Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Bertemu Tania


__ADS_3

Mengapa dia menggantungkan kalimatnya?


Ali melirik Dilah curiga. Namun, ia malas bertanya mengapa Dilah menggantungkan kalimatnya.


"Tania," Vino memanggil temannya yang berada di ujung jalan.


"Vino," sahut Tania, Tania menarik ayahnya untuk ke sumber suara.


"Eldo?" Ali dan Dilah terkejut melihat Eldo membawa anak berusia hampir 5 tahun.


"Papa, ini Tania teman Vino di sekolah," Vino memperkenalkan Tania pada ayahnya.


"Teman kamu?" Ali masih bingung mengapa Tania bersama Eldo.


"Hehe, dia putriku." tawa Eldo agar mengusir suasana terkejut Ali dan Dilah.


Vino dan Tania asik bermain dan mengoceh. Sedangkan Eldo bergabung bersama Ali dan Dilah.


"Kau sudah menikah?" tanya Ali tak percaya.

__ADS_1


"Iya, aku sudah menikah dengan wanita yang aku cintai. Setelah Nona Dilah menolakku untuk menikah dengannya. Aku berkenalan dengan wanita cantik dan jatuh cinta. Kami tidak lama berpacaran, kami memilih untuk serius dan menikah. Tania adalah buah hasil cinta kami." jelas Eldo.


"Oh.. Begitu, pantas saja usia putraku tidak jauh beda dengan putrimu," jawab Ali.


"Iya, bisa dibilang hanya beda 4 bulan saja," Eldo tertawa


"Oh ya, kalian sudah baikkan?" Eldo menaikkan alisnya.


Dilah dan Ali hanya diam. Pertanyaan dari Eldo tidak mereka jawab. Mereka lebih memilih bungkam.


"Tania, liat mobil Vino! Papa Vino yang beli. Ini hadiah ulang tahun Vino," Vino pamer mobil mainannya pada Tania.


"Papa Tania juga beliin Tania mahkota. Kata Papa Tania, Tania seperti princess kalau memakainya." Tania tak mau kalah dari Vino.


"Oh ya Vino, Mama Tania baru aja beliin Tania boneka beruang. Vino mau liat boneka Tania. Vino datang aja ke rumah Tania."


Seketika Vino menjadi sedih. Vino tak pernah dibelikan apapun pada ibunya. Vino meneteskan air matanya.


"Vino kenapa nangis?" Tania bertanya dengan polosnya.

__ADS_1


"Vino enggak pernah dibelikan apapun sama Mama Vino. Jangankan dibelikan mainan, bertemu aja enggak pernah." Vino menyeka air matanya kemudian melihat kearah Ali_ayahnya. Lalu, Vino meletakkan mainannya dan memeluk Ali sambil menangis.


"Vino kenapa menangis?" Ali tidak mendengar apa yang di bicarakan Tania dan Vino. Begitu juga dengan Eldo dan Dilah.


Vino enggan menjawab, Vino menangis sesegukan.


"Tania, kamu jahatin Vino ya?" Eldo mulai galak.


"Enggak kok Pa. Tania enggak jahatin Vino. Vino nangis karena Vino enggak pernah dibeliin apapun sama Mama Vino. Jangankan dibelikan, Vino enggak pernah bertemu dengan Mama Vino." Tania menjelaskan dengan polosnya. Eldo mengangguk paham kemudian ia melirik curiga pada Dilah dan Ali


Degh!


Maaffin Mama ya, Nak. Selama ini Mama enggak pernah memberikan sesuatu pada Vino. Mama bukan ibu yang baik buat Vino. Lagi-lagi Dilah hanya bisa membatin.


Dilah mendongakkan kepalanya untuk menahan air mata yang ingin jatuh.


"Vino jangan menangis, anak laki-laki jangan menangis. Vino kan jagoan." Ali mengusap kepala Vino dan melirik Dilah. Dari sorot mata Ali memiliki arti bahwa begini lah rasanya Vino yang kurang kasih sayang ibu.


"Vino, bukannya Mama Vino orang paling kaya. Mengapa dia tidak membelikan apapun pada Vino?" Eldo melirik jahil pada Dilah dan menyindir.

__ADS_1


Vino mengusap air matanya dan mendekati Eldo, "Om tahu tentang Mama Vino. Om cerita sama Vino." Vino antusias ingin tahu.


Eldo melirik kearah Dilah dan Ali. Dilah dan Ali memberi kode untuk tidak memberitahu.


__ADS_2