
"Bukan begitu Dilah, aku... tidak jatuh cinta padanya," Fina menjadi gugup.
"Halah, terserah saja. Aku malas membahas dia," ucap Dilah dengan kesal.
***
"Sial!" Menir melempar raporan keuangan yang menunjukkan pengeluaran lebih besar dari pendapatan.
"Maaf Tuan, perusahaan One Stars bermain curang. Kepercayaan publik pada perusahaan MWM telah hilang," ujar sekretaris Menir.
"Ah, siapa pemilik perusahaan itu?" tanya Menir sampai melolot tajam.
"Saya kurang tahu, Tuan. Saya hanya punya alamatnya," ujar sekretaris Menir.
"Baik, berikan alamatnya, berani-beraninya perusahaan itu bersaing dan bermain curang dengan perusahaanku," Menir menggepal tanggannya.
Seksetaris Menir menuliskan alamat perusahaan One Stars pada secarik kertas. Setelah menerima alamat tersebut. Menir langsung bersiap-siap untuk pergi.
"Tuan, mau kemana?" tanya sekretaris tersebut ketika Menir sudah berdiri dan hendak melangkah.
"Ke perusahaan One Stars, aku ingin menantang dirinya dan aku ingin mereka tidak melakukan praktik curang," ucap Menir kesal.
Menir mengendari mobil untuk tujuan perusahaan One Stars. Setelah sampai, ia bergegas ingin masuk.
__ADS_1
"Maaf Tuan, Anda siapa?" tanya petugas keamanan perusahaan One Stars.
"Saya Menir, saya CEO dari perusahaan MWM. saya ingin bertemu dengan CEO dari perusahaan One Stars," ucap Menir berani.
Dia carik mati ya? Batin petugas keamanan.
"Maaf Tuan, CEO kami tidak ada janji dengan Anda," ucap satpam yang berjaga diluar kepada Menir.
"Semua CEO selalu menyambutku jika aku datang keperusahaan mereka walau belum buat janji sekalipun, tapi mengapa perusahaan ini berbeda?" gumam Menir pelan yang tidak dapat didengar oleh petugas keamanan kantor.
"Tolong kau informasikan kepada Bosmu tentang kedatanganku, pasti dia akan mengijinkannya," ucap Menir sedikit angkuh.
"Baik Tuan, tunggu sebentar."
"Selamat siang Nona," ucap petugas keamanan kantor miliknya.
"Siang, ada apa Jisya?" tanya Dilah yang tidak mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
"Ada pria paruh baya bernama Menir ingin bertemu dengan Anda, Nona." ujar Jisya.
Akhirnya kau datang juga Menir, tanpa diundang kau datang keperusahaan anak yang telah kau terlantarkan. Dilah
"Usir saja dia, kau tahu kan Jisya. Aku tidak suka perusahaanku didatangi oleh laki-laki," ucap Dilah memerintahkan untuk mengusir.
__ADS_1
"Saya sudah tahu, Nona. Baiklah, saya akan mengusirnya." ujar Jisya, kemudian ia kembali untuk menemui Menir.
"Maaf Tuan, CEO kami tidak ingin bertemu dengan Anda," ucap Jisya mengusir Menir.
"Apakah dia sibuk? Atau dia akan meeting?" tanya Menir agak kesal.
"Tidak sepertinya, Tuan. CEO kami tidak terlalu banyak pekerjaan hari ini," ujar Jisya menjelaskan.
"Terus kenapa dia tidak mau bertemu denganku. Oh... Mungkin dia takut denganku. Aku adalah pengusaha terkaya saat ini," ujar Menir sombong. Ia lupa berasal dari mana dirinya dan semua hartanya itu milik istri yang ia nikahi karena harta kekayaan.
"Maaf kalau itu saya tidak tahu, segera lah pergi ,Tuan! Anda tidak diinginkan disini," ucap Jisya tanpa cangung.
Menir marah-marah dan membuat kekacauan, para petugas keamaan jadi bingung.
"Jisya, tolong informasikan pada Nona, bawa Menir membuat kekacauan," ucap Kirana rekannya.
"Baik," Jisya mengangguk, kemudian ia kembali keruangan bosnya.
"Permisi Nona, maaf sebelumnya menganggu kerja Anda. Menir membuat kekacauan di luar kantor, Nona," ujar Jisya memberi laporan.
"Dasar tua bangka," ujar Dilah dengan nada tinggi.
"Sudah, suruh saja dia masuk!"
__ADS_1