Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Belum Hamil


__ADS_3

Dilah geram, ia tidak ingin mendengar penjelasan Gina karyawannya. Para keamanan kantor mengusir Gina. Dilah seperti dihianati. Hatinya begitu sesak, kali ini dia kalah dengan ayahnya. Perusahaannya hampir bangkrut. Pasti Menir tertawa puas karena kemenangannya ini.


Beberapa bulan kemudian, Dilah kembali membangun usahanya. Ia menstabilkan semuanya. Ia dan Menir membuat perjanjian untuk bersaing secara sehat. Sekarang usahanya kembali pulih.


***


Sebulan kemudian, Dilah melihat hasil test pack yang menunjukkan garis 1. Dilah benar-benar murka, ia sudah menyewa Ali dan membayarnya dengan layak. Tapi mengapa dia belum hamil juga?


"Ali!" teriak Dilah mengudara di aparteman miliknya.


Ali langsung menuju sumber suara dengan tergesa-gesa.


"Mengapa aku belum hamil juga? Kau telah membuang waktuku," ujar Dilah murka dan melotot tajam pada Ali.


"Sehebat apapun aku melakukannya jika Tuhan belum memberikan anugrah untuk kita memiliki anak, aku bisa apa?" ucap Ali memelas.


"Aku tidak peduli, aku memberimu waktu 2 bulan. Jika aku tidak hamil juga, aku akan mengugat cerai dirimu," ujar Dilah mengancam.


Ali bergidik gilu, ia berkeringat dingin. Ali tidak ingin diceraikan dengan Dilah, wanita yang paling ia cintai.


"Nona, terima kasih telah memberiku kesempatan," Ali menunduk takut. Ia menangkupkan tangannya.


"Baik kita akan mencoba lagi. Aku tidak mau ini gagal lagi!"


Ali berdoa dari lubuknya, Ya Tuhan, semoga saja aku punya anak, semoga saja anak itu perempuan agar istriku tidak menceraikanku. Semoga anakku wanita cantik seperti ibunya. Aamiin

__ADS_1


"Tunggu apalagi, ayo kita mulai!" seru Dilah.


Aku harus mulai dari mana? Apa aku menunggu dia memulai duluan? Aku gugup sekali!


"Hei kau mau aku ceraikan!" Ancam Dilah.


"Baik! Baik Nona!"


***


"Huam," Dilah bangun dari tidurnya, ia melihat jam yang berada di dinding. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Dilah benar-benar terkejut. Akibat malam panjang ia jadi kelelahan dan bangun kesiangan.


Dilah menuju kamar mandi, ia mendengar air jatuh dari lantai kamar mandi. Sepertinya ada orang yang mandi di dalam. Siapa lagi kalau bukan Ali yang mandi. Mereka hanya tinggal berdua di apartemen.


"Ali cepat, aku kesiangan!" teriak Dilah sambil mengetuk pintu.


"Aku tidak peduli, cepat keluar!" Dilah berteriak.


Ali memakai handuk tanpa membilas busa sabun yang ada ditubuhnya.


"Kau masih memakai sabun?" Dilah menjadi geram.


"Iya Nona, belum sempat kubilas," ucap Ali menunduk.


Aduh bagaimana ini, jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Dilah menimbang-nimbang.

__ADS_1


"Ayo masuk!" Dilah memaksa Ali untuk masuk ke dalam kemudian Dilah mengikuti dari belakang.


Glek!


"Nona, Anda yakin ingin mandi bersamaku?" tanya Ali malu-malu.


"Sudah jangan banyak bertanya, cepat mandi kita akan terlambat."


Setelah sampai kantor, Fina melihat usil kepada Ali dan sahabatnya.


"Ada apa?" tanya Dilah ketus.


"Tidak biasanya Bos Dilah yang profesional terlambat," sindir Fina yang membuat Dilah geram.


"Fina!" Dilah mengucapkan nama sahabatnya itu dengan geram.


Fina memikirkan hal-hal aneh dipikirannya. Dilah malas melihat tatapan Fina yang meledeknya. Fina melihat Ali yang membawa tas dan berkas-berkas Dilah.


"Ali!" panggil Fina.


"Iya Nona," Ali berhenti mengekori Dilah dan menunduk hormat kepada Fina.


"Tidak biasanya kau dan bosmu itu terlambat," ujar Fina tersenyum usil


"Itu karena..." Ali menggantungkan kata-katanya sembari berpikir. "Itu karena kami lupa menyalakan alarm, iya, iya karena itu..." ujar Ali berkilah.

__ADS_1


"Bukankah Dilah bisa bangun pagi sendiri tanpa suara alarm?"


__ADS_2