
Malam hari, jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Biasanya sebelum tidur, Vino di bacakan dongeng terlebih dahulu. Setelah Vino tidur, sudah saatnya untuk Dilah dan Ali berduan. Tak ada lagi penghalang untuk mereka.
Dilah berbaring miring di samping Ali. Ia terus memandangi Ali. Tidak tahu mengapa setiap kali dipandangi oleh Dilah pasti Ali tersenyum.
"Kamu tidak pernah berubah ya, mengapa setiap kali aku memandangimu selalu saja kau tersenyum," ucap Dilah dengan menahan senyumnya.
Ali menggelengkan kepalanya dan menahan senyumnya, "Aku begitu terpesona melihatmu, tidak tahu mengapa bibir ini selalu tersenyum melihatmu." Ali menutup wajahnya dengan selimut karena malu dengan keterangannya.
"Sayang," Dilah menarik selimut yang membungkus Ali.
"Sa... Sayang?" Ali begitu terkejut.
"Iya," Dilah tersenyum manis.
"Aku tidak bermimpi kan?" Ali mencubit tubuhnya.
"Tidak, kamu tidak sedang bermimpi. Aku mencintaimu," ucap Dilah dengan nada lembut.
"Nona, aku tidak pernah menyangka bahwa kau mencintaiku." Ali berbinar senang namun Dilah membalasnya dengan cemberut.
"Kenapa? Kamu tidak mencintaiku ternyata," Ali tiba-tiba lesu.
__ADS_1
"Bukan begitu, kamu masih saja memanggilku dengan sebutan Nona," Dilah membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Ali. "Aku ini istrimu bukan bosmu," ucap Dilah ketus.
Ali menggeserkan tubuhnya mendekati Dilah. Ia memeluk Dilah dari belakang.
"Maaf, maaf Sayang. Aku juga mencintaimu," Ali mencium punggung Dilah dengan lembut. Hembusan nafas Ali terasa hangat di punggung Dilah.
Dilah membalikkan tubuhnya lalu ia menyandarkan kepalanya di dada Ali.
"Sayang," ucap Dilah dengan manjanya.
"Iya Sayangku," Ali tersenyum tulus.
"Sangat sulit, Sayang. Vino sering terbangun di malam hari dan menangis. Aku harus meredakan tangisannya. Penyebabnya beragam, mulai dari dia minta susu, buang air, dan lebih membuatku lebih pusing dia kangen sama kamu."
"Kangen sama aku?" Dilah masih tak percaya.
"Iya aku serius, aku memberinya susu formula, dia menolak. Aku membuat wajahku menjadi lucu akan tetapi dia tidak berhenti menangis juga. Banyak cara aku lakukan namun pada akhirnya dia berhenti menangis karena sebuah poto."
"Poto? Kok bisa?" Dilah mengerutkan dahinya.
"Bisa Sayang. Itu karena poto dirimu. Vino masih sekecil itu tapi dia sudah merasakan kontak batin. Ketika aku membawa Vino bertemu denganmu waktu itu Vino mendadak ceria. Aku benar-benar bahagia saat itu."
__ADS_1
"Mengapa setelah pertemuan itu kamu tidak datang lagi?" Dilah cemberut.
"Aku takut kamu marah. Aku tidak mau merepotkan ibu Susi. Tapi kalau boleh jujur ingin rasanya aku datang lagi setelah itu dan melihat dirimu."
"Kamu tahu tidak pada saat itu aku jatuh cinta padamu dan aku sudah mulai sayang pada Vino putra kita. Saat kamu membawa Vino kepadaku. Entah mengapa jantung ini berdetak dengan cepat. Hati ini berdesir terhadapmu. Aduh.. Rasanya campur aduk." pipi Dilah bersemu merah lalu ia menggelengkan kepalanya untuk melupakan cerita itu sejenak.
"Berarti sudah lama, mengapa tidak mengatakannya?"
"Karena aku malu dan gengsi. Tapi pada saat Vino memintamu untuk menikah lagi. Dari situ aku mulai berani untuk mengatakan perasaanku. Aku tidak mau kehilanganmu." Dilah berkaca-kaca.
"Vino memihak padamu. Vino memintaku untuk menikah lagi dengan dirimu pada saat itu dia belum tahu bahwa kamu mamanya." Ali tersenyum malu.
"Vino bilang begitu?"
"Iya, Vino bilang begitu,"
Cup, Dilah mengecup bibir Ali sekilah.
"Itu bentuk ucapan terima kasih karena telah merawat Vino,"
"Aku mau yang lebih dari sekadar itu," Ali tersenyum menggoda dan membisikkan sesuatu. Dilah mengangguk setuju.
__ADS_1