Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Tersenyum


__ADS_3

Ali tersenyum-senyum sendiri sambil menyapu lantai.


Mengapa aku tidak bisa melupakan kejadian tadi malam? Batin Ali berbunga-bunga.


Luci yang penasaran tentang maksud senyuman Ali itu. ia langsung mendekati Ali tanpa canggung. Walaupun Ali adalah suami bosnya, akan tetapi ia santai saja. Ia berniat untuk bersahabat dengan Ali.


"Ali, Mengapa kau tersenyum sendiri?" Luci memergoki Ali yang sedang tersenyum.


Ali menggelengkan kepalanya, kemudian ia menatap Luci agak malu.


"Apakah kau sudah mulai gila?" canda Luci pada Ali.


"Aku... Tidak gila. Cuma aku sedang tergila-gila dengan seseorang," Ali keceplosan, ia langsung menutup mulutnya. Luci menatap usil pada Ali dengan senyum tipis di bibirnya.


"Apakah kau sedang tergila-gila dengan-"


"Ehem," dehem Dilah membuat ucapan Luci menyangkut. Ali dan Luci menunduk takut. Mereka berdua takut dimarahi dan juga takut dipecat oleh bosnya.

__ADS_1


"Apakah aku menggaji kalian untuk berbicara?" Dilah melipat tangannya dan menatap tajam pada Ali. Iya, hanya Ali yang ditatap dengan tajam olehnya, bukan Luci. Dilah merasa semua ini salah Ali. Ali selalu salah di matanya.


"Maaf Nona, aku yang salah," ucap Ali dengan nada takut.


"Iya kau yang salah, kau... selalu salah!" ucap Dilah membentak.


Ali dan Luci meremas tangannya. Mereka tak berani untuk menatap dan berkata apapun.


"Kan sudah aku katakan padamu, jauhi semua wanita kecuali aku!" ucap Dilah dengan tegas dan menunjuk Ali dengan geram.


"Kau tidak salah Luci, aku mengenalmu sejak lama. Tapi dia... Dia! Dia adalah laki-laki yang tidak cukup dengan satu wanita saja. Semua laki-laki memang seperti itu." Dilah menghujam Ali dengan kata-katanya. Padahal Ali adalah sosok laki-laki yang setia dan baik akan tetapi hati Dilah dibutakan dengan kesalahan ayahnya dan mengklaim semua laki-laki sama seperti ayahnya.


Dilah pergi menginggalkan Ali dan Luci dalam keadaan marah.


"Maafkan aku Ali, aku tidak tahu kau dapat peraturan seperti itu dari bos kita, eh bukan-bukan maksudku istrimu." ucap Luci menyesali tindakannya mendekati Ali. Walaupun sebenarnya Luci punya niat dan tujuan baik untuk bersahabat dengan Ali. Tapi tujuan dan niat itu pupus karena Dilah marah besar.


"Kau tidak perlu meminta maaf," Ali berkata lembut dan pergi untuk membersihkan toilet.

__ADS_1


"Baru pertama kali aku mendengar laki-laki berkata selembut itu. Belum pernah rasanya aku mendengar Ali berkata kasar, jauh berbeda dia dengan istrinya. Sebenarnya Nona Dilah sangat beruntung memiliki suami seperti Ali,* gumam Luci.


***


Dilah keruangannya dengan wajah yang menahan marah. Ia benar-benar sangat kesal. Entah ia cemburu atau merasa sesak karena tindakan Ali tadi yang berdekatan dengan Luci mengingatkan dirinya tentang penghianatan ayahnya kepada ibunya.


"Kau kenapa lagi, Dilah?" tanya Fina heran. Fina berada di ruangan Dilah karena ingin memberikan laporan keuangan.


"Mengapa Ali selalu saja mendekati wanita lain? Semalam dia mendekatimu dan sekarang Luci," ucap Dilah marah.


"Haha... Apakah kau sedang cemburu. Cepat sekali kau jatuh cinta?" tanya Fina meledek Dilah dengan usil.


"Fina... Tidak ada satu pria pun yang bisa membuatku jatuh cinta. Pria tampan saja tidak membuatku jatuh cinta. Apalagi dia yang berwajah pas-pasan," ujar Dilah menjelaskan.


"Mungkin Ali tidak unggul dalam hal wajah, tapi dia jauh lebih unggul dari budi bahasanya yang lembut, sikapnya yang sopan, dan dia baik orangnya," ujar Fina memuji.


"Apakah kau sudah jatuh cinta pada Ali?"

__ADS_1


__ADS_2