
“Ayah, apa ini?” tanya seorang anak kecil menarik saku celana ayahnya saat mendapati sebuah benda yang begitu memukau hatinya.
“Paman, apa ini?” tanya Alio pada Leo, saat ia meraih sebuah benda di dalam markas begitu membuatnya tertarik.
Kedua pria berpakaian hitam itu menggelengkan kepala, si baby twins sudah mulai aktif, dan sekarang mereka dibawa oleh Dave ke sebuah markas pribadi, mengenal banyak senjata kepada baby twins.
Baby twins akan diajarkan bagaimana cara melindungi diri dari bahaya.
Itu harus.
Karena Dave tak ingin putra kembarnya dalam bahaya, di kemudian hari nanti.
“Sayang, Alie. Ini adalah senjata api, ketika kau mengrahkannya ke seseorang, dia akan melepaskan timah panas. Dan membuat seseorang itu tak bernyawa lagi.” jelas Dave pada putranya itu, pria itu menumpuh satu kakinya di hadapan Alie.
“Alio, Sayang. Ini adalah alat perakit bom waktu, apakah kau ingin belajar?” tawar Leo pada anak kecil yang imut itu.
“Aku sangat ingin, Paman! Sepertinya mengasikkan!” seru Alio dengan mata bebinar. Ia ingin sekali mengetahui banyak hal.
“Alio tidak boleh belajar merakit bom, Ayah! Hanya Alie yang boleh!” seru Alie merasa cemburu kepada Alio.
__ADS_1
Alio menatap sang kakak dengan tajam, raut wajahnya berubah drastis. “Apakah kau takut kalah saing denganku, Alie?”
“Tidak. Buat apa?” pria kecil itu melipat tangannya, bibirnya dimajukan. Merasa cemburu karena Alio lebih jenius dan pintar daripada dirinya.
“Sudah-sudah. Anak-anak Ayah jangan bertengkar dong!” Dave terkekeh kecil, melihat perdebatan kedua putranya itu.
Dave tak pernah membeda-bedakan kasih sayang antara Alie dan Alio, ia menyayangi keduanya.
Leo menggendong Alio masuk ke dalam pelukannya, sedangkan Alie di gendong oleh Dave.
Kedua pria itu menjadi baby sister atas perintah Cerin agar mengasuh sang baby twins.
“Paman … Bukankah Paman akan mengajarkanku caranya merakit bom? Aku menagihnya,” titah Alio menatap Leo dengan penuh senyuman di wajah imutnya.
“Kau lihat, Dave. Anakmu sangat ingin mengetahui banyak hal, yang harusnya tak diketahuinya.” Leo terkekeh mendapati kedua putra Dave dengan kelakuannya.
“Ya. Mereka harus diajarkan usia dini, bukan karena aku tak sayang sama putraku, tetapi karena aku menyayangi mereka. Mereka harus bisa menjaga keselamatan mereka sendiri. Mereka harus diajarkan di usia dini, agar mereka terlatih,” imbuhnya dengan mencubit pipi Alie dengan gemas.
“Ayah, aku ingin mencoba benda tadi. Boleh, ya?” rengek Alie bergelayut manja di dalam pelukan Dave.
__ADS_1
“Kau ingin tahu cara menggunakannya, Alie?” Dave mengangkat alisnya.
Pria kecil itu mengangguk dengan cepat. “Aku ingin tahu bagaimana cara memakainya, agar aku bisa mengalahkan dirimu, Ayah!”
“Kau tidak boleh mengalahkan Ayah, Alie! Hanya aku yang boleh!” seru Alio dengan penekanan di setiap kalimatnya.
“Coba saja, bahkan kau tak akan sanggup melawanku, Alio!” cibir Alie kesal.
Leo dan Dave hanya menggelengkan kepala melihat perdebatan baby twins. Mereka sangat membuat Dave terhibur karena ulahnya.
Tapi Dave tak ingin, mereka akan saling melukai ketika beranjak dewasa nanti.
Semoga sang baby twins akan selalu akur dalam hal apapun. Karena Dave dan Cerin tak pernah membedakan kasih sayang.
“Aku akan mengangkat senjataku untuk melawanmu, aku tak takut untuk menentangmu, Alie.” sinisnya tak suka.
Alie begitu menyombongkan diri, selalu ingin memenangkan banyak hal, ia selalu bersikap ingin menjatuhkan Alio dalam hal apapun. Bahkan Alie mencoba selalu merebut perhatian sang ayah darinya.
Alio benci Alie yang selalu mencoba merampas apa yang dimiliki oleh Alio.
__ADS_1