
"Oh... Begitu," Eldo mengangguk.
"Om Eldo enggak tahu Mamanya Vino. Om minta maaf ya," Eldo mengusap rambut Vino.
"Enggak apa-apa Om," Vino tertunduk lesu sambil berjalan kearah ayahnya.
"Vino jangan sedih," Ali mengangkat Vino untuk duduk di sampingnya.
"Biar Vino punya Mama. Bagaimana kalau Papanya Vino menikah lagi?" Eldo bercanda sambil melihat usil pada Dilah.
"Em.. Benar kata Om, Pa. Papa Menikah lagi aja biar Vino punya Mama," Vino menyetujui saran dari Eldo yang awalnya hanya bercandaan.
Mendengar ucapan putranya, Dilah kembali menahan air mata yang sedari tadi ingin jatuh. Rasanya begitu menyakitkan ketika Vino anaknya sendiri meminta ayahnya untuk menikah lagi.
"Baiklah, Papa mau menikah lagi," Ali melirik Dilah untuk melihat ekspresinya.
Sontak Dilah tak setuju. Ia berdiri dari tempat duduknya. Lalu ia melangkah pergi sebagai bentuk protesnya.
"Tante mau kemana?"
Pertanyaan Vino tidak Dilah jawab. Mungkin Dilah sedang marah dengan kedua orang itu.
"Papa kejar Tante itu!" pinta Vino dengan polosnya.
__ADS_1
Eldo memijit dahinya. Ia masih tak menyangka Vino memanggil ibunya dengan sebutan "Tante."
"Kenapa harus di kejar? Tantenya kan mau pulang," Ali bersikap santai dan dingin. Sebenarnya ia juga ingin tahu mengapa Dilah tiba-tiba beranjak pergi.
"Kalau Papa enggak mau kejar Tante, biar Vino aja yang mengejarnya."
Vino lari menyusul Dilah. Vino memeluk setengah tubuh Dilah dari belakang. Ia tidak cukup tinggi untuk memeluk seluruhnya. Dilah memutarkan tubuhnya dan berjongkok untuk menyeimbangkan tinggi badan mereka.
"Tante ngambek ya? Vino ada salah ya sama Tante sampai Tante pergi gitu aja," Vino menunjukkan mata bulatnya yang menggemaskan.
"Tante enggak ngambek kok," Dilah berkilah, ia tidak ingin Vino menjadi sedih.
"Vino," nafas Ali tersengal karena mengejar Vino. Ia memegang dadanya dan mengatur nafas.
"Iya, Papa enggak akan buat Tante ini ngambek. Vino balik ya temenin Tania. Biar Papa bicara pada Tante ini."
"Heem.." Vino terlihat lesu untuk kembali.
Vino menoleh ke belakang, "Papa jangan jahatin Tante ya, Pa," Vino memberi peringatan.
"Iya Vino,"
Vino berlari ke taman dimana ada Eldo dan Tania. Sedangkan Dilah dan Ali berhadapan satu sama lain.
__ADS_1
"Kamu mau menikah lagi?"
Dilah masih menahan air matanya. Hatinya masih terasa sesak dan hancur.
"Iya, jika itu yang terbaik untuk Vino. Kau tahu bukan dia sedih karena ia tidak mendapatkan apapun dari Mamanya. Mungkin dia akan mendapatkan kasih sayang dari Mama barunya." untuk pertama kalinya Ali berani untuk bersikap dingin.
"Kau jahat Ali! Kau jahat!" Dilah memukul dada Ali untuk melampiaskan kekesalannya.
"Mengapa saat aku mulai mencintaimu malah kau ingin menyakitiku? Kau ingin balas dendam padaku?" sejak tadi Dilah menahan air mata. Namun pada akhirnya air mata itu lolos di pipinya.
"Aku mencintaimu, Ali. Aku mencintaimu." ucap Dilah sambil menangis.
Degh!
Sudah lama sekali, sudah lama sekali aku menunggu kata-kata itu. Ya Tuhan, akhirnya dia mencintaiku, sudah sejak lama aku menginginkan rasa cintaku di balas olehnya.
"Kau hanya diam, kau sudah tidak mencintaiku lagi?" bulir-bulir air mata jatuh deras membanjiri pipinya.
"Baik, jika kau tidak mencintaiku. Kau menunggu surat pisah kita kan? Aku sudah punya surat itu, datang lah ke rumahku dan kita selesaikan semuanya."
Dilah berlari sambil menangis menuju mobilnya. Dilah tak menyangka Ali hanya diam setelah ia mengatakan perasaannya.
"Rasanya sakit, Ali. Kau tidak membalas cintaku," Dilah menghidupkan mobil dan pulang ke rumahnya.
__ADS_1