
Di Sebuah Ruangan.
“Kenapa bisa kalian lalai dalam menjaga keamanan ayahku?!” tanya seorang wanita dengan sorot mata tajam, ia menatap ke beberapa pria di hadapannya yang mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan senjata api.
Beberapa pria itu terdiam menunduk tak berani menatap sang nona muda kejam dan arogan itu, ia tak akan segan-segan menangkat senjatanya apabila mereka salah berbicara.
“Kami tidak tahu persis kejadian itu, Nona. Tuan besar tidak mengatakan apapun pada hari itu. Ini adalah rekaman yang kami dapatkan di sebuah bangunan tua itu.” ujar seseorang memberanikan diri berbicara, ia mendekat ke arah wanita itu dengan tubuh yang bergemetar hebat, memberikan sebuah file rekaman CCTV saat sebuah gedung belum meledak karena bom waktu.
Isabella Lyra, nama perempuan itu. Ia kembali dari Roma, Italia. Menuju Amerika dalam beberapa waktu menggunakan pesawat pribadinya, ia mengumpulkan semua agen rahasia, dan orang-orang kepercayaannya yang bisa dihandalkan dengan cepat.
Bella merampas rekaman itu dari tangan anak buahnya, ia segera menghidupkan laptop yang ada di dalam markas tersembunyi, ia segera mencari file itu dan membukanya.
__ADS_1
Ia begitu teliti memperhatikan layar laptop dengan sorot mata yang tajam, ia melihat seorang pria dengan sayatan di bagian perutnya. Akankah lelaki itu yang membunuh ayahnya? Pikirnya menebak.
Bella memperhatikan dengan teliti hingga akhir dan kemudian menghempaskan laptopnya ke atas lantai dengan keras.
BRAK!
Semua orang kepercayaannya di dalam ruangan, bergidik ngeri. Takut akan kemarahan Bella, takut apabila Bella melampiaskan kemarahannya dengan mengangkat senjata api.
Semua pria itu mengangguk mengerti, mereka mengambil laptop yang sudah hancur di atas lantai itu, dan mengambil file yang ada. Kemudian seluruh pria berpakaian hitam tersebut meninggalkan Bella, mereka pergi ke ruang penyusup, mencari tahu kebenaran, agar Bella tak semakin marah pada mereka.
“Sial! Siapa laki-laki yang membunuh ayahku?!” gerutunya kesal, Bella kembali menghempaskan barang-barang di atas meja kerjanya di dalam ruang pribadinya.
__ADS_1
Ia terduduk lemas di atas sofa, ia telah kehilangan sosok orang yang paling bepengaruh dalam hidupnya—yaitu Abed. Ayah angkatnya. Hidup bersama Abed selama 25 tahun, Abed membesarkannya dengan penuh cinta, meskipun ia tahu bahwa Abed bukanlah ayah kandungnya, tapi ia begitu mencintai dan menyayangi Abed seperti ayah kandungnya.
Dendam yang lahir dari dalam diri Bella, ia berambisi untuk membalaskan kematian Abed. Jika nyawa yang hilang, maka mereka juga akan merasakan kehilangan orang yang mereka cintai. Hanya Abed yang dimiliki oleh Bella. Tidak ada yang lain.
Dunianya kelam tanpa adanya Abed.
Kematian harus dibalas dengan kematian agar mereka paham arti kehilangan orang yang mereka cintai.
“Ayah, aku adalah putrimu. Aku akan membalaskan kematianmu. Tenanglah di sana.” Bella menyentuh sebuah foto yang terpajang di atas meja kerjanya, di mana fotonya dan Abed pada waktu kecil, air mata mengalir di sudut pipinya dengan deras.
Kepergian Abed sangat tidak disangka oleh Bella, kepergian lelaki itu mengubah kehidupannya. Tak ada semangat di dalam diri, hanya ada kebencian dan dendam terhadap pria yang sudah dengan tega menghabisi nyawa sang ayah di dalam bangunan tua itu.
__ADS_1
Andai kala itu ia tidak pergi ke Roma, Italia. Mungkin ia akan melindungi Abed dari musuh. Namun, kenyataan sudah menjadi bagian dari takdir.