Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Vino Sekolah


__ADS_3

Usia Vino sudah memasuki hampir 5 tahun. Dua bulan lagi ia genap berusia 5 tahun. Vino bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK). Ia bersemangat ke sekolah, ia mulai berkenalan dan bermain dengan teman-teman sebayanya. Tapi ada saja teman Vino yang nakal. Teman Vino mengejek Vino tidak punya ibu karena selama bersekolah Vino tidak pernah diantar ibunya.


Vino menangis ketika pulang sekolah. Ia menceritakan semuanya pada sang nenek Hannum. Hannum juga bingung harus menceritakan tentang ibu Vino. Salah-salah kata, Ali bisa marah pada Hannum.


Ketika Ali pulang, Vino langsung memeluk pinggang Ali. Karena Vino masih kecil, Vino hanya bisa memekuk pinggang Ali. Ali sontak heran, ia berjongkok untuk menyeimbangkan tinggi badan ia dan anaknya. Vino langsung memeluk Ali dan mengusap matanya karena menangis.


"Kenapa Vino tiba-tiba menangis?' Ali melepaskan pelukannya.


"Tadi di sekolah, Vino diejek teman-teman. Kata teman-teman Vino, Vino enggak punya Mama. Apa benar Vino enggak punya Mama?" Vino memeluk ayahnya kembali, mengeluarkan semua kesedihannya di balik punggung sang ayah.


"Punya, Vino punya Mama," ucap Ali untuk menenangkan anaknya.


"Mana Pa? Mana Mama Vino?" ternyata Vino perlu bukti bukan sekedar ucapan.


"Ada, tapi kita tidak bisa bertemu sekarang, nanti ada masanya," ucap Ali dengan nada lembut.


"Papa bohong, Papa jahat! Papa bohongin Vino. Apa Mama sudah meninggal seperti yang teman-teman katakan?"

__ADS_1


"Stt..! Vino, Papa enggak suka ya kamu bicara seperti itu. Mama kamu masih hidup." untuk pertama kalinya Ali marah dengan putranya.


"Papa bohong!" Vino lari menuju kamarnya sambil menangis.


"Bagaimana ini? Vino bertanya tentang Mamanya?" Ali meremas rambutnya kesal. Ia pikir setelah memasuki Vino ke sekolah, Vino akan lupa dengan ibunya. Tapi Ali salah, justru Vino semakin mendesak Ali untuk memberitahu tentang ibunya.


"Apa lebih baik kau pertemukan saja Vino dengan Nona Dilah," ucap Hannum membantu anaknya berpikir.


"Aku takut, Bu, aku takut ketika kami sudah bertemu dengan Nona Dilah. Nona Dilah tidak mengakui Vino anaknya. Itu akan menyakiti Vino, Vino menganggap aku berbohong dan Vino akan membenci ibunya sendiri."


Besoknya, Vino bersikeras tidak mau sekolah. Hal ini membuat Ali menjadi pusing.


"Aku tidak mau sekolah, Pa. Aku tidak mau sekolah," teriak Vino sambil menangis sesegukan.


"Vino, kenapa tidak mau sekolah?" Ali menahan sedihnya. Ia sebenarnya sudah tahu alasan Vino.


"Teman-teman Vino pasti mengejek Vino lagi. Vino enggak mau sekolah, Pa. Vino, enggak mau sekolah," ucap Vino sambil menangis.

__ADS_1


"Vino, jangan buat Papa marah!" Ali sedikit meninggikan intonasinya. Vino menunduk takut melihat ayahnya menahan marah. Akhirnya ia mau untuk pergi ke sekolah.


Vino menjadi kepribadian yang suka menyendiri. Tidak ada teman-teman yang mau berteman dengannya. Vino sering melamun di pojok kelas, merasakan kesendiriannya. Vino tidak ceria seperti dulu semenjak teman-temannya mengejek Vino.


***


"Bu Susi, emm.. Aku ingin bertanya. Setelah Ali datang waktu itu ke sini, dia pernah datang lagi ke sini atau tidak?" Dilah masih berharap Ali datang ke rumahnya. Kalau bisa dibilang Dilah mulai rindu dengan Ali dan anaknya.


"Tidak Nona, setelah Ali datang kesini membawa anaknya waktu itu. Itu terakhir kalinya dia datang kesini. Setelah itu, dia tidak pernah datang kesini lagi," jelas Ibu Susi.


"Oh.. Begitu.. Terima kasih Ibu Susi," ucap Dilah sambil berjalan masuk ke rumahnya.


"Sama-sama, Nona."


Apa Nona Dilah mulai rindu dengan anak dan suaminya?


Tidak ada gunanya! Tidak ada gunanya aku keluar negeri, ternyata aku masih saja memikirkan Ali dan anaknya itu, batin Dilah.

__ADS_1


Dilah baru pulang dari luar negeri, tujuannya ia keluar negeri adalah untuk melupakan Ali dan putranya. Tapi Dilah semakin mengingat kedua orang itu.


__ADS_2