
Setelah cukup lama berbincang-bincang. Dilah beserta keluarga pamit pulang. Sampai di rumah, Vino duduk bersama neneknya sedangkan Dilah di dapur ia ingin memasak kue.
"Wah.. Nek, Vino seneng banget. Vino punya Papa, Vino punya Mama, Vino punya Nenek dan ternyata... Vino juga punya kakek." Vino menghitung jumlah keluarga dengan jarinya.
"Iya Vino, Vino harus bersyukur," Hannum tersenyum lembut.
"Iya Nek," Vino tersenyum ceria.
"Tapi ada yang kurang," sambung Ali. Tiba-tiba Vino cemberut.
"Apa yang kurang, Pa?" Vino memasang wajah masam.
"Adik, Vino belum punya adik,"
"Hem.." Vino berpikir dengan meletakkan jari telunjuk di kepalanya.
Dilah berjalan membawa kue yang telah ia masak di dapur. Dilah meletakkan kue tersebut di dekat Vino.
"Vino, cobain kue buatan Mama," ucap Dilah sambil tersenyum.
Vino menggeser tubuhnya untuk mengambil kue tersebut. Ia berbinar melihat kue yang dimasak ibunya. Kuenya benar-benar lucu dan mengemaskan, dengan cepat Vino memakannya.
__ADS_1
"Enak, Ma." Vino memberikan jempolnya. Dilah menanggapinya dengan senyuman manis.
"Sini Papa cobain," Ali ingin mengambil kue tersebut. Akan tetapi ia kalah cepat, Vino mengambil semua kuenya dan mendekati ibunya.
"Ma, ini untuk Vino semua kan?" Vino menunjukkan mata bulatnya yang berbinar. Dilah mengangguk.
"Vino, Papa juga mau."
"Enggak boleh, ini punya Vino, ini pemberian Mama untuk Vino," Vino memasang wajah marah yang menggemaskan. Hannum malah tertawa melihat pertengkaran lucu antara anak dan ayah.
"Vino," Ali berpura-pura geram sambil berkacak pinggang.
"Papa," Vino juga mengikuti gaya sang ayah.
"Ini," Vino mengambil 1 kue tersebut. Ia memberikanya dengan tidak tega pada sang ayah. Ia belum rela kalau kue miliknya di makan sang Ayah.
Ali mengambil kue dari tangan munggil anaknya. Ketika ia ingin memakannya, wajah Vino benar-benar sedih. Ali mendekati Vino dan menyuapi Vino dengan kue yang di berikan Vino tadi.
"Vino kenapa sedih?"
"Vino sedih, karena baru pertama kali Vino makan kue buatan Mama. Vino belum rela membaginya."
__ADS_1
"Hem.. Ya sudah itu punya Vino semuanya," Ali memilih untuk mengalah.
"Tapi Pa, Vino sudah mau berbagi." Vino mengubah raut wajahnya dan tertawa kecil.
"Nenek! Sini, kita berbagi kuenya." Hannum mendekati Vino dan menyicipi kue tersebut.
Acara makan kue didampingi dengan canda tawa serta celotehan Vino yang menggemaskan.
"Ma," Vino menoleh kearah ibunya.
"Iya Sayang, Vino mau apa?" Dilah memjawab dengan lembutnya.
"Vino belum punya adik, Vino mau adik," ucap Vino dengan polosnya.
Dilah menelan ludah, Dilah melihat Vino kemudian bergantian melihat Ali dan mertuanya. Ali melirik Dilah dengan senyumnya kemudian Ali menaik turunkan Alisnya.
"Adik?" Dilah bertanya untuk menutupi kegugupannya.
"Iya Ma. Vino kan udah punya Mama, Papa, Nenek, dan Kakek. Cuma satu yang kurang-" Vino menghembuskan nafas dengan lembut.
"Vino belum punya adik," ucap Vino selanjutnya. Vino menunjukkan mata bulatnya yang menggemaskan.
__ADS_1
"Iya Vino, Vino berdoa supaya Vino punya adik," balas Dilah.
Mulai hari ini peraturan di rumah besar di kediaman Dilah berubah. Yang semula laki-laki dilarang masuk sekarang tidak lagi. Sehingga teman-teman Vino bebas datang ke rumah ini. Akan tetapi jika laki-laki dewasa masih ada ketentuan-ketentuan atau aturan yang berlaku. Jika tak ada kepentingan maka orang tersebut dilarang untuk masuk. Ini ada sangkut pautnya dengan Ali. Ya, Ali agak cemburu. Wajar saja Ali cemburu, Dilah Wiranata adalah wanita yang sangat cantik, dia juga kaya, dan pintar, baik itu dalam hal bisnis maupun dalam hal memasak. Banyak laki-laki yang mendambakan sosok sepertinya untuk dijadikan pasangan hidup