


"Papa tahu Tante yang menjeguk Vino di rumah sakit? Vino mau Papa menikah dengan Tante itu." jelas Vino yang membuat tubuh Ali panas dingin.


Ali sampai pucat mendengar ucapan malaikat kecilnya. Tubuhnya membeku. Pikirannya menjadi kacau. Kalau yang diminta Vino wanita lain mungkin Ali dapat mempertimbangkannya. Tapi ini, Vino meminta Ali menikah lagi dengan ibunya Vino sendiri yang jelas-jelas sampai sekarang Ali masih suami sahnya.


"Vino, memangnya tidak ada yang lain lagi?"


Vino menggeleng, kemudian matanya berkaca-kaca.


"Kenapa Vino memilih Tante itu?" Ali ingin tahu alasan putranya.


"Karena Tante itu cantik, baik, dan ramah." ucap Vino dengan polosnya.


Ya Tuhan, haruskah aku menghancurkan harga diriku lagi di depan Mamanya Vino? Setelah sekian lama dia membuang aku dan Vino. Haruskah aku meminta dia mengambil kami kembali setelah dia membuang kami?


Mata Ali memerah, tapi dengan cepat ia menahan air matanya yang hendak jatuh. Ada Vino dihadapannya. Ali takut Vino ikut menjadi sedih.


"Vino, ada yang lain tidak selain Tante itu?" Ali melebarkan senyumnya agar air mata tidak jatuh.

__ADS_1


Vino menggelengkan kepalanya. Vino hanya mau Ali menikah dengan orang yang Vino kira menjenguknya di rumah sakit.


"Vino, sebaiknya Vino tidur ya," Ali memegang tangan anaknya. Ali menghantar Vino dalam kamar.


"Selamat malam Vino," Ali mencium kening Vino dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh putranya.


"Selamat malam Papa," Vino memejamkan matanya.


Ali masuk ke kamarnya sendiri. Ia tengah bingung. Dari semua permintaan putranya. Cuma ini yang paling berat untuk ia wujudkan.


Ya Tuhan, haruskah aku mengorbankan perasaanku demi kebahagiaan Vino? Haruskah aku ke rumah besar itu dan memohon padanya untuk mengambil aku dan Vino kembali. Sudah cukup! Dia menyakiti aku dan Vino. Aku tidak akan kesana lagi. Tidak akan, itu tidak boleh terjadi. Vino pasti mengerti, aku akan menunggu Vino belasan tahun. Aku akan menceritakan semuanya.


"Pak, beli sepeda warna merah ini satu," ucap Ali menunjuk sepeda baru berwarnah merah. Vino suka sekali warna merah jadi Ali berpikir untuk memilih sepeda warna merah untuknya.


"Ini Pak, uangnya." Ali memberikan uang untuk harga sepeda tersebut.


Setelah membeli sepeda, tidak sabar rasanya untuk pulang ke rumah dan memberikan hadiah ini. Vino pasti senang mempunyai sepeda baru.


"Assalamualaikum," Ali mengucapkan salam. Seperti biasa, Vino langsung lari untuk membukakan pintu.


"Wa'alaikum salam," jawab Vino dan memeluk ayahnya.

__ADS_1


Vino melihat sepeda kecil yang cocok untuknya terparkir di depan rumah.


"Kenapa liatin sepeda itu? Vino mau sepeda itu?" tanya Ali menahan senyumnya.


"Enggak Pa, Vino enggak mau sepeda nanti memberatkan Papa."


Vino anak yang pengertian terhadap ekonomi orang tuanya. Jika ia menginginkan sesuatu yang mahal. Ia tidak pernah meminta, cuma ia pendam saja keinginannya. Contohnya, ketika Vino melihat Lucky main mobil-mobilan berwarna merah. Vino hanya melihat saja mobil-mobilan itu tanpa meminta pada sang ayah untuk membelikannya, sebab sudah Vino bahwa mobil-mobilan tersebut harganya cukup mahal.


"Itu sepeda Vino," Ali tersenyum menunjuk sepeda yang terparkir di depan rumah.


"Beneran itu sepeda Vino?" Vino hampir menangis. Sebenarnya sudah sejak lama Vino mengidamkan sepeda.


"Iya beneran," Ali mengangguk.


Vino langsung mengambil sepeda yang terparkir di depan rumahnya. Ia menaiki sepeda tersebut tanpa menggayuhnya.


"Pa, Vino belum bisa membawa sepeda," ucap Vino dengan polosnya.


"Besok kan hari minggu, bagaimana kalau besok kita ke taman. Papa akan ngajarin Vino main sepeda."


"Asik!" Vino mengangkat kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2