
Ali menggaruk kepalanya pelan kemudian ia menoleh kearah Dilah.
"Sini, aku bantu menjawabnya," ujar Dilah agak lembut.
Dilah adalah wanita cerdas. Bahkan, kecerdasannya mengalahkan Ali_suaminya. Dilah mengisi teka-teki silang yang belum terjawab oleh Ali. Dilah berdekatan dengan Ali, jaraknya tidak terlalu jauh.
Ya tuhan, hatiku berdebar kencang, Ini kesempatan bagus untuk melihatnya, batin Ali sambil memegang dadanya dan melihat Dilah tanpa berkedip.
Dilah merasa terusik dilihat terus oleh Ali. Ia menoleh kearah Ali, "Apakah aku menyuruhmu untuk memandangiku?" tanya Dilah dengan galak.
Ali mengedipkan matanya kemudian ia menunduk malu. Sudah sekian kalinya Ali dipergoki Dilah karena memandang wajahnya.
"Aku tahu aku cantik tapi aku risih jika kau memandangiku seperti itu," ujar Dilah kesal.
Ali hanya diam, ia takut berkata sesuatu. Salah bicara dia bisa habis dibuat Dilah.
"Jika kau sangat menyukai wajahku, aku akan memberimu 10 menit untuk memandangi wajahku."
Ali masih menunduk, ia malu melihat Dilah. Ali takut salah tingkah. Dilah bersiul dan menjentikkan jarinya di depan wajah Ali. Dan memaksa Ali agar melihat dirinya.
"Ayo, lihat aku!"
Dengan takut-takut Ali melihat Dilah. Ketika ia memandang wajahnya. Hatinya berdebar kencang. Tanpa sengaja wajahnya berbinar dan senyuman muncul di bibirnya. Ia membayangkan memeluk Dilah dengan mesra. Membayangkan menciumnya dan mendapatkan Dilah seutuhnya.
__ADS_1
"Sudah cukup!" Dilah menjentikkan jarinya.
Ali masih melamun, ia benar-benar terpesona dengan Dilah.
"Sudah cukup, Ali!" seru Dilah dengan suara meninggi.
Ali tersentak, ia meremas tangannya. Ali mengalihkan pandangannya, ia tidak berani memandang wajah Dilah lagi.
"Ali, aku sangat tahu bahwa kau mencintaiku. Aku mau kau buang cinta itu. Cepat atau lambat kau akan aku singkirkan!"
"Kau akan tersakiti jika terus mencintaiku,"
ujar Dilah yang ditanggapi wajah sedih dari Ali. Dilah melangkah pergi menghilang dari pandangan Ali.
***
Besoknya Dilah menerima sebuah laporan. Pendapatannya merosot jauh. Hal ini membuat ia menahan marah. Siapa dalang di balik semua ini? Dilah melempar laporan tersebut dengan kesal.
"Tenang, Dilah! Kau telanglah dulu," ucap Fina menenangkan.
Dilah mengeluarkan nafas panjang berulang-ulang. Kepalanya mendidih, siapa orang di balik semua ini?
Dilah melihat marah pada semua karyawannya. Ia menggebrak meja sangat kuat membuat para karyawan terkejut termasuk Fina.
__ADS_1
"Jangan katakan ini semua ulah si Tua Bangka itu yang bernama Menir." mata Dilah mengeluarkan pancaran kebencian.
"Sebenarnya ini semua ulah ayah Anda, Nona," ucap Luci agak takut.
Dilah melihat Luci dengan kesal. Ia memalingkan wajahnya dari para karyawan.
"Kalian boleh keluar!" teriak Dilah mengusir.
Semua karyawan yang di panggil keruangan Dilah keluar kecuali Fina sahabatnya.
"Aku akan menyelidiki siapa penghianat di perusahaanmu, aku yakin ada sesorang yang berhianat."
"Cepat selidiki!" perintah Dilah.
Fina mencari beberapa bukti dari rekaman cctv dan beberapa hal lainnya. Ia terkejut ada suatu kejanggalan. Tebakan Fina tak pernah meleset. Setelah melakukan pencarian ternyata Fina sudah mengantongi siapa pelakunya.
Fina ke ruangan Dilah dan membisikkan nama kadidat pelakunya. Dilah tersenyum misterius. Fina memanggil orang tersebut untuk menghadap Dilah.
"Tidak kusangka," suara Dilah terdengar misterius.
"Apa maksud Nona memanggil saya kesini?"
"Kau dipecat!" ucap Dilah dengan tegas. Urat leher Dilah menegang karena amarah yang berkecambuk dihatinya. "Bisa-bisanya kau bekerja sama dengan Menir, Gina," teriak Dilah murka.
__ADS_1
"Ampuni aku Nona, ampuni kesalahanku," Gina berlutut dikaki bosnya.