
"Ibu sebenarnya ingin marah pada Ali dan meminta agar menjauhimu. Tapi ibu sadar, Ali sama seperti ayahnya. Ibu bisa menjamin bahwa cinta Ali sangat besar padamu."
Dilah tertegun, peristiwa-peristiwa yang menyakiti Ali berputar dipikirannya.
"Ibu, aku benar-benar merasa bersalah. Aku tak pernah melihat cintanya sejak dulu. Aku hanya selalu membenci dia karena aku pikir dia akan sama seperti ayahku."
"Sudah lupakan saja masa lalumu, Nak. Tapi ibu mohon buat Ali bahagia. Jika Ali bahagia pasti ayahnya Ali bahagia." Hannum tersenyum lembut.
Cerita Hannum membuat Dilah tersentuh sangat dalam. Membuat kadar cintanya pada Ali bertambah besar.
Malam hari, Dilah memeluk Ali begitu erat, ia menempel terus sehingga Ali geleng-geleng kepala.
"Ali, aku sayang kamu. Aku sayang kamu. Aku sangat sayang padamu. Kamu jangan ninggalin aku ya, janji ya kamu jangan ninggalin aku." Dilah berpikir nasibnya akan sama seperti ibu mertuanya ketika dapat maaf langsung ditinggal pergi oleh suaminya.
"Hehehe... Bos, mengapa menempel begini?" Ali masih sempat-sempatnya meledek.
"Kamu.." Dilah cemberut masam dan memukul tangan Ali tapi tidak terlalu kuat. lalu Dilah melepaskan pelukannya.
"Kenapa tiba-tiba seperti ini?" Ali menahan tawanya.
"Aku takut kehilangan kamu. Kamu tidak akan meninggalkanku, kan?" Dilah berkaca-kaca matanya seimut kucing yang menggemaskan.
"Enggak sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Kalau menikah lagi. Kamu enggak akan menikah lagi kan?"
"Hehehe, satu saja sudah membuatku pusing apalagi lebih dari itu." Ali tergelak tawa.
Dilah menendang lutut Ali, mungkin ini agak kuat sampai Ali mengaduh.
"Sayang, aku sangat mencintaimu sejak pertama kali melihatmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tidak ada wanita lain yang kulihat selain kamu." Ali menyelipkan rambut Dilah kebelakang telinga.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu," Ali mendekatkan wajahnya kearah Dilah. Dilah memejamkan mata.
"Mama, Papa," Vino ingin ke kamar ayah dan ibunya. Vino mengayun daun pintu.
"Vino," ucap Ali dan Dilah bersamaan. Dilah mendorong Ali untuk menjauhinya.
Vino langsung naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di tengah ayah dan ibunya.
"Kenapa Vino ke sini?" tanya Ali agak kesal.
"Pa, Ma, bacakan cerita buat Vino!" pinta Vino dengan mata yang memohon.
"Vino mau dibacakan cerita apa?" Dilah membelai rambut Vino.
"Terserah Mama dan Papa," Vino berbinar dan memeluk ibunya.
"Mama mau kan bacakan cerita buat Vino?"
"Tunggu ya biar Vino ambil," Vino berlari ke kamarnya untuk mengambil buku.
"Mengapa tidak mengunci pintu?" tanya Ali agak kesal.
"Aku lupa menguncinya." ucap Dilah tertawa kecil.
Vino tiba di kamar orang tuanya lagi. Ia merebahkan diri di tengah ayah dan ibunya.
"Ini buku Vino, bacakan ya Ma biar Vino bisa tidur."
"Iya Sayang ini mama bacakan," Dilah memulai membaca cerita.
"Papa, minggir jangan terlalu dekat dengan Mama," Vino memancarkan kecemburuannya pada sang ayah.
__ADS_1
Ali bangkit, Vino tersenyum menang. Ia pikir ayahnya akan mengalah. Tapi ternyata Ali pindah kesebelah sehingga Dilah berada di tengah, Ali memeluk Dilah dari belakang.
"Papa, jangan peluk Mama. Mama punya Vino." Vino ikutan memeluk ibunya.
"Aduh... Kalian ini kenapa?"
"Papa minggir," Vino memukul tangan Ali yang sedang memeluk ibunya.
"Mama Vino punya Papa," Ali tersenyum meledek Vino.
"Mama Vino punya Vino," Vino menanggapinya dengan serius.
"Kalau kalian bertengkar mama tidur sendiri." ancam Dilah.
"Jangan Ma, jangan. Mama lanjut bacanya." Vino memeluk sambil mendengar ibunya membaca.
"Ini karena Vino, Vino buat mama marah," Ali memberi candaan.
"Ini gara-gara Papa. Mama jadi marah." Vino membalasnya dengan serius.
"Kalian membuatku kesal. Baiklah aku tidur sendiri." Dilah melangkah keluar dari kamar.
"Em..." Vino mendadak sedih.
"Sini Vino tidur sama papa seperti dulu," Ali memeluk Vino.
"Hem.." Vino memeluk ayahnya.
Dilah kembali ke kamarnya. Dilah hanya mengancam tadi dan tidak sungguhan untuk tidur sendiri. Apalagi Ali mengatakan hal tersebut membuat Dilah mengingat masa lalu. Dilah menarik selimut untuk menutupi tubuh anak dan suaminya lalu ia mengecup Ali dan Vino kemudian ia membaringkan tubuhnya di samping Vino. Vino berada di tengah Ali dan Dilah seperti semula. Kemudian Dilah memejamkan mata dan tertidur.
"Berhasil," Ali dan Vino saling tos.
__ADS_1