Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Keluarga Psychopat


__ADS_3

Sudah beberapa jam tertidur pulas di atas ranjang pasien, akhirnya pria tampan itu tersadar dari tidurnya. Ia menatap ke seluruh ruangan, kedua matanya menangkap sosok keempat pria tengah duduk di sofa ruangan, antaranya, Alie, Dave, Ziko, dan Leo.


“Sejak kapan Ayah di sini?”


Pria itu bangkit dari ranjang, ia turun dan berjalan mendekati di mana sang ayah berada tanpa mengeluh sakit di perutnya. Baginya, luka di bagian perutnya sudah tak ada arti sakit apa-apa. Yang terpenting adalah, ia masih bisa melihat wajah tampan sang ayah, dan wajah cantik sang ibu, bagaikan bidadari tanpa sayap.


Hidup tanpa adanya orang tua, jauh lebih sakit daripada sebuah luka.


Apalah arti kehidupan, jika tanpa adanya orang tua di sisinya.


“Ceritakan padaku, apa yang terjadi padamu, Alio!” Dave menuntut banyak penjelasan pada putra bungsunya.


Alio mendudukan bokongnya di samping Ziko, ia mencoba mengingat kembali perkara di bangunan tua itu, saat ia hendak datang ke sebuah gedung pesta, yang akan menjadi pesta perayaan hari kelahirannya dengan sang kakak—Alie Matthew Cristian.

__ADS_1


“Karena kecerobohanku mengenal seorang wanita, aku terjebak dalam sebuah gedung tua, Ayah. Andai aku tak mempercayai wanita ular itu, mungkin aku tak akan seperti ini.” Alio terkekeh mengingat kembali bagaimana manisnya wanita itu terhadap dirinya.


Sikap wanita itu begitu amat manis, layaknya seperti cokelat, tapi mengapa kenyataan begitu amat pahit untuk diterima oleh Alio bahwa, wanita itu hanya menyakitinya saja, dan mencoba membahayakan nyawanya.


“Bagaimana bisa kau mengenal seorang wanita, Alio?” selidik Alie penasaran. Selama ini, ia tak pernah mendengar kabar bahwa adiknya mendekati seorang wanita.


“Aku mengenalnya dari rekan bisnisku, Kak. Tapi ya ... Sudahlah. Lupakan. Yang terpenting aku tidak mati, ‘kan?” gurau Alio tertawa, mencarikan suasana beku di ruangan itu.


“Berhenti tertawa, Alio! Kau masih bisa bercanda di atas kecemasan ayah dan ibumu?!” pekik Dave dengan nada tinggi.


Alio terdiam, sedangkan Alie tertawa lepas, menertawai sang adik yang masih bisa-bisanya bercanda di atas kecemasan dan kegelisahan ayah mereka.


Saat suasana hening, Dave mengembuskan nafasnya perlahan-lahan, ia menatap putra bungsunya dengan sorot mata tajam, “Lalu bagaimana dengan orang yang telah melukaimu? Apakah kau akan membiarkan mereka hidup?”

__ADS_1


Dengan cepat Alio menggelengkan kepalanya, “Tentu tidak, Ayah. Aku adalah putramu, garis keturunanmu. Aku mewarisi karaktermu, mana mungkin aku membiarkan orang yang melukaiku masih bisa melihat dunia ini.”


Dave berdiri, ia menepuk kedua tangannya, “Hebat! Aku tidak akan segan menghukummu apabila kau membiarkan orang yang melukaimu masih bisa melihat dunia ini.”


Alio tersenyum miring, “Apakah ayah tahu bagaimana aku menghabisinya? Mungkin ayah tak akan tahu bagaimana aku menghabisinya dengan tanganku, meski dia telah menanamkan timah itu ke dalam tubuhku.”


Dave mengangkat alisnya, menatap Alio dengan heran, “Apa itu?”


“Aku menikamnya, kemudian menarikan pisau kecil yang pernah Ayah berikan padaku. Dan lebih hebatnya, aku memasangkan bom waktu di lehernya. Bom itu akan meledak dalam hitungan waktu, dan satu lagi, aku memasukkannya ke sebuah ruangan gelap di bangunan tua. Seram bukan?” Alio terkekeh senang.


Ziko menelan salivanya, ternyata Alio begitu sadis. Sifatnya sungguh melebihi Dave, begitupula dengan Alie. Sikap si kembar amat sadis melebihi Dave—ayah mereka.


Mereka satu keluarga adalah psychopat, pikir Ziko.

__ADS_1


__ADS_2