
Sepulang sekolah, Vino dijemput Bibi Susi. Bibi Susi menunggu Vino di depan gerbang.
"Vino," Bibi Susi melambaikan tangan.
"Bibi," Vino berlari menuju Bibi Susi dengan riangnya.
"Bi, lihat ikan Vino. Vino baru beli," Vino menunjukkan ikan yang beraneka ragam. Tidak tahu ada berapa macam ikan yang ada di dalam kantung plastik tersebut.
"Wah.. Bagus ikannya," Bibi Susi memuji ikan Vino. Vino pun semakin senang.
"Hem.. Bi, Vino mau ke kantor Mama,"
"Kantor mama?" Bibi Susi melotot.
Aduh, tadi pagi Nona Dilah berpesan untuk menjaga Vino dengan baik. Nona kan sibuk hari ini.
"Bibi, enggak mau antar Vino yaudah Vino pergi sendiri," Vino memalingkan wajahnya karena kesal.
"Hehe, ya sudah ayo Vino."
Terpaksa Bibi Susi menghantar Vino ke kantor ibunya. Bibi Susi tidak tega dengan mata bulat Vino yang memanas. Apalagi kalau dilihat kisah masa lalu Vino membuat Bibi Susi tidak tega untuk tidak menuruti Vino.
Setelah sampai di perusahaan One Stars banyak pasang mata yang melihat kearah Vino. Wajah Vino memang sangat dominan ke ibunya jadi mereka sudah bisa menebak siapa Vino sebenarnya.
"Tuan Vino," panggil Tini berpura-pura ramah.
__ADS_1
"Tante, Namaku Vino, bukan Tuan Vino," ucap Vino agak jengkel. Tini memasang wajah sebal.
"Vino," panggil Luci dengan nada gembira.
"Tante, kenal Vino?" Vino mendekati Luci.
"Kenal, Mamanya Vino kan bos tante. Jadi tante kenal Vino," ucap Luci dengan gemas. Ingin sekali ia menciumi bocah yang sangat mirip dengan ibunya yang super galak.
"Mama Vino dimana Tante?" tanya Vino sambil melihat kantor yang begitu luas.
"Di ruangannya, Vino. Bibi Susi juga tahu," ucap Luci sambil mengelus rambut Vino. Vino mengangguk.
"Vino, besar nanti sama tante ya," Luci bercandain Vino sambil mengedipkan mata genit untuk menggoda anak kecil.
"Vino enggak mau, Tante bukan tipe Vino,"
Vino langsung berjalan sambil memegang tangan Bibi Susi untuk menuju ruangan ibunya.
"Wah.. Menggemaskan sekali," Luci kegirangan karena berkesempatan memegang Vino. Ia pamer pada rekan kerjanya.
"Semoga anaknya tidak segalak ibunya," sambung Dini yang sedang senyum-senyum sendiri melihat punggung Vino yang mulai menjauh.
"Eh, ngomong-ngomong pas pembuatan Vino itu kan terpaksa agar Nona punya anak perempuan. Tapi kok hasilnya mengemaskan begitu ya." ucap Sella yang ditanggapi acuh tak acuh oleh para karyawan lain.
"Iya benar, aku juga mau punya anak kaya Vino tapi takut buatnya," ucap Yuni.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Sella antusias.
"Aku kan belum menikah," Yuni memutar bola matanya kesel. Masa Sella tidak tahu bahwa Yuni belum menikah.
***
"Mama," Vino membuka pintu perlahan sambil melihat ibunya yang sibuk mengetik di komputer.
"Vino," Dilah menyahut tapi matanya tidak lepas dari layar komputer.
"Mama sibuk ya?" Vino mendadak sedih. Ia memegang tangan bibi Susi untuk menuju pintu luar.
"Iya, Sayang." Dilah masih sibuk dengan komputernya.
"Ayo Bi, kita pulang," Vino menarik tangan Bibi Susi untuk keluar dari ruangan.
"Vino baru aja sampai tapi kok malah mau pulang?" Bibi Susi heran.
Dilah mematikan laptopnya dan memeluk Vino dari belakang, Vino pun membalikkan tubuhnya dan berbinar.
"Vino, ada apa kesini? Kangen Mama ya?"
"Bukan cuma kangen, ada sesuatu buat Mama." Vino membuka tasnya dan memgeluarkan kotak kecil.
"Selamat hari ibu untuk Mama Vino," ucap Vino sambil menyerahkan kotak tersebut.
__ADS_1
Dilah tercengang heran, ia tak menyadari hari ini adalah hari ibu. Untuk pertama kalinya ia dapat kejutan dari putra kesayangannya.
Putraku sama percis sepertiku, ketika ibuku masih ada aku tak pernah lupa hari ibu. Tapi setelah ibu pergi, aku melupakan hari bersejarah ini, batin Dilah.