Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Bertemu Dengan Sang Pujaan Hati


__ADS_3

"Perimisi, Nona," Ali mengetuk pintu.


Dilah berdiri dari kursi kebesarannya. Kursi yang membuatnya seolah seperti seorang ratu di kerajaan.


Dia masih sama, masih sama cantiknya. Dia masih terlihat cantik walaupun sudah melahirkan.


Ali tersenyum sambil melambaikan tangan. Hatinya bergemuruh, tubuhnya panas dingin karena bertemu sang pujaan hati. Wanita yang paling ia cintai. Akan tetapi Wanita itu pula yang membuatnya tersakiti. Namun, rasa cintanya mengalahkan semuanya. Apalagi setelah mereka punya anak. Kadar cinta Ali makin bertambah.


"Ada perlu apa kau datang kemari?" tanya Dilah dengan galak.


Dia masih sama galaknya, tidak ada yang berubah darinya. Tapi, mengapa cintaku tidak berkurang, apalagi semenjak Vino lahir. Cintaku makin bertambah besar untuknya.


"Kau tuli?" tanya Dilah geram. Pertanyaannya tidak dijawab oleh Ali.


Ali mulai tersadar dari lamunannya, "Maafkan aku, Nona. Aku kesini karena Vino, dia membutuhkan ASI. Aku tidak tahu lagi untuk mencari bantuan pada siapa. Nona, mohon bantu aku," ujar Ali dengan lirih. Ia benar-benar rapuh jika anaknya sakit. Ia meruntuhkan harga dirinya di depan seorang wanita hanya karena ingin putranya sehat.


"Bawa dia kesini!" pinta Dilah dengan ketus.

__ADS_1


Ali berbinar senang, ia memberikan Vino dari gendongannya. Untuk pertama kalinya Dilah menggendong putranya. Ali merasa senang tapi yang lebih menyenangkan lagi apabila Dilah mau mengakui Vino sebagai putranya.


"Kau tunggu di sini, aku akan memberikan ASI untuknya di kamar," ucap Dilah dengan nada datar.


Setelah sampai di kamar, Dilah merasa heran melihat putranya yang terus tersenyum melihatnya.


"Mengapa kau sama seperti papamu, terus saja tersenyum ketika melihatku?"


Senyuman Vino mungkin memiliki arti bahwa rasa rindunya pada sang ibu terobati dengan melihat secara nyata ibunya.


"Minumlah yang banyak! Agar kau selalu sehat," ucapan Dilah terkesan galak tapi itu juga bentuk doa darinya.


Dilah tidak melanjutkan kata-katanya. Jika ia melanjutkan kata-katanya pasti jawabanya adalah dia sendiri. Dia ibunya, dia yang melahirkan Vino. Jika Vino tidak mirip dengan ayahnya berarti Vino mirip dengan ibunya. Itu sudah menjadi garis takdir anak. Jika tak mirip dengan ibu pasti mirip dengan ayah atau mirip keduanya.


Setelah Vino merasa cukup, Dilah mengembalikan Vino pada ayahnya.


"Ini anakmu," Dilah memberikan Vino pada suaminya.

__ADS_1


"Anakmu juga," ucap Ali pelan yang hanya Ali sendiri yang mendengarnya. Kemudian ia mengambil Vino dari tangan istrinya.


"Terima kasih atas kebaikan Nona, aku tidak tahu akan membalas kebaikan Nona dengan cara apa," Ali menunduk pilu, ia benar-benar seperti pria tidak berguna.


Dilah hanya diam, ia tidak menjawab ucapan Ali. Ia lebih memilih bungkam.


"Nona aku dan Vino pamit pulang," ucap Ali tersenyum manis.


"Dah... Mama," ucap Ali selanjutnya untuk mewakili ucapan putranya yang belum bisa berbicara.


"Dah.. Sampai jumpa," tanpa sadar Dilah mengucapkan kalimat itu. Tapi ucapan itu tidak didengar Ali. Dilah terus melambaikan tangannya. Air matanya menetes secara tiba-tiba, tidak tahu mengapa Dilah merasa kehilangan karena Ali pergi membawa putranya. Apakah benih-benih cinta mulai muncul. Entahlah sulit untuk Dilah definisikan. Ia cukup malu dan gengsi untuk mencegah Ali pergi membawa putranya.


"Kenapa aku menangis, dia hanya anak Ali bukan anakku."


Dilah selalu membuat kenyataan bahwa Vino hanya anak Ali dan bukan anaknya. Dilah selalu berpikir bahwa dia tidak pernah melahirkan anak. Tapi, ingatan ini selalu membantah semuanya.


Dilah sampai terbawa mimpi. "Ali, jangan bawa putraku pergi!" ucap Dilah mengingau.

__ADS_1


Dilah tersentak bangun, jantungnya berdebar kencang. Air matanya menetes, ia ingin sekali bertemu dengan bayi yang telah ia beri ASI. Siapa lagi kalau bukan Vino putranya.


__ADS_2