Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Mendadak Bulan Madu


__ADS_3

“Sayang, kita mau pergi ke mana?” tanya Cerin heran, saat Dave mengemasi semua barang-barang milik mereka masuk ke dalam koper.


“Sttt ... diam saja, aku akan membereskan semua yang akan kita bawa pergi bulan madu,” ujarnya. Dave masih sibuk mengemaskan semua barang-barang milik Cerin dan dirinya.


“Apa? Bulan madu mendadak seperti ini tanpa persiapan?” Cerin kaget dengan apa yang baru saja ia dengar. Ada sedikit kejanggalan di hatinya.


Dave tersenyum menyeringai, ia menghentikan kegiatannya, lalu meraih sebuah lingeri bewarna merah yang dibeli oleh Leo untuknya. Ia tersenyum jahil saat membayangkan bagaimana jika Cerin memakai lingeri itu, mungkin akan sangat menggoda sekali.


Apalagi, tubuh wanita itu berbentuk gitar spanyol, pastinya sangat-sangat menggoda dan enak dipandang.


“Apa itu?” Cerin menatap benda yang ada di tangan Dave.


“Ini?” Dave memperlihatkan lingeri itu ke hadapan Cerin. “Ini lingeri, cocok buat kamu untuk menggodaku, Sayang.”


Jawaban dari pria itu sangat membuatnya kesal dan malu, wajahnya kini telah berubah menjadi memerah padam, menahan amarah dan rasa malunya.


“Haruskah memakai itu, Dave?” tanya Cerin heran.


“Sangat harus, Baby. Karena dengan itu, kau bisa sangat membuatku bergairah,” celetuknya menatap Cerin tersenyum jahil.


“Terserah padamu, Dave. Aku hanya akan menurutimu saja!” ketus Cerin marah.


Terlihat wajah cantik itu memurung karena digoda oleh Dave. Dave sangat suka menggoda wanitanya, baginya, itu adalah suatu kebahagiaan.


“Jika kau tak ingin memakainya tak apa, Baby. Aku bisa meminta wanita lain agar menggunakannya,” goda Dave.


Cerin menatap ke arah Dave dengan tajam, “Jadi, kau tak butuh aku sebagai istrimu, Dave?!”


Melihat Cerin naik darah, sangat Dave sukai. Ia sangat suka menggoda wanitanya sampai emosi.


Dave menatap Cerin yang kini tengah membuang muka dari hadapannya, gadis itu tampak murung, ia duduk di sudut tepi ranjang.


Pria itu berjalan mendekat ke arah wanitanya, lalu duduk di samping Cerin. Ia merangkul pundak Cerin, lalu menangkup wajah wanitanya dengan kedua tangan, menatap Cerin dengan dalam.


“Aku hanya bercanda.” Dave mengecup kening Cerin.


Cerin menatapnya dengan dalam, “Haruskah bercandamu membawa wanita lain? Apakah kau memang ingin ada wanita lain di dalam hubungan kita?”

__ADS_1


“Tidak, aku berjanji padamu akan menjadikanmu wanita satu-satunya di hatiku dan hidupku,” janji Dave pada Cerin.


“Benarkah itu, Dave?” tanya Cerin penuh harap.


“Ya.” Dave menempelkan wajahnya ke wajah Cerin, tatapan mereka beradu pandang.


Perlahan-lahan, pria itu mengecup bibir mungil wanitanya, dan menyesapnya perlahan. Mereka saling bersilat lidah, bertukaran saliva satu sama lain. Semakin lama, ciuman itu semakin memanas, membuat kedua insan itu saling terbakar oleh hasrat.


Dave menghentikan kegiatannya membuat Cerin heran, kenapa tidak dilanjutkan? Sesaat hasrat telah sampai ke ujung kepala.


“Tidak sekarang, tapi nanti.” Dave tersenyum lebar mendapati wajah Cerin kembali murung.


“Baiklah.” Cerin mencoba menutupi rasa malunya di hadapan Dave.


“Kita pergi sekarang ke sebuah tempat yang indah, dan tentunya akan kau sukai itu, Cerin.” ucap Dave.


...----------------...


Los Angeles, California, Amerika Serikat.


Sebuah tempat indah yang menjadi tempat pusat berlibur para penjuru di Dunia.


Mereka memesan kamar hotel di sebuah hotel berbintang lima di sana, setelah memesankan kamar hotel, Dave membawa kopernya masuk ke dalam kamar, begitupula dengan Cerin. Wanita itu mengekori jalan suaminya sampai ke kamar hotel.


Pintu terbuka, tampak kedua matanya bebinar senang, kamar hotel itu di hiasi dengan sangat indah. Membuatnya kagum, tak bisa dipungkiri rasa kagum itu.


“Ini sangat indah, Dave.” katanya menatap sekeliling kamar yang dipenuhi dengan kelopak mawar merah.


“Kau menyukainya, Baby?” tanya Dave menatap ke arah Cerin.


“Ya.”


Dave tersenyum senang, ia memang memilih kamar hotel untuk bertema bulan madu, ia turut senang jika wanitanya menyukai kamar ini, mungkin suasana akan menjadi lebih romantis, pikir Dave.


Setelah menempuh beberapa waktu, mungkin keduanya sedikit kelelahan.


Dave melirik ke arah jam kecil di tangannya yang bermerk mewah dan sangat memiliki harga cukup fantastis.

__ADS_1


Sudah pukul tujuh malam, ia berniat untuk membersihkan diri terlebih dahulu, begitupula dengan Cerin—istrinya.


“Ingin makan malam?” tawar Dave.


“Tentu, Dave. Perutku sudah berbunyi sejak tadi,” katanya seraya tersenyum lebar, menunjukan barisan giginya yang rapat.


“Baiklah, kau ingin mandi bersama? Setelah membersihkan diri, kita akan makan malam,” tawar Dave.


“Tidak, Dave. Duluan saja,” tolak Cerin lembut.


“Baiklah.” Dave meletakkan koper di dekat nakas, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi hendak membersihkan diri.


Selang berapa menit, Dave sudah membersihkan diri, ia mengenakan kimono putihnya, memperlihatkan tubuhnya yang begitu menawan. Cerin tertegun, ia menatap tubuh laki-laki yang ber-status suaminya sangat-sangat menggoda.


“Jangan terus dipandang, sekarang bersihkan dirimu!” perintah Dave terkekeh kecil.


Cerin hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar mandi, Dave duduk di tepi ranjang, lalu mencoba menghubungi pelayan hotel untuk membawakan makan malam untuk mereka. Ya, sepertinya mereka akan menghabiskan malam hanya di dalam kamar tanpa harus keluar dari sana. Dave memesan makanan karena Cerin harus bertenaga, agar sanggup mengimbangi permainannya.


Sesudah menghubungi pelayan hotel, pria itu menunggu Cerin keluar dari dalam kamar mandi, ia ingin melihat bentuk tubuh wanitanya ketika memakai lingeri.


Pasti akan sangat menarik, gumam Dave.


Ting!


Bel kamar hotel berbunyi, membuat Dave segera membukakan pintu, terlihat mereka menghantarkan makan malam untuk sepasang pengantin baru tersebut. Dave menerimanya, lalu kembali menutup pintu kamar hotel dan menguncinya, pria itu meletakkan makanan itu di atas meja sofa di dalam sana.


Lama menunggu di sofa, akhrinya wanita itu melangkahkan kedua kakinya keluar dari dalam kamar mandi, ia terlihat risih memakai lingeri bewarna merah yang tampak begitu tipis tersebut.


Dave menelan salivanya, menatap Cerin sangat cantik dan sexy. Dave akui, tubuh Cerin sangat bagus, apalagi jika wanita itu menjadi model, mungkin ia akan menduduki kelas paling atas dan sukses dibidang per-model-an.


“Ada yang salah?” tanya Cerin, duduk di hadapan Dave.


“Tidak ada, Baby. Kau sangat cantik,” pujinya sambil menatap Cerin dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Ah, terima kasih.” desah Cerin tersenyum.


“Makanlah, biar kau bertenaga untuk menghabiskan waktu malam ini,” goda Dave.

__ADS_1


“Baik, mau berapa lama? Akanku ladeni dirimu, Suamiku.” goda Cerin kembali.


Dave menatap tak percaya, ternyata istrinya ini sungguh sangat bisa menggodanya saat ini, belajar dari mana wanita itu? Pikir Dave bertanya-tanya.


__ADS_2