Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Sebuah Rahasia Besar


__ADS_3

Di sebuah ruangan besar di dalam mansion, ruangan pribadi yang tak banyak orang sembarangan dapat masuk ke dalamnya. 


Berdirilah tiga orang pria di dalamnya, antaranya, Dave, Leo, dan Andra-si tua bangka yang menyebalkan bagi Dave.


“Sekarang katakan apa lagi yang kau mau dariku? Aku lelah jika harus hidup dalam aturanmu.” Dave menatap tajam, Andra sudah keterlaluan baginya.


“Cukup penuhi apa yang aku katakan padamu, Dave,” kekeh Andra.


“Kau masih bertekad untuk memintaku agar menyetujui pernikahan politik itu?” dengus Dave sedikit emosi.


“Jika kau telah mengetahuinya, kenapa kau masih bertanya?” Andra menatap tajam ke arah Dave. 


Kedua bola mata Dave dan Andra seakan bergulat di sana, sama-sama memancarkan api yang menyala dengan besar.


“Harus berapa banyak tanganku menghabisi para wanita yang kau minta menikah denganku?” geram Dave, kedua tangannya tampak mengepal, rahangnya mengeras, wajahnya memerah padam, menahan kekesalannya terhadap Andra.


“Jika kau tak dapat memenuhi apa yang kukatakan, maka selama itu aku akan terus mengganggu ketenangan hidupmu,” ancam Andra kepada Dave.


Sejujurnya Andra sudah terlalu muak dengan anak satu ini, sangat sulit untuk diatur.


“Kau tidak berhak mengatur hidupku, aku ingin hidup bebas tanpa adanya aturan darimu, jika kau berani mengganggu kehidupanku, aku tak akan segan-segan menghabisimu, meski statusmu adalah orang tuaku!” cecar Dave kesal, ia memejamkan bola matanya sebentar.


Pria itu pergi meninggalkan ruangan rahasia, diikuti oleh Leo di belakangnya, kecurigaan Leo terhadap Andra sangatlah besar, seakan-akan pria tua itu menyimpan sejuta rahasia yang ia tutup rapat, apa hanya feelingnya saja?


Ataukah hanya sebuah halusinasi Leo saja? Entahlah.


“Dave, apakah kita akan pulang sekarang?” Leo memastikan kembali, ia mengimbangi gerak jalan Dave.


“Ya.” Dave masih berjalan keluar dari mansion bak Neraka baginya, tempat ini menjadi tempat penyiksaan batin untuk dirinya.


“Dave, pulanglah. Aku akan tetap berada di sini untuk mencari informasi yang menjanggal di hatiku, kuharap, kau mengerti akan hal itu.” ucap Leo pelan.


Dave tak menghiraukan lagi, kepalanya terasa ingin meledak saat ini juga. Ia segera masuk ke dalam mobil, tak lagi menghiraukan Leo yang masih berdiri kokoh di mansion.


“Jalankan sekarang, antarkan aku ke rumah utama!”


Pikirannya kacau tak menentu, wajahnya tampak gusar, Dave mengusap kasar wajahnya. 


***


Leo berdiri di depan sebuah pintu ber-ukuran raksasa itu, ia menempelkan daun telinganya ke dinding tembok di samping pintu.

__ADS_1


Ia mendengarkan suara bisik-bisik dari dalam ruangan.


“Apa yang telah kau perbuat, Paa? Kau tahu, jika kau semakin memaksa Dave untuk melakukan itu semua, Dave bisa meletakkan rasa curiga kepada kita!”


“Tidak, Maa. Mama tenang saja, Papa sudah merencanakan segalanya dengan berjalan mulus,”


“Bagaimana jika Dave tahu kalau dia bukan anak kandung kita, dan … dia tahu kalau kita yang telah melenyapkan orang tuanya!”


Deg.


Mendengar suara dari dalam ruangan itu membuat dada Leo seakan tertusuk belati, rasanya sekarang, ia sangat sulit untuk mengambil nafas. Apakah yang ia dengar ini hanyalah sebuah halusinasi?


Rasanya tidak.


Leo mencoba mengatur nafasnya, rahasia besar telah ia ketahui. Ini bukanlah sebuah mimpi, ia harus menyelamatkan Dave dari sebuah masalah besar, ia tidak ingin Dave terseret dalam permasalahan gila ini, Leo yakin, jika Dave tahu segalanya, maka tamatlah riwayat Andra dan Asa detik ini juga.


Dengan cepat, Leo meninggalkan lokasi, jangan sampai ada yang tahu tentang kehadirannya yang sempat menguping pembicaraan Tuan besar dan Nyonya besar di rumah ini.


Sungguh kasihan Dave, dibesarkan oleh pembunuh orang tuanya, tapi mereka berlagak seolah mereka lah yang menjadi orang tua Dave.


Leo harus mencari bukti yang kuat atas kematian dan pembunuhan ayah kandung Dave. 


Dave harus mengetahui hal yang sebenarnya terjadi, sebelum semuanya terlambat.


Ia harus menggali masalah ini lebih cepat, agar terkuak kebenaran.


***


Dave telah sampai di rumah utama, seperti biasanya, Dave selalu mengembangkan senyumannya saat hendak bertemu dengan Cerin. Hadirnya Cerin, sedikit membawa perubahan bagi Dave.


Ia menelusuri anak tangga berjalan masuk ke dalam kamar utama, terlihat, Cerin sedang asik tidur di sana.


Pria itu berjalan mendekat ke ranjang, ia berjongkok di hadapan Cerin, mengamati setiap inci wajah wanita itu dengan saksama.


“Kelinci kesayanganku sangat cantik.” 


Dave mengelus kedua pipi Cerin, lalu menciumi kening Cerin dengan lembut. Ia rasa, ada yang aneh dengan dirinya. Ataukah hanya sebuah halusinasi saja? Ah, rasanya tidak. Ini benar-benar terasa sangat aneh, batin Dave.


Dave berdiri, kemudian ia naik ke atas ranjang dan ikut merebahkan dirinya di atas ranjang. 


Ia menenggelamkan wajahnya di leher jenjang milik Cerin, hidungnya mencium aroma tubuh yang sangat wangi itu menusuk indera penciumannya. Aroma tubuh Cerin seakan membuatnya candu.

__ADS_1


“Good sleep, have a nice dream, Baby.” lirih Dave di telinga Cerin.


Ia melingkarkan tangannya ke perut wanita itu, memeluknya hendak tidur, Dave kemudian memejamkan matanya perlahan, hendak ikut menyusul wanita itu ke dalam alam mimpi.


***


Pagi Hari.


Cerin terganggu dengan cahaya mentari yang terik membuat kedua bola matanya merasa kesilauan. Wanita itu menggeliat kecil di atas ranjang, ia merasakan ada sesuatu di perutnya. 


Terlihat, sebuah tangan kekar tengah melingkar di sana, ia tersenyum manis. Lalu mencoba melepaskan pelukan pria itu.


Tangan kekar itu rasanya jauh lebih kuat daripada dirinya, Cerin menghela nafas panjang. Kemudian kembali berusaha untuk melonggarkan pelukannya.


Namun nyatanya tiada hasil.


“Kau ingin ke mana?” tanya Dave yang risih dengan tingkah laku Cerin.


“Lepaskan, Dave. Aku ingin ke kamar mandi,” ujarnya pelan.


“Tidurlah, aku masih ingin memelukmu,” pinta Dave dengan kelopak mata yang masih tertutup.


“Dave, bangunlah! Singkirkan kedua tanganmu itu!” ketus Cerin marah.


“Kau brisik sekali.” Dave membuka paksa kedua matanya, ia mendudukan dirinya menghadap ke arah Cerin.


Dave mendekatkan wajahnya ke wajah Cerin, wajah keduanya berdekatan. Detak jantung keduanya berdebar dua kali lebih kencang daripada biasanya. Wajah Cerin tampak memerah merona menahan malu.


Dave menutup bibir Cerin yang tipis itu dengan jemari tangannya, lalu membungkam bibir Cerin dengan bibirnya.


“Morning kiss.”


Pria itu tersenyum mendapati pipi Cerin memerah merona, ia sangat senang menggoda Kelinci kesayangannya, baginya, Cerin seperti seorang kelinci, ia pemalu dan sangat imut.


Tingkah lakunya yang terkadang suka membuatnya kesal, dan suka bermanja padanya, Dave akui, akhir-akhirnya ini seperti ada yang aneh.


Yang biasanya Cerin selalu muak melihat Dave, kini telah berubah.


Dave yang biasanya selalu emosi dan ingin marah kepada Cerin, kini tidak lagi.


Akankah ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka?

__ADS_1


Tapi apa?


__ADS_2