Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Minta Maaf


__ADS_3

Ali berpakaian rapi. Ali bersiap-siap untuk pergi. Ali ingin berangkat ke rumah besar di kediaman Dilah.


"Vino, Papa izin pergi ya," Ali duduk di pinggir tempat tidur dan mencium kening Vino.


"Papa mau kemana?" Vino cemberut masam melihat ayahnya yang ingin pergi.


"Ke rumah Mamanya Vino," Ali tersenyum lembut.


"Ke rumah Mamanya Vino?" Vino terkejut. "Papa, Vino ikut ya, Pa." Vino berusaha untuk duduk. Vino ingin berdiri dan ikut bersiap untuk pergi.


"Vino kan sakit, jadi Vino di rumah aja ya,"


"Vino mau ikut, Pa. Vino mau ikut," Vino meronta-ronta ingin ikut.


"Vino masih sakit. Nanti kalau Mamanya Vino lihat Vino sakit, Mamanya Vino sedih. Vino di rumah ya," pinta Ali pada putranya.


"Hemm. Ya udah, Vino di rumah." Vino memasang wajah cemberut.


"Papa pergi ya," Ali mencium kening Vino kemudian Ali mengulurkan tangan agar Vino mencium punggung tangannya.


"Hem, Papa hati-hati," ucap Vino dengan menahan kesal.


"Iya," Ali tersenyum lembut.


Hannum masuk ke kamar cucunya. Ali langsung pamit pada ibunya.


"Bu, jaga Vino ya. Ali pergi dulu," Ali pamit pergi.


"Iya, kamu hati-hati,"


Ali mengangguk dan mencium punggung tangan ibunya. Ali bergegas ke rumah Dilah dengan mengendarai sepeda motor.


"Aku harus membawa Nona Dilah kembali," tekad Ali.


Jam menunjukkan pukul 9 malam. Ali sampai di rumah besar dan mewah. Rumah pemilik perusahaan One Stars. Ali memarkirkan motornya. Ali melangkah dengan bimbang. Ia menarik nafas dan membuang nafasnya dengan perlahan. Jantungnya berdebar diatas rata-rata normal.


Ali memencet bel di dinding dekat pagar. Satpam wanita datang menghampiri Ali.


"Pak, Nona Dilah tidak pernah menerima tamu laki-laki apalagi malam-malam begini. Lebih baik Bapak pergi!" usir satpam tersebut.

__ADS_1


"Saya mohon Nona. Saya benar-benar ingin bertemu dengan Nona Dilah," ujar Ali dengan lirih.


"Pak, ini sudah menjadi peraturan di rumah ini. Mungkin Bapak belum tahu, tapi Nona Dilah Wiranata melarang setiap laki-laki untuk masuk ke rumahnya," ucap satpam dengan tegas.


"Saya tahu Nona, saya bahkan lebih tahu tentang Nona Dilah dibandingkan Anda. Saya sangat mengetahui dia karena saya adalah suaminya." Ali ngotot ingin masuk ke rumah tersebut.


Seandainya ada Ibu Susi pasti aku dapat masuk ke rumah ini dengan mudah, Ali membatin.


"Pak, jangan mencoba berbohong. Ini sudah menjadi peraturan di rumah ini." Satpam tersebut bersikukuh untuk melarang Ali masuk.


"Saya tidak berbohong. Izinkan saya masuk! Jika Nona Dilah tahu Anda melarang saya masuk pasti Anda akan di pecat." Ali mengancam petugas tersebut.


Satpam tersebut melihat sinis pada Ali.


"Ya sudah tunggu sebentar," ucap satpam tersebut sambil berjalan menuju rumah besar.


Ali berteriak, "Katakan padanya Ali datang." Satpam tersebut menoleh dengan kesal.


Satpam tersebut masuk ke rumah besar untuk memberikan laporan atas kedatangan tamu laki-laki.


"Permisi, Nona!" Satpam tersebut menunduk.


"Ada pria aneh yang mengaku sebagai suami Anda Nona. Orang aneh tersebut bernama Ali," ucap Satpam tersebut seenaknya.


"Lalu kau tidak mengizinkannya masuk?" Dilah meninggikan suaranya.


"Iya Nona, kan sudah menjadi peraturan rumah ini bahwa laki-laki dilarang masuk." satpam tersebut mengingatkan Dilah tentang peraturan yang dia buat.


"Kau ingin aku pecat? Cepat bawa dia masuk kesini!" pinta Dilah dengan tegas.


Aneh? Mengapa Nona Dilah membolehkan dia masuk?


Satpam tersebut tergopoh-gopoh menuju pagar. Kemudian ia membuka pagar tersebut.


"Silahkan masuk!" satpam menunduk.


"Terima kasih," Ali tersenyum simpul.


Ali melanjutkan langkahnya untuk bertemu dengan orang yang paling ia cintai. Ali menguatkan batinnya. Ia membacakan doa sebelum masuk ke rumah. Ketika Ali membuka pintu, Ali dengan jelas melihat Dilah yang berdiri. Dilah berurai air mata melihat kedatangan Ali. Dilah tak bisa membendung air mata tersebut. Rasa cinta, sakit, rindu bercampur aduk di hatinya. Dilah mendekati Ali dan berjongkok untuk memegang kaki suaminya dan meminta maaf atas kesalahannya.

__ADS_1


Ali membangunkan Dilah," Nona, jangan seperti ini!" Ali menuntun Dilah untuk berdiri.


"Maafkan aku, Ali. Maafkan aku," Dilah terisak tangis.


"Aku... Aku banyak salah padamu. Aku banyak dosa padamu. Aku bukan istri yang baik untukmu. Aku bukan ibu yang baik untuk Vino." ucap Dilah dengan suara lirih. Air matanya membanjiri pipinya yang mulus.


"Aku baru sadar betapa pentingnya kamu dan Vino untukku. Aku... Aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Ali. Aku sangat sayang pada Vino putra kita." Dilah menyatakan perasaannya yang selama ini ia pedam dan tutup-tutupi. Untuk pertama kalinya Dilah mengakui Vino sebagai anaknya di depan Ali dengan suara lisan bukan dengan suara batinnya.


"Sekarang aku ikhlas kalau kita harus berpisah. Aku ikhlas kau ingin menikah lagi. Aku ingin kamu dan Vino bahagia. Aku mohon cari ibu yang baik untuk Vino. Cari istri yang memperlakukanmu dengan baik tidak seperti aku."


Ali masih diam, ia belum menanggapi apa yang diucapkan Dilah.


"Oh ya, ini surat gugatan cerai," Dilah memberi surat tersebut beserta pena. Seketika mata Ali berkaca-kaca.


"Talak aku sekarang dan tandatangani surat itu," pinta Dilah dengan terpaksa. Sebenarnya Dilah ingin selalu bersama dengan orang yang ia sayangi. Namun Dilah tak mau egois. Mengingat kesalahan yang dulu membuatnya sadar bahwa ia tak pantas untuk Ali.


"Arggh! Tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya, Nona." Ali menetesakan air matanya. Dilah terkejut mendengar ucapan Ali.


"Aku tidak bisa melakukannya. Aku mencintaimu, Nona. Aku mencintaimu."


"Apakah kau ingin pergi meninggalkanku? Aku sudah tersiksa hidup tanpa dirimu. Apakah kau mau menyiksaku lagi?"


"Aku... Aku kuat sampai di titik ini karena Vino anak kita. Sungguh aku benar-benar tersiksa tanpamu. Aku masih mencintaimu. Bahkan cintaku bertambah besar setelah lahirnya Vino di hidup kita."


"Kamu.. Kamu mencintaiku?" Dilah tak percaya dengan ucapan Ali. Ia berpikir bahwa cinta Ali telah hilang untuknya.


"Iya, mengapa kau pergi sebelum aku menjawab waktu itu. Padahal aku ingin menjawab bahwa aku juga mencintaimu." Ali mengatakan fakta tentang waktu itu.


Dilah langsung memeluk Ali dengan erat. Sudah lama sekali ia mengingikan pelukan ini. Dilah menangis di balik punggung Ali begitu juga dengan Ali.


"Maafkan aku... Aku banyak salah padamu. Aku bukan istri yang baik untukmu. Aku bukan ibu yang baik untuk Vino. Aku akan menebus semua kesalahanku. Aku benar-benar menyesal telah mengusirmu. Hiks..Hiks.. Hiks... Aku sangat mencintaimu," Dilah semakin erat memeluk Ali. Ia tak ingin melepaskannya kali ini.


"Aku sudah memaafkanmu. Tidak mungkin tidak memaafkanmu. Aku begitu mencintaimu."


Ali melepaskan pelukannya membuat Dilah cemberut masam.


"Lihat ini!" Ali merobek surat gugatan cerai tersebut dan menghamburkannya ke atas. Kertas-kertas kecil tersebut jatuh mengenai tubuh mereka.


"Aku ingin kita bersama, membuka lembaran baru dan melupakan masa lalu." Ali memegang bahu Dilah.

__ADS_1


Ali mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya. Cukup lama mereka berciuman. Sampai akhirnya Dilah menarik Ali masuk ke kamarnya.


__ADS_2