
Wedding.
Hari yang telah dinanti-nanti oleh kedua manusia yang kini tengah mabuk asmara, siapa lagi kalau bukan Dave—si Bos Mafia terkejam di AS dan Cerin—si karyawan di sebuah Cafe di AS.
Pernikahan bernuasa mewah dan elegan, tanpa dihadiri oleh rekan bisnis Dave, semua tamu hadir hanya rekan terdekatnya saja, tak banyak orang yang diundangnya, melainkan seluruh anak buah, dan para staf pengurus kantor cabangnya yang ada di Las Vegas.
Sumpah setia dan janji pernikahan telah diucapkan oleh kedua insan yang kini tengah mabuk asmara, sedari senyuman indah dari keduanya tak pernah luntur sedikitpun.
Dave mengecup kening Cerin penuh cinta, “Terima kasih, Cinta.”
Pria itu mengembangkan senyum bahagia di raut wajahnya, ia menggendong Cerin masuk ke dalam pelukannya. Dave membawa wanitanya menuju kamar pengantin, yang telah disiapkan oleh para pelayan mansion.
Pesta diadakan di halaman luas belakang mansion pribadi milik Dave.
Cerin tak hentinya menatap wajah tampan milik Dave, ketampanannya sungguh memikat hati yang tandus miliknya, jujur saja, Cerin tak pernah dekat dengan laki-laki manapun sejak kecil. Ia termasuk wanita penyendiri, tak suka keramaian.
Wanita itu mengalungkan tangannya di leher jenjang Dave, ia tersenyum di dalam gendongan Dave.
“Thank you so much, Dear.” lirihnya pelan, terdengar jelas di telinga Dave.
Dave hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan oleh wanitanya. Ia terus melangkahkan kedua kakinya menuju kamar pengantin yang telah disiapkan untuk mereka.
Sesampainya di kamar pengantin, Dave merebahkan tubuh Cerin di atas ranjang.
Suasana malam, menjadi begitu romantis dengan hiasan kelopak mawar merah di atas ranjang berbentuk tanda cinta. Dave mendekatkan wajahnya ke wajah Cerin hingga hanya berjarak beberapa centi saja. Nafas mereka tampak memburu satu sama lain, saling beradu pandang.
“Maukah kau hidup selamanya denganku, Cerin?” tawar Dave seraya mengeluarkan sebuah kalung berlian di balik saku jasnya.
“Tentu, Dave.” Cerin menjawab dengan rasa haru serta bahagia.
Kebahagiaan tiada taranya bagi mereka yang tengah merasakan asmara.
__ADS_1
Rasa lelah melanda, keduanya memilih untuk membersihkan diri, setelah itu hendak beristirahat, rasanya begitu melelahkan karena pesta seharian di mansion, sejak pagi sampai malam hari.
Dibalik rasa lelah, terdapat banyak rasa bahagia bagi mereka. Ini adalah momen terindah yang tak akan mungkin terjadi dua kali di dalam hidup.
Untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
***
Keesokan Harinya.
Pagi indah cerah mewarnai Bumi, cahaya mentari terik, begitu menghangatkan Bumi, cahaya teriknya menerobos masuk melalui tirai jendela kamar setiap ruangan, menusuk ke kelopak mata yang masih hendak tertutup. Terpaksa, seorang wanita membuka kelopak matanya.
Terlihat sedikit raut kesalnya di sana, hendak memarahi cahaya mentari terik mengganggu suasana tidurnya.
Ia menatap ke samping, terlihat wajah tampan pria itu mengembalikan senyumannya, pria itu sangat tampan, apalagi melihatnya tertidur pulas seperti itu, batin Cerin.
“Manisnya.” tanpa sadar ucapan itu keluar dari sudut bibirnya, ia menangkup wajah Dave dengan kedua tangannya, wanita itu menciumi wajah Dave dengan gemas.
Cerin menarikan jemari tangannya di permukaan wajah pria itu, entah apa yang kini ada di benaknya, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Dave. Pria itu tidak mengenakan bajunya, alias bertelanjang dada, terlihat perutnya kotak-kotak membuat Cerin tersenyum menatapnya.
“Sedang apa?”
Sontak kaget, Cerin menjauhkan jemari tangannya, ia tertangkap basah oleh suaminya saat sedang mengamati wajah pria itu.
Dave menaikkan alisnya menatap Cerin penuh senyuman, kali ini, ia memergoki istrinya sendiri tengah mengamati ketampanan dirinya.
“Sudah puas melihatnya, Sayang?” suara pria itu kembali terdengar, membuat kedua pipi Cerin memerah merona bak udang rebus menahan rasa malu.
Cerin tersenyum lebar, menampakkan barisan gigi rapat nan putih itu bagaikan kuda.
Dave menarik Cerin ke dalam pelukannya, Cerin kini berada di atas tubuhnya, Dave merapikan anak rambut Cerin dengan pelan. Pria itu menatap dengan dalam, lalu membungkam bibir Cerin perlahan-lahan.
__ADS_1
Awalnya Cerin sedikit terkejut, namun lama-kelamaan ia menjadi tersenyum sendiri.
Dave melumati bibir mungil wanitanya, menyesapnya perlahan, pertukaran saliva pun terjadi antara mereka.
“Morning kiss, Baby.” Dave melepaskan lumatannya, ia menciumi pipi Cerin penuh cinta.
Cerin mengembangkan senyumannya, pria yang awalnya ia kenal kejam, bisa seromantis ini pada dirinya, sebuah takdir terindah yang pernah ia miliki adalah Dave.
“Dave,” lirih Cerin.
“Kenapa?” singkat kata, pria itu memainkan anak rambut Cerin.
“Rasanya aku ingin bekerja, aku bosan jika terus-terusan berada di rumah,” ujarnya pelan, membuat Dave menghentikan kegiatannya.
“Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu bekerja, apa uang yang kuberikan padamu masih kurang, Cerin?” tanyanya dingin.
“Tapi, Dave—”
“Dengarkan apa yang aku katakan padamu, aku tidak ingin kau kenapa-kenapa dan sampai kelelahan, uang yang kupunya masih bisa membutuhkan semua biaya hidupmu sampai berapa keturunan sekalipun, apakah kau meragukan kekayaanku?” tanya Dave sedikit arogan.
Cerin menghela nafas berat, pria ini benar-benar arogan.
“Tapi kau bisa bekerja denganku, Baby. Tugasmu cukup di atas ranjang,” goda Dave.
“Di atas ranjang?” Cerin mengerutkan dahinya heran.
“Ya, tugasmu hanya untuk menggodaku, aku akan memberikanmu seluruh apa yang kupunya, bahkan organ tubuhku sekalipun akan aku berikan untukmu,” desisnya sombong.
“Dave, kau—”
Belum sempat marah, Dave membungkam bibir Cerin dengan bibirnya.
__ADS_1
Dengan sangat rakus pria itu menyesapnya hingga membuat Cerin kehabisan nafas, Cerin memukuli dada bidang Dave, saat nafasnya sudah hampir habis. Dave melepaskannya, nampak kedua nafas mereka memburu satu sama lain. Detak jantungnya seakan ingin lepas dari tempatnya.
“Pagi yang indah bersamamu, berjanjilah akan tetap terus bersamaku sampai kapanpun, apapun yang terjadi, kumohon jangan pernah pergi dariku.” Dave menciumi bibir Cerin, lalu mengembalikan posisi mereka, Cerin menjadi di bawah dan Dave berada di atas tubuh Cerin.