
“Yang kau perbuat itu adalah suatu kesalahan terbesar, Alio.” Ziko menepuk pundak putra asuhnya itu, dia selalu berada di sisi Alio untuk memberikan sisi positif.
Ziko tahu, tak mudah baginya membimbing Alio untuk keluar dari zona hitam bayangan mendiang sang ayahnya—Dave.
Dia tahu betul siapa Dave. Dave adalah sosok laki-laki tegas, kejam, dan tak berperasaan sedikitpun. Bahkan lebih gilanya, pria itu pernah menyiksa istrinya sampai habis-habisan pada waktu itu. Untungnya, kebenaran terkuak sendirinya saat tahu bahwa si gadis yang dia siksa tidak bersalah.
Dave tak akan segan-segan menghabisi siapapun yang mencoba mengusik ketenangannya.
“Mengapa Ayah bicara seperti itu?” Alio menatap Ziko dengan sorot mata tajam, kedua alisnya tampak mengerut.
“Tidak seharusnya kau menghukum wanita itu atas kepergian orang tuamu,” ucapnya lirih. Tatapannya beralih memandang ke arah lain tanpa menatap Alio.
“Why, Dad?!”
“Karena kesalahan masa lalu yang diperbuat oleh ayahmu, mengharuskan kau dihukum atas karma yang dia perbuat. Ayahmu adalah seorang pemimpin yang kejam, bahkan dia selalu menghabisi siapapun yang mencoba mengusik ketenangannya,” jelas Ziko. Pembicaraannya terhenti saat melihat seorang wanita tengah diseret ke arah tahanan bawah tanah.
“Lalu?”
Beberapa tahun silam, peristiwa besar terjadi di Amerika. Seorang hacker handal berhasil membobol bank pertahanan milik Mafia yang beperngaruh di Kota ini yang tak lain adalah Dave Matthew Cristian. Hal itu membuat Dave sangat murka, hingga dia mencari tahu dalang dibalik perampokan tersebut.
Setelah diselidiki oleh Max, Dave mengetahuinya. Ternyata yang membobol bank pertahannya adalah seorang hacker dari Tokyo, Jepang. Yang merupakan anak buah dari Abed.
__ADS_1
Demi membalaskan penyerangan tersebut, Dave turun tangan untuk melenyapkan Abed dengan kedua tangannya.
Kala itu, semua cahaya padam seketika, membuat Dave tak dapat melihat dengan jelas sekelilingnya saat dia dan anak buahnya berhasil mengepung kediaman Abed.
Karena mendengar suara asing, Dave pun mengeluarkan sebuah benda tajam dari balik jasnya. Dia menikam seseorang ke dinding menggunakan senjata tajam yang tak lain adalah sebuah pisau kecil berbentuk seperti keris.
Tak ada belas kasih dari dalam diri pria itu, dia tahu betul yang ditikamnya adalah musuhnya.
Saat cahaya lampu kembali menyala membuat kedua bola matanya terbelalak, dia salah membunuh. Terjatuh begitu saja senjata tajam itu ke atas lantai, kedua tangannya bergetar hebat.
Apa yang sudah dia lakukan?
Tubuh wanita itu ambruk ke lantai dengan keadaan sudah tak bernyawa.
Ziko yang melamun mengingat hal itu pun kembali tersadar saat Alio menepuk pundaknya.
“Lalu, siapa yang bersalah, Ayah?” tanya Alio penasaran, dia menyimak penjelasan Ziko dengan saksama.
“Keduanya. Seharusnya kau sudah tahu itu, Nak. Dunia Hitam memang sangat kejam. Dibunuh atau membunuh itu adalah pilihan,” ucap Ziko, dia pun menatap Alio dengan dalam.
__ADS_1
“Haruskah begitu?”
“Ya. Dibunuh atau membunuh adalah pilihan. Begitu juga dirimu, ketika sebuah bahaya datang menyerang, disaat itulah kau harus mengambil tindakan dengan cepat. Disaat bahaya di depan mata, kau hanya perlu berpikir dalam waktu 0,5 detik saja. Jika kau terlambat mengambil tindakan, maka kau akan menerima keterlambatan itu dengan akhir yang mengecewakan,” tutur Ziko. Tatapannya beralih ke arah tempat tahanan bawah tanah.
“Hidup bersama ayahmu bukanlah sebentar, Nak. Aku tahu betul siapa Dave, kami hidup bersama-sama sampai aku memutuskan untuk setia kepada ayahmu sampai akhir. Sekarang mereka telah pergi meninggalkanku. Aku masih memegang janji itu dengan cara membimbingmu agar kau tetap menjadi baik seperti mediang ibumu,” lanjut Ziko lagi. Dia mendekat ke arah Alio dan memegangi kedua bahu laki-laki tampan itu.
“Tapi, Ayah. Aku tidak bisa menerima kematian orang tuaku. Bukankah dia merencanakan pembunuhan berantai?” Alio menatap Ziko dengan mata yang sudah hampir berkaca-kaca.
“Tidak mudah bagimu untuk menerima kenyataan itu. Tapi, cobalah untuk mengambil kesimpulan dari apa yang sudah aku katakan padamu, Nak. Jadilah baik seperti mediang ibumu. Kau tahu? Ibumu sangat baik, bahkan disaat ayahmu berulang kali menyakitinya, dia tetap bisa menerima ayahmu dan mereka hidup bersama setelah semua kepedihan mereka lalui,” balas Ziko menasihati putra asuhnya.
“Tidak mudah bagiku. Aku akan tetap melakukan eksekusi mati untuk wanita itu,” terang Alio kesal. Dia membuang wajahnya dari hadapan Ziko.
“Semua ada di tanganmu, aku tak bisa memaksamu. Seperti halnya dengan sebuah ranting yang bengkok, jika dipaksa untuk lurus maka dia akan patah,” nasihat Ziko.
“Bagaimana bisa aku menerima kenyataan yang menyakitkan, Ayah? Bagaimana bisa aku—”
Argh!
Tubuh laki-laki itu ambruk ke atas permukaan, dia menangis menyesali apa yang sudah terjadi. Mengingat hal itu membuat batinnya tersiksa. Dia menyesali karena tak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi keluarganya.
“Semua yang sudah terjadi di Dunia ini adalah bagian dari takdir. Yang perlu kau lakukan adalah bangkit dan melupakan kepedihan itu. Hanya dirimu sendiri yang bisa menentukan kualitas dirimu, Nak.”
__ADS_1