Bos Galak I Love You

Bos Galak I Love You
Menikah Lagi


__ADS_3

Vino berlari untuk sampai ke rumahnya. Rasa senang karena menang lomba membuatnya ingin cepat sampai ke rumah.


"Nenek," panggil Vino ketika Hannum sedang mengangkat jemuran.


"Vino," Hannum meletakkan pakaian di bangku teras rumahnya.


"Nenek, Vino menang lomba, Nek." Vino menunjukkan piala dan hadiah lainnya pada Hannum.


"Wah, selamat ya buat cucu Nenek," Hannum mencium pipi Vino kemudian ia memeluknya.


"Terima kasih Nek," Vino membalas pelukan neneknya.


"Vino, Nenek angkat jemuran dulu ya," Hannum melepaskan pelukannya dan mengusap rambut Vino. Lalu Hannum lanjut mengangkat jemuran.


"Iya Nek,"


Vino terlihat antusias menunggu ayahnya pulang kerja. Ia duduk di ruang tamu dan memegang piala beserta hadiah lainnya sambil menunggu Ali pulang.


"Vino, sebaiknya Vino mandi dulu. Papa masih lama pulangnya. Nanti, kalau Papa tahu Vino belum mandi nanti Papa marah," jelas Hannum sambil melipat pakaian.


"Iya Nek," Vino meletakkan piala dan hadiahnya diatas meja ruang tamu. Vino mandi terlebih dahulu.


Setelah mandi, Vino antusias menunggu ayahnya pulang. Ia ingin menceritakan kebahagiannya pada sang ayah.


"Assalamu'alaikum," Ali mengucapkan salam ketika hendak masuk ke rumah.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam," jawab Vino dan Hannum bersamaan.


Vino mengambil piala dan hadiah di atas meja. "Papa," ucap Vino berbinar. Orang yang Vino tunggu-tunggu akhirnya datang.


"Papa, Vino menang, Pa." ucap Vino kegirangan.


"Anak Papa menang?" Ali mengangkat Vino dan mendudukkan Vino di sofa.


"Iya Pa, Vino menang." Vino menunjukkan piala dan hadiah lainnya.


"Selamat ya Vino, Papa bangga sama Vino." Ali mencium pipi putranya dan melihat piala yang berada di tangan Vino.


"Lihat ini Pa, Vino dapat hadiah piala, pensil warna, buku tulis, dan buku gambar," Vino tersenyum manis lalu menunjukkan hadiahnya satu persatu pada Ali.


***


"Papa, Vino dukung yang baju merah," Vino menunjuk pemain bola yang berbaju merah.


"Oke, Papa yang baju biru ya," ucap Ali memihak pada pemain berbaju biru.


"Gool...!" ucap Ali bersorak. Vino terlihat lesu.


Tak lama kemudian, pemain berbaju merah mencetak gol.


"Goool...!" Vino meloncat kegirangan.

__ADS_1


Setelah tim berbaju merah mencetak gol. Tak ada gol selanjutnya sehingga suasana menjadi hening.


"Papa," Vino menarik lengan baju Ali sambil menguap.


"Vino ngantuk?"


Vino menjawab dengan gelengan kepala.


"Jadi?" Ali mengernyitkan dahinya.


"Papa, Vino ada satu permintaan," ucap Vino berbinar. Manik matanya membuat Ali tidak tega untuk menolak permintaan Vino.


"Apa Vino?"


"Vino mau Papa menikah lagi," Vino berbinar, ia pikir menikah semudah membeli mainan yang biasa Ali belikan untuknya.


Deg!


Jantung Ali seperti mau copot. Kebanyakan anak-anak tidak ingin orang tuanya menikah lagi. Tapi berbeda dengan Vino, Vino sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.


Apakah kasih sayang Papa kurang, Vino? Sehingga kamu menyuruh Papa menikah lagi?


Bagaimana dengan perasaan Nona Dilah? Jika dia tahu aku menikah lagi, berarti apa bedanya aku dengan ayahnya?


Ali berpikir sebelum menyetujui atau menolak permintaan Vino yang satu ini.

__ADS_1


Untuk apa aku peduli dengan perasaan Mamanya Vino? Sedangkan dia tidak pernah peduli dengan perasaan aku dan Vino. Baik, jika itu permintaan Vino. Aku akan menikah lagi demi kebahagiaan Vino.


__ADS_2