
Aku pikir dia tidak mendengarnya, Fina membantin.
"Eh tidak Dilah, ya sudah kita siapkan segalanya agar kau cepat punya anak." Fina mengalihkan pembicaraan.
***
"Nak, kau punya uang sebanyak itu dari mana?" tanya Hannum pada putranya.
"Ibu, Ibu tidak usah memikirkan dari mana aku mendapatkan uangnya yang terpenting ibu sehat," Ali memegang jemari ibunya kemudian menciumnya.
"Katakan, Nak! Jangan bilang kau mencurinya," Hannum menebak sesuai yang terlintas dipikirannya.
"Aku dapat pinjaman dari bos, Bu," ucap Ali dengan nada lembut.
"Bukankah kamu baru seminggu bekerja disana tidak mungkin bosmu memberikan uang sebanyak itu," Hannum mulai curiga.
"Bu, maafkan aku," suara Ali menjadi lirih membuat Hannum mengelus rambutnya.
"Katakan Nak, ibu selalu memaafkanmu," Hannum menahan air matanya.
"Aku meminjam uang tersebut bukan tanpa jaminan." Ali mengela nafas panjang.
"Apa jaminannya, Nak?" tanya Hannum dengan lemah lembut.
__ADS_1
"Aku harus menikahi bosku dan buat dia punya anak dan anak itu harus berjenis kelamin perempuan." ucap Ali sambil menempelkan tangan Hannum dipipinya.
"Jika anakmu laki-laki, bagaimana, Nak?" tanya Hannum iba. Nasib putranya berubah karena penyakit yang dideritanya.
"Aku akan berutang padanya seumur hidupku."
Hannum menahan tangis, dari keterangan yang Ali katakan terdengar jelas bahwa sosok wanita yang akan dinikahi putranya adalah wanita kejam.
"Permisi!" Gina masuk membuat Ali dan Hannum melihat kearahnya.
"Gina!" ucap Ali heran.
"Iya Ali," Gina tersenyum menghampiri Ali dan menutup pintu.
"Kau ingin menjeguk ibuku?" tanya Ali dengan rasa senang.
Hannum dan Ali saling pandang. Ali menjadi gugup, walaupun ia mencintai bosnya itu tapi tidak ada terpikir sedikipun olehnya akan menikah dengan bosnya.
"Secepat ini, Gina?" tanya Ali sambil mengenggam tangan ibunya.
"Iya Ali, Nona Dilah sangat ingin sekali memiliki anak. Itu sebabnya dia ingin cepat menikah." Gina tersenyum yang dibuat-buat. Sebenarnya ia kasihan pada Ali. Ia tahu sedikit banyak tentang Dilah yang sangat membenci laki-laki.
"Baik Gina, aku akan bersiap," ucap Ali dengan polos. Gina berpamitan ingin pulang ke rumah.
__ADS_1
"Ibu merestuiku menikah dengan gadis yang baru seminggu aku kenal?" ucap Ali melembut pada ibunya. Dalam perjalanan hidup Ali, ia tak pernah berkata kasar pada perempuan termasuk ibunya.
"Mau bagaimana lagi, kita berutang padanya. Ibu merestuimu, semoga saja gadis itu memperlakukanmu dengan baik."
Yang ibu takutkan, wanita itu menginjak-injak harga dirimu karena kau berbeda dengannya. Dia jauh lebih kaya darimu, batin Hannum.
"Iya Bu, dia wanita yang baik," entah mengapa Ali menganggap bosnya adalah wanita yang baik dan manis. Padahal Dilah tidak seperti itu.
***
"Fina bagaimana, apakah semuanya sudah kau selesaikan?" Dilah duduk dan melipat kakinya.
"Sudah beres, ini hanya pernikahan sederhana dan tertutup. Itu sangat mudah untuk di kerjakan," ucap Fina membanggakan diri.
"Tapi ada sedikit yang ingin aku tanyakan padamu," Fina berjalan menuju sofa, dimana Dilah sedang duduk manis disana.
"Apa!" Dilah mengambil secangkir teh di meja dan meminumnya.
"Jika kau sudah menikah dengannya dan ternyata dia memberimu anak laki-laki, bagaimana?" tanya Fina dengan penasaran.
"Aku akan menendangnya dari rumahku dan anaknya juga." Dilah tersenyum tipis membuat Fina agak merinding.
"Aku tidak habis pikir mengapa kau sangat membenci laki-laki?"
__ADS_1
"Kan sudah kuceritakan padamu, ayahku laki-laki jahat dan aku yakin semua laki-laki sama seperti ayahku, bahkan dia kehilangan hak untuk kupanggil sebagai ayah," mata Dilah menunjukkan aura kebencian.
Ali buatlah sahabatku jatuh cinta padamu, agar ia tidak terus-terusan membenci laki-laki, batin Fina.