
Ali menyetir mobil untuk berangkat ke perusahaan. Ia melirik Dilah yang berada di sebelahnya. Dilah sedang melihat kaca depan mobil.
Apakah aku masih bermimpi? Aku tidak pernah berpikir sejauh ini memiliki istri kaya dan juga cantik. Ali
"Ali, aku ingin kau tidak sombong setelah menikah denganku, jadilah seperti karyawan pada umumnya," ujar Dilah tanpa mengalihkan pandangan dari kaca depan mobil.
"Baik Nona," Ali menurut.
Sesampainya di kantor, Ali membawa tas Dilah kemudian ia mendengar para karyawan yang sedang bisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan tapi Ali merasa tidak nyaman.
"Sini tasku," Dilah mengambil tasnya dengan kasar.
"Sudah sana pergi bekerja!" ucap Dilah memerintahkan.
Ali keluar ruangan Dilah dan pergi mengambil sapu.
"Ehem, enak ya sudah jadi suami bos," ucap Tini dengan tatapan mengintimidasi.
"Maksud Nona apa ya?" tanya Ali sambil mengambil sapu.
"Kau tak berbulan madu, Ali?" tanya Ella dengan sedikit tertawa kecil.
__ADS_1
Ali menggelengkan kepalanya, seketika banyak karyawan yang mendekatinya. Entah apa yang ingin mereka lakukan tapi Ali melihat para wanita-wanita itu melihat Ali dengan penasaran.
"Ali, bagaimana Nona Dilah memperlakukanmu?" tanya Gina ingin tahu.
"Dia baik padaku," ucap Ali berkilah, ia tidak ingin istrinya dipandang buruk oleh orang lain.
"Kau tak usah menutupi tentang istrimu itu, kami semua sudah tahu bahwa dia benci dengan laki-laki." ucapan Gina mendapat anggukan dari para karyawan lain.
Ali hanya diam saja, ia tak mau ambil pusing tentang kenyataan bahwa istrinya sangat membenci semua laki-laki termasuk dirinya.
"Ali!" teriak Fina, Fina merasa Ali sedang di introgasi oleh para karyawan.
"Iya Nona," Ali melihat kearah sumber suara.
"Bisakah kalian semua kembali bekerja!" perintah Fina pada para karyawan tersebut. Mereka langsung sibuk mengerjakan tugasnya. Fina juga termasuk orang yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan. Sehingga perintah Fina tidak boleh dibantahkan.
"Ikut aku!" Fina menarik tangan Ali dan masuk ke ruangan.
"Tunggu Nona, aku belum mengerjakan apapun. Aku takut Nona Dilah marah padaku," ucap Ali dengan takut.
"Sudah, aku yang akan menjelaskannya," Fina mendudukkan Ali di kursi.
__ADS_1
"Tapi Nona..."
Fina melotot tajam pada Ali membuat Ali tidak bisa berkata banyak.
"Ada yang ingin aku jelaskan padamu mengenai sahabatku itu," ucap Fina sambil menatap Ali intens.
"Menjelaskan apa?" Ali menunduk, tatapan Fina membuatnya takut.
"Tentang kebenciannya pada semua laki-laki," ucap Fina menjawab pertanyaan Ali.
"Dilah memiliki rasa benci pada semua laki-laki sejak ayahnya meninggalkan dirinya. Waktu itu, ayahnya meninggalkan dia dan ibunya dan memilih untuk menikah lagi dengan janda kaya. Ayahnya tidak pernah peduli dengan dia dan ibunya sampai pada suatu hari ibunya meninggal dunia."
"Jadi aku mohon kerja sama padamu, aku ingin sahabatku seperti orang pada umumnya." raut wajah Fina menjadi sedih.
"Apakah kau sangat menyayangi sahabatmu itu?" tanya Ali.
"Iya, aku sangat sayang dan peduli padanya. Cuma dia yang baik padaku. Cuma dia yang mengubah hidupku dari anak yang tidak punya apa-apa menjadi sukses seperti sekarang." Fina mengingat kembali masa lalunya dan kebaikan Dilah padanya.
"Aku ingin dia bahagia, punya suami dan anak yang sayang padanya," ucap Fina mencurahkan isi hatinya.
"Ali! kemana kau? Mengapa kau belum mengerjakan tugasmu!" ucap Dilah ketika ia keluar ruangan.
__ADS_1
"Maaf Nona, tadi Ali keruangan Fina," ujar Gina menunduk.
"Ah, dasar laki-laki. Apa dia tidak cukup dengan memiliki satu wanita saja?"