Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Season 2 : Curahan Hati


__ADS_3

Di Sebuah Club Malam, tampak seorang pria tampan tengah duduk manis di sebuah sofa sambil meneguk segelas minuman keras di tangannya, dia mencoba menenangkan pikirannya malam ini.


 


Awalnya dia berniat untuk melakukan transaksi di sebuah tempat menjual senjata api yang dirakitnya sendiri dengan design terbaru yang dibuatnya.


 


Pria itu menatap sekeliling, begitu banyak pasangan yang sedang menari di bawah lampu disko di Club ini.


 


“Apakah Anda ingin saya temani, Mr?” tawar seorang wanita dengan baju yang begitu terbuka, seperti kurang bahan mendekat ke arah Alio yang tengah menyendiri.


 


“Tidak. Pergilah,” usirnya, dia mengibaskan tangannya dengan cepat. Dia sedang merasa tak ingin diganggu oleh siapapun.


 


“Bukankah Anda datang kemari untuk mencari hiburan, Mr? Kenapa Anda menolak untuk saya temani?” tanya wanita itu, tidak biasanya dia ditolak oleh para pria di Club ini.


 


“Aku sedang ingin menenangkan pikiranku. Pergilah,” usir Alio lagi, dia memang sedang tidak ingin diusik.


 


Wanita itu kembali mendapatkan penolakan dari pria di sampingnya, dia pun memutuskan untuk melenggang pergi dari tempat Alio berada.


 


Alio yang merasa tak tenang pun berniat untuk kembali ke Mansion, dia merasa tidak nyaman berada di tempat banyak orang, dia ingin menyendiri untuk menenangkan pikirannya yang sudah seperti benang kusut.


 


***


 


Sesampainya di Mansion, pria itu memarkirkan mobil pribadinya di depan Garasi, dia melihat seluruh penjaga masih berjaga di sebuah Pos penjaga di belakang pagar Mansion. Padahal, hari telah larut Malam.


 


Alio keluar dari dalam mobil dia bergegas masuk ke dalam untuk pergi ke ruangan gym untuk mengisi kekosongan malamnya. Dia selalu menyibukkan diri agar lupa dari masalah yang menimpahnya.


 


Peristiwa itu sangat menghancurkan dirinya hingga dia belum secara penuh mengiklashkan kepergian Keluarganya. Meskipun dia tahu bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Akan tetapi, kematian keluarganya sangat tidak bisa dia terima. Keluarga Cristian dihancurkan dalam pembunuhan berantai membuatnya menyalahkan dirinya sendiri. Dia gagal menjaga keluarganya dari kekejaman para musuh.


 


Mengapa semua terjadi begitu saja?


 


Suratan takdir macam apa?


 


“Alio,”


 


Ziko yang dari kejauhan menatap seorang pria tengah bergegas pun memanggilnya, dia ingin menyampaikan sesuatu pada Alio, bahwa Bella ingin berbicara empat mata bersamanya.


 


Alio menghentikan langkah kedua kakinya, dia menatap ke arah belakang, terlihat seorang pria tengah berdiri tegap di sana.


 


“Ada apa, Dad?”


 


“Kemarilah!”


 

__ADS_1


Pria itu menarik nafas panjang, kemudian mengembuskannya dengan kasar. Dia pun berjalan dengan rasa malas mendekat ke arah Ziko berada.


 


“Pergilah menemui wanita itu, dia ingin berbicara empat mata padamu,”


 


“Untuk apa?”


 


Alio menatap Ziko dengan heran. Mengapa ayahnya bisa tahu? Apakah laki-laki itu mencoba melepaskan Bella dari ruang bawah? Dan membawanya pergi?


 


“Pergilah menemuinya. Dan satu lagi, Nak. Jangan sesekali kau memukulnya ataupun melukai fisiknya. Yang terjadi di antara kalian adalah kesalahpahaman.” Ziko menepuk pundak Alio, dia mengingatkan Alio tentang kebenaran bahwa keduanya korban dari masa lalu.


 


Ziko pergi meninggalkan Alio dengan cepat, dia membiarkan Alio pergi menemui Bella di ruang bawah tanah. Bagaimanapun juga, keduanya adalah korban dari kejadian masa lalu, dengan begitu, Ziko hanya bisa menasihati satu sama lain agar berdamai demi kehidupan. Dia ingin putranya berdamai dengan kenyataan yang ada, tidak menyimpan sedikitpun dendam kepada Bella.


 


Begitupun dengan Bella, agar keduanya sama-sama hidup dalam ketenangan demi masa yang akan datang.


 


Alio menatap punggung pria itu sampai menghilang dari pandangannya. Kemudian dia pun memutuskan untuk menemui Bella di ruang bawah tanah untuk bicara empat mata, entah apa yang ingin dikatakan wanita itu padanya.


 


Penasaran.


 


Itulah yang ada dipikirannya saat ini, Alio turun ke bawah tanah untuk menemui Bella, terlihat beberapa penjaga sudah kelelahan dan memilih tidur di sekitar lorong-lorong menuju di mana tawanan berada.


 


“Lepaskan wanita itu!”


 


 


“Keluarlah dari dalam sana dan ikut denganku!”


 


Seperti sebuah cahaya bagi Bella bahwa laki-laki itu masih ingin berbicara padanya, benar dugaannya bahwa Ziko adalah laki-laki baik yang akan menyampaikan permintaanya pada lelaki di hadapannya saat ini.


 


Jujur, dia ingin berbicara mengenai permasalahan mereka, apakah selamanya mereka akan ada dalam inti masalah dari masa lalu? Mau sampai kapan mereka akan saling menyimpan dendam?


 


Sesuai janjinya bahwa Bella akan bertanggungjawab menebus kesalahannya telah merenggut sebagian jiwa yang dimiliki Alio.


 


Terlahir sebagai anak yang tak diinginkan membuatnya paham arti penderitaan yang sesungguhnya, karena dendam akan kematian ayah angkat yang membuatnya merasakan arti kehangatan sebuah keluarga membuat dia tidak terima akan hal itu sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk membalas rasa sakit yang sama kepada Alio Cristian yang sudah melenyapkan sang ayah dengan bom waktu.


 


Sialnya, dia salah sasaran.


 


Mengapa dia bisa terjebak disuasana yang sangat sulit seperti ini? Akankah masalah ini terus berlarut?


 


Bella mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangan, kemudian wanita itu membulatkan keyakinan bahwa dia bisa menyelesaikan masalah serumit ini. Setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Bukankah begitu?


 


Gadis itu keluar dari dalam jeruji besi, dia menatap Alio dengan sorot mata dalam. Dia melihat di dalam tatapan itu banyak penderitaan yang dirasakan oleh lelaki itu. Bella kembali merasa bersalah atas perbuatannya telah merenggut sebagian jiwa yang dimiliki Alio.

__ADS_1


 


Laki-laki itu seperti tak memiliki minat untuk melanjuti kehidupannya.


 


Alio berjalan lebih dulu untuk menuju sebuah ruangan khusus di ruang bawah tanah, dia akan berbicara empat mata dengan wanita itu. Entah apa yang akan dibicarakan oleh Bella, Alio tak tahu.


 


Akan tetapi, dia belum bisa mempercayai wanita itu untuk tidak melukainya. Alio berjaga-jaga. Di dalam saku celananya terdapat sebuah pisau kecil yang pernah diberikan oleh Dave untuknya.


 


“Apa yang ingin kau bicarakan?”


 


Alio menangkat suaranya, dia pun mendudukan bokongnya di sebuah kursi putar dalam ruang khusu yang kini di tempatnya berada, gadis itu berdiri di hadapannya.


 


Bella menatap laki-laki itu dengan tubuh yang sudah bergetar, entah harus memulainya dari mana. Dia pun bingung, tapi yang jelas dia harus segera menyelesaikannya.


 


“Maafkan aku, aku telah merenggut sebagian kebahagiaanmu,” ucap Bella lirih, dia pun menundukkan wajahnya tanpa menatap ke arah Alio.


 


“Maaf? Semudah itu kau berkata maaf?”


 


“A-aku tahu aku sangat bersalah atas kejadian itu, aku ingin menebus kesalahanku, kau tentu sudah tahu tentang kejadian perkara masa lalu, ‘kan? Aku ingin menebus kesalahanku,” terang Bella.


 


“Lalu? Apakah dengan maaf kau bisa mengembalikan nyawa yang sudah pergi atas kesalahanmu? Bisakah nyawa keluargaku balik lagi seperti sedia kala? Hah!” hardik Alio nada tinggi, emosi mulai menguasi dirinya.


 


Mendengar ucapan nada tinggi dari laki-laki itu membuat bulu kuduk Bella bergidik ngeri, dia takut bila laki-laki itu kembali menyakitinya lagi.


 


“A-aku minta ma-maaf,”


 


“Maafmu tak berguna! Kau tahu itu? Seribu kali kau berkata maaf tak akan sedikitpun mengembalikan nyawa keluargaku! Kau merampas kebahagiaanku, kau merampas separuh jiwaku, kau merampas segalanya dariku atas kesalahan ayahmu sendiri! Kau tahu betapa hinanya ayahmu itu hingga kau ingin membalaskan kematian yang seharusnya dia dapatkan?” hardik Alio tersulut emosi.


 


“Andaikan kau tahu betapa sakitnya aku saat kau mengakhiri hidup keluargaku. Andaikan kau merasakan hal yang sama, mungkin kau akan mengerti arti sakit yang sesungguhnya!” lanjut Alio kesal.


 


“Penderitaan? Andainya kau juga tahu bahwa aku adalah anak yang tidak diinginkan oleh orang tuaku, aku tidak merasakan kehangatan sebuah keluarga, hingga Abed mengasuhku, membesarkanku, mengajarkan aku banyak hal. Darinya, aku mendapatkan cinta dari seorang ayah. Apakah aku tidak merasa sakit ketika mendengar kabar bahwa ayahku dibunuh oleh seseorang bernama Alio Cristian dengan menggunakan bom waktu?” curhat Bella, dia pun menangis di hadapan Alio. Butiran bening keluar banyak dari kedua matanya, mengalir ke permukaan pipi.


 


Alio terdiam, dia hanya menatap dengan sorot mata tajam ke arah Bella, menyaksikan wanita itu menangis di hadapannya.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2