Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Vino Demam


__ADS_3

"Vino, bangun!" Ali memanggil putranya yang masih berbaring di tempat tidur. Ali duduk di pinggir tempat tidur.


"Vino, bangun! Hari ini Vino kan sekolah." Ali menggoyangkan tubuh Vino.


"Pa," suara Vino terdengar pelan.


Ali melihat wajah anaknya yang pucat. Ia meletakkan tangannya di dahi Vino untuk mengecek suhu tubuh.


"Ya Tuhan, panas." pekik Ali.


"Pa, Vino kangen Tante, Pa." ucap Vino lirih.


"Ibu! Ke sini lihat Vino," Ali berteriak.


Hannum berjalan cepat ke kamar Vino. "Ada apa? Mengapa berteriak?"


"Vino sakit, Bu." ucap Ali dengan lirih.


Hannum menempelkan tangannya di dahi Vino untuk mengecek suhu tubuh.


"Panas," pekik Hannum.


"Putramu demam, Ali." Hannum menoleh kearah Ali.

__ADS_1


"Nek, Vino kangen Tante, Nek." ucap Vino dengan nada lirih.


"Tante?" Hannum mengerutkan dahinya. Ia tak pernah mengetahui tentang tante yang dimaksud Vino.


Ali membisikkan ke telinga Hannum mengenai orang yang di maksud Vino.


"Sejak kapan Vino bertemu Mamanya?" tanya Hannum heran dengan suara berbisik agar Vino tak mendengar.


"Sudah cukup lama," Ali menjawab dengan pelan.


"Pa, Vino kangen sama Tante," Vino meneteskan air matanya. "Mengapa Tante ninggalin Vino?" tanya Vino dengan lirih.


Ali dan Hannum saling pandang kemudian mereka melihat Vino. Hannum menyenggol tubuh Ali. kemudian ia menarik tubuh Ali agar lebih dekat untuk berbisik.


Vino, begitu kangen kamu sama Mama kamu sampai sakit begini? Maaffin Papa Vino. Maaffin Papa. Batin Ali.


Hannum ke dapur untuk mengambil kain dan air hangat. Gunanya untuk mengompres agar suhu tubuh Vino turun. Hannum kembali membawa mangkuk berisi air hangat dan kain kemudian ia meletakkan kain tersebut di dahi Vino.


"Pa, Vino kangen banget sama Tante," Vino memegang tangan Ali. "Vino mau bertemu sama Tante," Ali mengambil tangan Vino dan mencium tangan munggil Vino.


"Papa bawa Tante ya, Pa. Papa janji ya," Vino memancarkan mata yang begitu memohon membuat Ali tak tega.


"Papa janji Vino, Papa janji akan membawa dia kesini," ungkap Ali berjanji.

__ADS_1


Vino tersenyum tulus, membuat Ali tidak tega untuk mengingkari janjinya.


Ali bersiap-siap untuk pergi bekerja. Sebelum Ali ke tempat kerja. Ali terlebih dahulu ke tempat dimana Vino bersekolah dan memberikan surat pernyataan Vino sakit. Setelah dari sekolah, Ali lanjut ke bangkel dimana ia bekerja. Selama Ali bekerja, ia selalu memikirkan Vino. Rasanya tidak tega meninggalkan Vino akan tetapi Ali juga butuh uang untuk makan sehari-hari dan menabung uang untuk masa depan Vino. Belum lagi Ali menyisihkan uang untuk membayar utang. Jadi ia tak mungkin ijin libur bekerja.


Jam pulang kerja, Ali bergegas pulang. Ia masih menghawatirkan Vino di rumah.


"Ibu, bagaimana keadaan Vino?" Ali masih khawatir.


"Panasnya sudah turun," jawab Hannum.


"Ali, ibu mohon bawa istrimu kesini. Akhiri semua kesalahpahaman ini. Akhiri semuanya ini demi kebaikan Vino."


Ali mengangguk, "Ali sudah berjanji pada Vino untuk mempertemukan Vino dengannya,"


"Oh ya ada kalimat yang kurang tadi," Hannum tersenyum misterius.


"Apa Bu?" Ali menyernyitkan dahinya.


"Demi kebaikan Vino dan demi kebaikanmu juga. Ibu tahu sampai sekarang kau masih mencintainya, bukan?" Hannum tersenyum menggoda.


"Ibu jangan mulai," Ali malas menjawab pertanyaan ibunya.


"Hahaha, kau masih malu saja dengan ibumu ini," tawa Hannum sambil mengusap kepala Ali. Ali diperlakukan seperti anak kecil olehnya.

__ADS_1


__ADS_2