Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Vino Ceria


__ADS_3

"Kok Vino gitu sih marah-marah sama Papa Vino?


"Papa jahat Tante! Siapa sih Tante orang yang ngasih utang sama Papa? Kalau Vino tahu, Vino akan kasih semua mainan Vino untuknya. Vino kasih semua mainan Vino agar dia ijinin Papa untuk libur kerja. Dia sudah ambil waktu Vino sama Papa." ujar Vino kesal dan memukul bangku dengan tangan munggilnya untuk melampiaskan kekesalannya.


kata-kata Vino seperti menyindir Dilah. Ali hanya punya utang pada Dilah.


Vino maaffin Mama ya, karena Mama Vino jadi marah sama Papa. Dilah hanya bisa membatin ia terlalu takut untuk mengatakannya.


Aku tidak pernah mengharapkan uang itu di bayar. Aku sudah menganggap utang itu lunas. Pasti Ali berpikir utang tetaplah utang yang harus dibayar. Seharusnya waktu di rumah sakit, aku mengatakan pada Ali bahwa utangnya sudah lunas dan tidak perlu di bayar. Ya Tuhan, bodohnya aku. Dilah


"Tante, Tante mengapa melamun?" Vino memegang tangan Dilah untuk menyadarkan Dilah dari lamunannya.


"Eh.. Vino, Vino mau enggak kalau Tante yang nemenin Vino lomba?"


Bodoh, aku menyebut diriku Tante padanya. Aku terlalu gengsi dan takut untuk mengatakan sejujurnya, batin Dilah mengutuk ucapannya.


Vino berbinar senang, raut wajahnya berubah ceria.


"Beneran Tante mau temenin Vino? Beneran Tante mau libur kerja demi Vino?" Vino meloncat girang. Ia punya penyemangat saat lomba.


"Iya, besok Tante temenin Vino," Dilah tersenyum melihat Vino yang meloncat kegirangan.


"Tante gak bohong kan? Tante beneran mau datang? Tante semangatin Vino ya?"

__ADS_1


"Iya Vino, Tante bakalan datang yang penting Vino jangan menangis lagi,"


"Terima kasih ya, Tante datang ya ke TK *****. Jam 8 pagi ya Tante,"


"Iya, Tante pasti datang,"


Vino memeluk Dilah dengan erat. Rasanya sangat menghangatkan. Sudah lama sekali Dilah tak bersama Vino.


"Iya sudah, Vino pulang ya. Nanti Vino dicariin Papa," Dilah melepaskan pelukannya. Sebenarnya ia tidak ingin untuk melepaskannya.


"Papa jam segini belum pulang. Papa pulang jam 6 sore. Tapi Nenek yang bakalan nyariin Vino."


"Tuh.. Kan, nanti Nenek Vino kasihan nyariin Vino. Vino pulang ya jangan kemana-mana lagi setelah ini." Vino tersenyum dan memeluk Dilah lagi.


"Vino jangan bilang ya sama Papa Vino kalau Tante yang nemenin Vino besok,"


"Siap Tante, Vino pulang ya." Vino mencium punggung tangan Dilah kemudian ia berjalan menuju rumahnya. Dilah hanya melihat punggung Vino yang berjalan. Kemudian, Vino berbalik arah melihat Dilah kembali. Dilah tersenyum melihat Vino kemudian Vino membalas senyuman itu dan lanjut berjalan.


Pantas saja Ali sangat rapuh ketika Vino sakit. Ternyata Vino begitu berarti untuknya. Vino begitu menyejukkan hati. Mengapa dulu aku membuangnya, mengapa aku mengusir mereka berdua. Aku menyesal sekarang. Jika aku mengakui bahwa aku ibunya Vino. Apakah Vino mau menerimaku?


Vino semakin rajin berlatih untuk menggambar. Besok adalah perlombaan menggambar dan mewarnai. Ali melihat Vino sedang menggambar di kamarnya. Ali agak ragu untuk menemui Vino. Ia takut Vino marah karena tidak memenuhi keinginan putranya.


"Papa," Vino melihat Ali di depan pintu.

__ADS_1


Ali hanya bisa menggaruk kepalanya. Tapi raut wajah Vino tidak seperti semalam. Vino terlihat ceria.


"Vino sudah tidak marah lagi ya sama Papa?" Ali melangkah perlahan.


"Enggak, Vino enggak marah lagi sama Papa," Vino melanjutkan untuk menggambar


"Maaffin Papa ya, tidak bisa temenin Vino," ucap Ali lirih, Ali sebenarnya ingin sekali melihat Vino lomba.


"Iya, Vino maaffin," ucap Vino singkat.


"Enggak apa-apa kan, Vino enggak ada yang temenin?" suara Ali terdengar lirih.


"Vino ada yang temenin kok, Pa," ucap Vino girang.


"Siapa?" tanya Ali heran tidak mungkin Hannmu yang menemani Vino.


"Rahasia Pa. Orangnya baik kok,"


"Vino jangan dekat-dekat sama orang yang belum Vino kenal,"


"Vino sudah kenal kok, Pa."


Mungkin itu teman Vino, ya sudah setidaknya Vino tidak sedih seperti semalam. Ali

__ADS_1


__ADS_2