
"Mama jangan ninggalin Vino lagi. Vino butuh Mama. Vino sayang sama Mama."
Dilah menyeka air matanya dan mengusap kepala Vino dengan penuh kasih sayang.
"Mama janji Sayang enggak akan ninggalin Vino lagi. Mama juga sayang sama Vino." Dilah mencium Vino, lalu matanya melihat kearah Hannum. Wanita paruh baya yang tersenyum melihat mereka berpelukan.
Dilah melepaskan pelukannya dengan Vino. Dilah mengembalikannya Vino pada ayahnya. Dilah mendekati Hannum dengan rasa malu dan bersalah.
"Apakah ibu ini adalah ibunya suami saya?" tanya Dilah dengan nada pelan. Dilah tak pernah mengetahui ibunya Ali. Yang ia tahu ibunya Ali sakit dan membutuhkan uang waktu itu. Ia tidak pernah menjenguk ataupun melihat Hannum sama sekali. Bahkan saat pernikahan Hannum tidak di undang olehnya.
"Iya, Nona." Hannum mengangguk.
Dilah bersipuh dengan lututnya. Ia ingin minta maaf dengan memegang kaki mertuanya.
"Maaffin Dilah, Bu. Selama ini Dilah udah nyakitin anak dan cucu ibu," Dilah terisak tangis.
"Nona, Nona...Bagun lah," Hannum membantu menantunya untuk bangun.
Dilah menghapus air matanya, "Kesalahan Dilah cukup banyak Bu, maaffin Dilah." Dilah menangis pilu membuat Hannum tersenyum. Tangisannya menunjukkan bahwa Dilah sudah sadar akan kesalahannya.
"Kemari lah, Nak. Hannum membuka lebar kedua tangannya. Dilah langsung memeluk Hannum.
"Ibu sudah maaffin kamu, tidak mungkin ibu tidak memaafkanmu. Berkat kamu ibu bisa bertahan hidup sampai sekarang. Berkat kamu juga ibu bisa melihat cucu ibu."
__ADS_1
Hannum membantu menghapus air mata yang membanjiri pipi menantunya. Ia memperlakukan menantunya seperti putrinya sendiri.
"Kita mulai semuanya dari awal. Kita buka lembaran baru."
"Iya Bu, terima kasih sudah memaafkanku."
"Sama-sama," Hannum tersenyum.
"Oh ya, ibu sudah masak banyak hari ini." Hannum mengajak masuk keluarga kecil putranya.
***
"Vino senang banget makan seperti ini, ada Mama, ada Papa dan ada Nenek juga." Vino tersenyum lembut.
"Vino percaya, Pa. Benar apa yang Papa bilang Mamanya Vino cantik kaya princess," ucap Vino dengan polosnya.
Pipi Dilah merah merona sedangan Ali menggaruk kepalanya. Ia merasa malu ketahuan membicarakan kecantikan istrinya pada Vino.
Jadi selama ini dia mengagumiku sampai sejauh itu. Hem... Manis sekali. Dilah membatin.
"Vino hari ini enggak sekolah?"
"Enggak Ma, Vino demam dan tubuh Vino masih lemas,"
__ADS_1
"Kok bisa demam, kenapa?" Dilah tiba-tiba khawatir.
"Itu karena Vino kangen sama kamu. Dia merasa kehilangan kamu semenjak kamu ninggalin dia waktu itu. Rasa kangennya itu yang membuatnya jadi demam," jelas Hannum.
"Vino, kangen Mama ya?"
"Heem.." Vino mengangguk. "Mama pergi gitu aja waktu itu. Setelah itu Vino enggak pernah ketemu sama Mama. Vino kangen Mama." Vino cemberut masam.
"Maaffin Mama ya Sayang. Mama enggak tahu kalau Vino kangen sama Mama." Dilah berkaca-kaca, ia tak pernah berpikir sejauh ini tentang perasaan Vino.
"Iya Ma, Vino udah maaffin Mama," ucap Vino dengan senyum terukir di bibirnya. Terlihat cekungan lesung pipi yang menambah kesan imut di wajah Vino.
Setelah makan, Dilah mengajak keluarganya untuk tinggal di rumahnya. Rumah besar dan megah. Hannum dan Ali tak pernah membayangkan akan tinggal di rumah ini.
"Jadi ini rumah Mama?" tanya Vino kegirangan.
"Iya ini rumah mama," Dilah mengangguk.
"Wah.. Besar sekali. Benar kata Papa, Mama tinggal di rumah yang besar." Vino bercerita dengan polosnya.
"Ya, ayo kita masuk," Dilah membawa keluarganya masuk. Para pekerja di rumah tersebut terkejut. Dilah sudah berubah dan mengijinkan suami dan anak serta mertuanya tinggal di rumahnya. Suatu keajaiban yang tidak pernah dibayangkan.
Ibu Susi tersenyum ramah melihat kedatangan Ali beserta keluarga. Ia senang akhirnya Ali dan bosnya dapat berkumpul seperti dulu lagi. Ali membalas senyuman itu penuh arti dan terima kasih untuk ibu Susi yang telah membantunya.
__ADS_1