Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Season 2 : Balap Liar


__ADS_3

Alio kini tengah memakai kemeja putih dengan celana jeans bewarna hitam. Dia hendak pergi ke sebuah Arena untuk ikut balap liar. Rasanya sudah sangat lama dia tidak mengukur lintasan dengan kecepatan limit di atas rata-rata.


 


Laki-laki itu menyiapkan sebuah pistol mini di dalam saku celananya, dia berjaga demi keamanan.


 


Musuh tak kasat mata bisa saja menyerangnya kapanpun dan di manapun dia berada.


 


“Kau hendak ke mana, Alio?”


 


Ziko yang sedang menikmati hidangan di tengah malam pun melihat pria itu sangat berpakaian rapih pun penasaran.


 


“Aku akan pergi ke Arena Balap, Ayah. Sudah lama tidak membawa mobil kesayanganku ke sana untuk melakukan test,” jawab Alio tersenyum manis menatap ke arah Ziko.


 


“Sebaiknya kau jangan pergi, Alio. Firasat Ayah tidak enak,” balas Ziko jujur.


 


“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Ayah.”


 


“Ayah tidak ingin kau kenapa-kenapa, Alio.”


 


“Tenang saja, Ayah. Aku bukan anak kecil lagi.”


 


Entah mengapa firasat buruk menghantui Ziko, sedari dia merasa tidak tenang. Entah apa yang akan terjadi. Dia harap, semua akan baik-baik saja. Alio menentang larangannya, dia masih melotot untuk pergi ke Arena Balap.


 


Dia menatap kepergian Alio sampai menghilang dari pandangannya.


 

__ADS_1


Alio membuka penutup mobil sportnya, laki-laki itu mengelus bagian ramping mobilnya itu dengan penuh senyuman di wajahnya.


 


“Kau sudah lama tak aku belai, sudah saatnya kau harus turun ke Arena untuk membungkam orang-orang yang meragukanmu.”


 


Pria itu mengecup bagian mobilnya, kemudian dia segera masuk ke dalamnya dan menghidupkan mesin.


 


Mobil itu melaju meninggakkan perkarangan Mansion, membelah jalan menuju jalan raya perkotaan dengan kecepatan tinggi.


 


Letak Mansion sedikit jauh dari wilayah perkotaan, bahkan di sekeliling Mansion mewah itu hanya terdapat hutan-hutan. Tak ada rumah ataupun sumber kehidupan di sana.


 


Alio menaikkan gas dengan kecepatan di atas rata-rata untuk segera sampai di Arena Balap. Dia melihat jarum jam yang menunjukkan pukul dua belas malam lewat lima menit, dia hanya punya waktu dalam lima menit untuk sampai di Arena.


 


Sesampainya di Arena, Alio menginjak rem dengan kuat hingga ban belakang mobil tersebut tergelintir meninggalkan bekas di Arena.


 


 


“Are you ready to fight me, Brother?”


 


Seorang laki-laki dengan ciri khas kulit sawo matang, badannya sedikit gendut, brewokan, dan wajahnya terlihat sangar menepuk pundak Alio dengan pelan.


 


“I am always ready to fight you, Mr,”


 


“Where’s your woman?” tanya Joi pada Alio dengan tersenyum lebar.


 


“I don’t have a woman, Mr.”

__ADS_1


 


“Alright, let’s go!”


 


Joi tersenyum menatap Alio, lalu semuanya segera masuk ke dalam mobil mereka masing-masing karena perlombaan akan dimulai dalam hitungan detik.


 


Beberapa mobil sport telah bersusun rapi, mereka semua telah menyalakan mesin dan memanasi mobil. Beberapa orang pria saling menatap dari kaca jendela mobil dengan tersenyum miring, percaya dengan kemampuannya masing-masing.


 


One


 


Two


 


Three


 


Go!


 


Alio menginjak pedal gas sampai limit hingga mobil yang dikendarainya memegang posisi terdepan, dia mengalahkan empat mobil di belakangnya, mobil itu sangat melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.


 


Kemampuan mobil sportnya tidak lagi dia ragukan. Sebab dia percaya bahwa mobil itu bisa memberikan yang terbaik untuknya.


 


Saat sebuah mobil sport bewarna kuning melintasinya membuat laki-laki itu panas hingga akhirnya dia menurunkan gas dan menancapnya kembali dengan kecepatan sangat tinggi, bahkan diluar rata-rata kemampuan.


 


Semua yang menonton menjadi berdebar menyaksikan dua mobil sport tengah beradu posisi terdepan hingga akhirnya mobil yang dikendarai oleh Alio menabrak mobil sport bewarna kuning di hadapannya.


 


Brakk!

__ADS_1


__ADS_2