Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Vino Marah


__ADS_3

"Vino kenapa yakin kalau itu Mama Vino?"


"Karena Papa bilang Mama Vino cantik dan Tante itu cantik, mungkin saja Tante itu Mama Vino." Vino menjawab dengan polosnya.


Pipi Dilah merah merona setelah mendengar ucapan putranya. Hatinya begitu berdebar.


"Vino, bukan berarti semua wanita cantik itu Mama Vino," ujar Ali sambil mengusap kepala putranya.


Dilah cemberut masam mendengar jawaban dari suaminya. Tidak tahu kenapa ia begitu kesal. Mengapa Ali tidak mengatakan sejujurnya.


"Jadi itu bukan Mama Vino?" Vino cemberut masam. Ternyata doanya untuk bertemu dengan ibu tidak di kabulkan. Padahal Tuhan benar-benar mengabulkannya. Dugaan Vino bahwa Dilah adalah ibunya merupakan suatu kebenaran.


"Vino jangan banyak bicara dulu, Vino istirahat ya. Papa keluar sebentar untuk membayar administrasinya," Ali mengecup kening Vino.


Ali keluar dari ruangan dan diikuti Dilah dari belakang. Dilah menarik tangan Ali ketika sudah berada di luar kamar Vino.


"Mengapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya? tanya Dilah kesal.


"Untuk apa aku mengatakan yang sebenarnya? Bukankah Nona tidak mau menganggapnya sebagai anak? Jika aku mengatakan kebenarannya itu sama saja aku menyakiti Vino."


Ali melanjutkan langkahnya.


"Kau mau kemana?" Dilah menarik paksa tangan Ali.


"Aku ingin membayar administrasi untuk Vino," Ali lanjut melangkah.


"Aku sudah membayar semuanya,"

__ADS_1


Ali berbalik arah melihat Dilah yang berada di belakangnya.


"Aku akan melunasi semua utangku padamu. Aku berjanji akan melunasi semuanya agar aku dan Vino bisa lepas darimu."


"Oh ya, mana surat cerai yang akan aku tandatangani. Bukankah Nona ingin menceraikanku?"


Degh!


Jantung Dilah seperti berhenti berdetak. Dilah lansung pucat mendengar ucapan Ali. Entah mengapa rasanya sangat sesak. Sekarang Ali sudah lebih berani dari yang dulu. Dilah tidak pernah serius untuk menceraikan Ali. Tidak tahu apa penghambatnya. Tapi ia benar-benar tidak ingin bercerai.


Apakah dia sudah tidak mencintaiku?


"Jika belum membawanya tidak apa. Ini alamat rumahku, kau bisa kirim surat itu ke sana. Dengan senang hati aku akan menandatanganinya." Ali memberikan alamat rumahnya pada Dilah.


Dilah hanya diam seribu bahasa. Ia tidak menyangka Ali benar-benar menunggu surat itu. Dilah hanya melihat punggung Ali yang berjalan menuju ruangan Vino.


Beberapa hari kemudian, Vino sembuh. Ia sudah bisa ke sekolah. Ternyata di sekolah akan mengadakan lomba menggambar dan mewarnai. Waktu mendaftarnya tinggal 2 hari lagi. Vino mendaftarkan dirinya untuk ikut lomba. Lomba ini terlalu mendadak untuk Vino karena Vino di rumah sakit jadi ia ketinggalan informasi.


"Papa," ucap Vino ketika melihat ayahnya duduk di dekatnya.


"Iya Vino, lanjutkan menggambarnya!" ucap Ali sambil mengelus rambut Vino.


"Papa mau temenin Vino lomba menggambar dan mewarnai di sekolah?" tanya Vino antusias.


"Vino, Papa enggak bisa nemenin Vino. Papa kan harus kerja," ucap Ali sambil memegang bahu Vino.


"Papa libur satu hari ya buat Vino. Papa bisa kan libur satu hari untuk Vino?" Vino menjadi sedih mendengar penolakan ayahnya.

__ADS_1


"Tidak bisa Vino, Papa sudah banyak libur kerja untuk Vino. Papa juga harus menabung uang buat bayar utang Papa. Vino bisa kan ngertiin Papa,"


"Papa jahat! Papa enggak mau nemenin Vino. Papa jahat!" Vino menepis tangan Ali yang memegang bahunya.


Vino mengambil buku gambar dan pensil warna. Kemudian, ia masuk ke kamarnya.


"Papa jahat! Masa Vino enggak ada yang nemenin. Kalau ada Mama, pasti Mama yang nemenin Vino gantiin Papa."


Besoknya, setelah pulang sekolah. Vino duduk di taman. Ia enggan pulang ke rumah. Vino masih marah sama ayahnya yang tidak mengikuti keinginan Vino.


"Itu kan anaknya Ali," ucap Dilah ketika melewati taman.


Vino terlihat sedih, sesekali Vino menghapus air matanya. Ia membayangkan besok ia tidak ditemani siapapun dalam lomba. Vino juga tidak berharap banyak dari neneknya. Neneknya sering mengeluh sakit jadi Vino tidak mungkin mengajak neneknya.


Dilah keluar dari mobil dan menghampiri putranya yang sedang menangis.


"Vino," panggil Dilah dengan lembut.


"Tante, ini Tante yang menjenguk Vino ya?" Bahkan Ali tidak bercerita bahwa orang yang menabrak Vino adalah ibunya. Vino berpikir Dilah datang untuk menjenguknya. Padahal Dilah datang waktu itu untuk bertanggung jawab atas kesalahannya yang telah menabrak Vino.


Vino mengira aku datang untuk menjenguknya waktu itu. Ali, lagi-lagi kau menyembunyikan kesalahanku dari anak kita.


Anak kita? Apa ini pertanda bahwa Dilah sudah mau mengakui Vino sebagai anaknya?


"Iya, masih ingat kan?"


"Masih," Vino tersenyum ceria. Ia menghapus air matanya.

__ADS_1


"Kenapa Vino menangis?" Dilah duduk di samping Vino.


"Vino marah sama Papa. Papa jahat sama Vino. Papa enggak mau temenin Vino diacara lomba. Papa enggak bisa libur kerja. Kata Papa, Papa mau bayar utang jadi Papa enggak bisa libur." Vino menjelaskan keluh kesahnya. Kemarahan pada sang ayah.


__ADS_2